Fear Street: Trilogi Witchcraft Berdarah ala Stranger Things

Poster “Fear Street”, trilogi film thriller-horor produksi Netflix AS. (Sumber: Netflix)

Film – Trilogi horor-thriller produksi Netflix, “Fear Street” baru saja menuntaskan kutukan berdarah dari pembunuh-pembunuh berantainya beberapa pekan lalu, Jumat (16/7). Diangkat dari buku serial horor remaja karya penulis Amerika R.L. Stine, trilogi garapan Leigh Janiak ini berhasil membawa visual cerita dengan tingkat kesadisan brutal yang sama sekali tidak main-main.

Cerita dibuka pada tahun 1994, berlatar di Shadyside, kota yang kerap dijuluki sebagai The Killer Capital of United States, ketika seorang pegawai mal, Ryan Torres (diperankan oleh David W. Thompson) secara misterius berubah menjadi seorang pembunuh berantai. Aksi mematikan Torres berpuncak pada pembantaian massal seluruh pegawai di gedung tersebut, hingga ia berhasil dilumpuhkan dengan tembakan di tempurung kepalanya.

Hampir seluruh warga Shadyside menggila atas aksi Torres yang diasumsikan sebagai kutukan gila dari praktik ilmu sihir Sarah Fier, wanita yang pernah digantung di kota berabad-abad lalu, kecuali Deena Johnson (Kiana Madeira) yang menganggap kisah Fier hanyalah mitos omong kosong Shadysiders.

Hingga sebuah insiden membuat kekasih Deena, Samantha Frasher (Olivia Scott Welch) menjadi target mayat para pembunuh berantai Shadyside dari masa lalu yang bangkit untuk mengincar jiwa Sam. Usaha untuk menyelamatkan Sam mengantarkan Deena untuk mencari jawaban dari pola tragedi pembunuhan sadis yang terus berulang di Shadyside. Kembali pada aksi berdarah di tahun 1978 hingga origin di tahun 1666, ia menemukan kunci untuk mengungkap motif kekuatan Iblis yang dibawa Sarah Fier selama berabad-abad di kota terkutuk itu.

Prolog kejar-kejaran Torres dan flow misteri “Fear Street” digarap dengan ketegangan yang sangat epik. Sedikit mengingatkan kita dengan latar fiksi dan formula survival ala serial Stranger Things (2017), tetapi dengan vibes yang lebih sadis dan berdarah-darah. Eksekusi visual setiap pembunuhan yang gamblang tidak tanggung-tanggung tentu memberikan kepuasan ‘ngilu’ tersendiri bagi penggemar thriller. Jadi, jangan kaget kalau kamu bakal menemukan kepala digilas, dipenggal, dibacok hingga tangan yang terputus dalam adegan-adegan yang divisualisasikan Janiak dalam