Reformasi 1998: Pergerakan Mahasiswa sebagai Tonggak Perubahan

Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi melakukan demonstrasi menuntut reformasi di Gedung MPR/DPR, Jakarta Pusat, pada 19 Mei 1998. (Sumber: Dokumentasi Peristiwa Reformasi 1998 oleh Relly Kusuma).

Apresiasi – 21 Mei 1998 merupakan hari yang menandai momentum ketika Soeharto, Presiden Republik Indonesia ke-2 yang menjabat selama 32 tahun, dilengserkan oleh gerakan rakyat. Kendati berbagai elemen masyarakat turun ke jalan, mahasiswa dalam mewujudkan terjadinya reformasi menjadi motor penggerak massa yang masif menyuarakan aspirasi perlawanan kepada pemerintah, meskipun pergerakan masih dicoba untuk diredupkan oleh pemangku kekuasaan pasca reformasi.

Ekonomi yang Kian Terkikis

Krisis moneter (ekonomi) menjadi pemicu awal  terjadinya reformasi 1998 yang ditandai dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Juli 1997. Sepanjang tahun 1997-1998, nilai rupiah melonjak dari Rp2.400 ke lebih dari Rp16.000 per dolar AS. Penyebabnya adalah utang luar negeri pemerintah Indonesia mencapai 109,3 miliar dolar AS atau 48 persen dari Gross Domestic Product (GDP). Akibat dari krisis tersebut, terjadi kenaikan harga bahan-bahan pokok serta pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai perusahaan akibat meningkatnya impor bahan baku. 

 

Percik Api Reformasi

Mei 1998 adalah bulan di mana banyaknya peristiwa pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang dilancarkan oleh pemerintah Orde Baru kepada rakyat Indonesia. Pelanggaran bermula pada 12 Mei 1998 ketika aparat menembak 4 mahasiswa Universitas Trisakti hingga tewas, yaitu Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Mulanya, demonstrasi mahasiswa Trisakti diawali dengan kegiatan mimbar bebas di area parkir kampus yang dilanjutkan dengan bergerak menuju gedung Majelis Perwakilan Rakyat/Dewan Perwakilan Rakyat (MPR/DPR), tetapi dihentikan sekitar 200 meter dari kampus. Penghentian tersebut dilakukan oleh Kepolisian Resor (Polres) Jakarta Barat hingga akhirnya berujung pada ketegangan dan baku tembak. Insiden tersebut mengakibatkan banyak korban jiwa yang mengalami luka fisik sehingga wilayah kampus Trisakti ramai hingga 13 Mei 1998.

Pada 13 Mei 1998, kerusuhan bermula di kampus Trisakti yang dilanjutkan ke arah Grogol, lalu terakhir di Pluit pada malam hari. 

Hari-hari dalam kurun waktu 13-15 Mei 1998 adalah sejarah. Banyak kejadian kelam yang terjadi, mulai dari penghilangan paksa, perampokan, penjarahan, pemerkosaan, serta pembunuhan ke kota lain di luar Jakarta. Berdasarkan data Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), pada Kerusuhan Mei 1998, sebanyak 1.250 orang meninggal akibat peristiwa tersebut.

Kemudian, pada 18 Mei 1998, mahasiswa mulai berdatangan ke gedung MPR/DPR dan berhasil menduduki gedung sepenuhnya pada 19 Mei 1998. Dilanjutkan pada 20 Mei 1998, terdapat isu long march untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional oleh mahasiswa dari MPR/DPR ke kawasan Monumen Nasional (Monas), tetapi akses jalan diblokade oleh aparat sehingga menyebabkan aksi tidak terlaksana. 

Adapun tuntutan atau agenda reformasi yang dibawakan oleh mahasiswa pada saat itu memuat 6 hal, yakni:

  1. adili Soeharto dan kroni-kroninya;
  2. Tegakkan supremasi hukum;
  3. berantas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN);
  4. hapus dwifungsi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI);
  5. pemberian otonomi daerah;
  6. amandemen Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Akhirnya, pada 21 Mei 1998 pagi, Soeharto menyatakan pengunduran diri sebagai Presiden Republik Indonesia di Istana Merdeka dan langsung digantikan oleh Bacharuddin Jusuf Habibie sebagai wakil presiden menggantikan Soeharto sebagai presiden baru. 

 

Sejarah Pergerakan Mahasiswa

Jauh sebelum terjadi reformasi, pendidikan rakyat Indonesia di bawah jajahan Belanda masih bersifat diskriminatif karena hanya kalangan bangsawan dan anak-anak Belanda yang dengan mudah memperoleh akses pendidikan. Sementara itu, banyak anak pribumi, terutama dari keluarga kurang mampu, jarang mendapat kesempatan untuk bersekolah. Melihat hal tersebut, dr. Wahidin Sudirohusodo, sebagai salah satu tokoh penggagas ide Budi Utomo, bercita-cita agar pendidikan dapat diakses dengan mudah bagi kalangan pribumi yang berprestasi tetapi terkendala biaya. Lantas, dr.Wahidin pergi ke suatu sekolah kedokteran di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) pada tahun 1907 dan bertukar gagasan dengan para mahasiswa di sana. Bersama 8 pelajar STOVIA lainnya yaitu Soetomo, Moehammad Saleh, Mohammad Soelaiman, Goenawan Mangoenkoesoemo, Gondo Soewarno, Raden Angka Prodjosoedirdjo, Raden Mas Goembrek, dan Soeradji Tirtonegoro, Budi Utomo lahir sebagai organisasi pergerakan nasional pertama pada 20 Mei 1908.

Setelah itu, Haji Samanhudi mempelopori hadirnya Sarekat Dagang Islam (SDI) yang berdiri pada 16 Oktober 1905 dengan tujuan untuk menjadi wadah bagi pedagang-pedagang batik Muslim agar dapat bersaing dengan pedagang Tionghoa yang memonopoli bahan-bahan batik. Dengan basis agama Islam sebagai pengikat umat, SDI menjadi organisasi yang berfokus dalam menaikkan derajat pedagang pribumi Islam yang berlandaskan nasionalisme.  Kemudian pada 1912, SDI bertransformasi menjadi Sarekat Islam (SI) guna memperluas tujuan dan sasaran organisasi yang awalnya hanya  sebatas di bidang ekonomi dan keagamaan, menjadi lebih luas lagi di bidang politik, sosial, kultural dan keagamaan dengan Raden Mas Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto sebagai pemimpin baru. Akan tetapi, perpecahan internal SI menyebabkan organisasi ini terbelah menjadi SI Merah yang berideologi komunisme di bawah Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan pimpinan Semaun dan Darsono, serta SI Putih yang berhaluan Islam moderat-nasionalis di bawah kepemimpinan HOS Tjokroaminoto.

Lebih lanjut lagi, pada September 1926 didirikan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) yang dipelopori secara kolektif oleh pemuda pelajar dari perguruan tinggi Hindia Belanda yakni Jong Ambon, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Islamieten Bond, Jong Java, Jong Java Sumatranen Bond, Pemuda Kaum Betawi, dan sebagainya dengan tujuan mewujudkan persatuan di kalangan para pemuda. 

Setelah didirikannya beberapa organisasi tersebut, terbitlah kemauan dari para pemuda untuk bersatu melawan kolonialisme Belanda, dengan dilaksanakanlah Kongres Pemuda I yang berlangsung mulai dari 30 April hingga 2 Mei 1928. Namun, Kongres Pemuda I belum membuahkan hasil sehingga diadakan kembali Kongres Pemuda II. Pada Kongres Pemuda II tanggal 27-28 Oktober 1928 di Jakarta, akhirnya melahirkan Sumpah Pemuda 1928 yang menetapkan bahwasanya pemuda-pemudi Indonesia; mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Memasuki masa kemerdekaan, penjajahan di atas Indonesia belum berhenti dengan peralihan pendudukan dari Belanda ke Jepang pada tahun 1942. Ketika Jepang kalah pada Perang Dunia II, Indonesia mulai mempersiapkan untuk mendeklarasikan kemerdekaannya dengan membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Dalam masa persiapan kemerdekaan ini, terdapat perbedaan pandangan antara golongan tua dan golongan muda, di mana golongan tua mengutamakan dialog, sementara golongan muda menuntut kemerdekaan yang revolusioner. Menanggapi hal tersebut, akhirnya terjadi penculikan Sukarno-Hatta oleh golongan muda di Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945. Pada malam harinya, tepat pada tanggal 16 Agustus, Sukarno, Hatta, dan Ahmad Subardjo merumuskan teks proklamasi di rumah Laksamana Maeda di Jakarta. Lalu tepat keesokan hari pada 17 Agustus 1945, kemerdekaan diproklamasikan oleh Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta didampingi oleh Hatta.

Pasca-kemerdekaan, muncul organisasi mahasiswa eksternal yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada 1947 yang disusul dengan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) pada tahun yang sama, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) pada 1950, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) pada 1954, Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) pada 1956, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada 1960, serta Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang berdiri pada tahun 1964. Selain organisasi eksternal, di dalam kampus juga terbentuk organisasi intra kampus yakni Dewan Mahasiswa (Dema) pada tahun 1950.

Ketidakstabilan situasi sosial, ekonomi, dan politik pada masa Orde Lama membuat para mahasiswa banyak terlibat dalam aksi demonstrasi untuk menuntut perubahan, puncaknya adalah pada tahun 1966. Beberapa bulan sebelum 1966 tepatnya pada 30 September 1965, terjadinya Gerakan 30 September (G30S) 1965 dengan adanya dugaan keterlibatan PKI dalam menewaskan perwira tinggi Tentara Nasional Angkatan Darat (TNI AD), yaitu Jenderal Anumerta Ahmad Yani, Letjen Anumerta R. Suprapto, Letjen Anumerta M.T. Haryono. Letjen Anumerta S. Parman, Mayjen Anumerta D.I. Panjaitan, Mayjen Anumerta Sutoyo Siswomiharjo, dan Kapten Anumerta Pierre Tendean. Akibat peristiwa tersebut, mahasiswa sebagai salah satu elemen masyarakat menyerukan pembubaran PKI melalui Tritura oleh Angkatan 66 pada 10 Januari 1966 dengan tiga tuntutan:

  1. pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI);
  2. perombakan kabinet Dwikora;
  3. turunkan harga (menurunkan harga kebutuhan pokok dan perbaikan ekonomi rakyat).

Merespons gejolak unjuk rasa yang tinggi serta ketidakstabilannya negara, melalui Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) pada 11 Maret 1966, kewenangan memimpin negara diambil alih oleh Soeharto yang saat itu menjabat sebagai Mayor Jenderal TNI AD. Lalu pada tahun yang sama, dikeluarkan TAP MPR No. XXXIII/MPRS/1967 yang menurunkan Sukarno dari jabatannya sebagai presiden dan resmi menutup masa kepemimpinan Orde Lama.

Pada masa kepemimpinan Orde Baru oleh Soeharto, gerakan mahasiswa ditekan dan direpresi oleh pemerintah. Peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974 (Peristiwa Malari) adalah salah satu dari gerakan demonstrasi terbesar mahasiswa yang berawal dari rencana kedatangan Perdana Menteri Jepang, Kakuei Tanaka, ke Indonesia karena adanya isu investasi asing oleh Jepang. Adapun tuntutan yang diajukan oleh mahasiswa diantaranya adalah ketidaksetaraan penanaman modal asing yang menguntungkan kelompok tertentu, pemberantasan korupsi, dan tingginya harga kebutuhan pokok, serta tuntutan terhadap pembubaran Asisten Penasehat Pribadi (Aspri) Presiden Soeharto. Tak hanya berhenti di situ, gerakan berlanjut pada 28 Oktober 1977 ketika dilakukan ikrar mahasiswa di Institut Teknologi Bandung (ITB) oleh Dema se-Indonesia yang menuntut penurunan Presiden Soeharto.

Pemerintah Orde Baru yang menganggap bahwa gerakan mahasiswa terlalu politis mengeluarkan Surat Keterangan (SK) No. 02/Kopkam/I/1978 yang berisikan pembubaran Dema pada 21 Januari 1998. Tak lama, pada April 1978, penekanan semakin terlihat dengan terbitnya SK No.0156/U/1978 tentang Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) disusul Instruksi Dirjen Pendidikan Tinggi No. 002/DJ/Inst/1978 dan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 037/U/1979 tentang Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK) oleh Dr. Daoed Joesoef sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan tujuan pelarangan aktivitas politik mahasiswa. Dengan demikian, pergerakan mahasiswa secara praktis dibungkam dan dibatasi dalam hal diskusi politik serta penyampaian kritik kepada pemerintah.

Pasca pemberlakuan NKK/BKK yang membatasi gerak mahasiswa, pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an, muncul bentuk baru organisasi mahasiswa seperti Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang menggantikan Dema dengan ruang gerak yang terbatas. Kondisi ini memaksa mahasiswa untuk menunggu momentum yang tepat untuk menyuarakan kritik secara lebih luas. 

Krisis ekonomi 1997-1998 menjadi titik balik penting bagi seluruh masyarakat Indonesia akibat dampak dari krisis moneter ketika anjloknya nilai rupiah, melonjaknya inflasi, dan meningkatnya pengangguran menggerogoti legitimasi pemerintahan Orde Baru di mata rakyat.

Dalam situasi krisis ekonomi dan politik, mahasiswa yang sebelumnya dibatasi ruang geraknya kembali turun ke jalan dalam jumlah besar, menuntut reformasi, penghentian KKN, dan perubahan sistem kekuasaan. Demonstrasi makin meluas dan melibatkan berbagai elemen masyarakat, sehingga tekanan terhadap pemerintah Soeharto semakin tak terbendung. Puncaknya pada Mei 1998, kombinasi gerakan mahasiswa, tekanan politik, dan situasi sosial yang memanas memaksa Soeharto mengundurkan diri setelah 32 tahun berkuasa.

Presiden Soeharto tengah membacakan pidato pengunduran diri di Istana Merdeka, Jakarta pada 21 Mei 1998. (Sumber: Koran Sulindo).

Sekecil-Kecilnya Perlawanan, Tetap Perlawanan 

Pergerakan mahasiswa dalam sejarahnya selalu punya peran besar dalam perubahan Indonesia, mulai dari masa penjajahan sampai lahirnya Reformasi 1998 yang menjatuhkan rezim Orde Baru. Mahasiswa menjadi motor penggerak suara rakyat untuk melawan ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan. Namun hingga sekarang, gerakan kolektif mahasiswa masih sering dibungkam melalui intimidasi serta kriminalisasi. Banyak tahanan politik hasil penyuaraan aspirasi diproses secara tidak adil hingga diputus bersalah oleh pengadilan. Oleh karena itu, api perlawanan harus terus-menerus digerakkan agar kekuasaan tidak dijalankan secara asal-asalan.  

Selamat Hari Reformasi Nasional!

“Hanya ada 2 pilihan: menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk menjadi manusia merdeka.” — Soe Hok Gie.

 

Penulis : Fathiyyah Kusuma Wirastri

Editor: Salsa Puspita, Andaru Surya

Referensi:

Kompaspedia. (2023). Sejarah Peristiwa Mei 1998: Titik Nol Reformasi Indonesia. Kompas Media Nusantara. Diakses dari https://kompaspedia.kompas.id/baca/paparan-topik/sejarah-peristiwa-mei-1998-titik-nol-reformasi-indonesia

Kompas.com. (2022). Perhimpunan Pelajar‑Pelajar Indonesia (PPPI), pelopor Kongres Pemuda II. Kompas Digital Media. Diakses dari https://www.kompas.com/stori/read/2022/10/28/163000979/perhimpunan-pelajar-pelajar-indonesia-pppi-pelopor-kongres-pemuda-ii 

UIN Sunan Kalijaga. Fakultas Ushuluddin dan Aqidah. Diakses dari https://eujian-fua.uinssc.ac.id/repository-skripsi/35/view

CNN Indonesia. (2021). Sejarah Peristiwa Malari: Malapetaka di Tahun 1974. PT Transmedia. Diakses dari https://www.cnnindonesia.com/edukasi/20210628163931-574-660422/sejarah-peristiwa-malari-malapetaka-di-tahun-1974/amp 

Kompaspedia. (2026). Kronologi Kerusuhan Mei 1998. Kompas Media Nusantara. Diakses dari https://kompaspedia.kompas.id/baca/infografik/poster/kronologi-kerusuhan-mei-1998 

BBC News Indonesia. Diakses dari https://www.bbc.com/indonesia/articles 

Tirto.id. “Kronologi Peristiwa Reformasi 1998 hingga Lengsernya Soeharto.” Diakses dari https://tirto.id/kronologi-peristiwa-reformasi-1998-hingga-lengsernya-soeharto-gJes

Scroll to Top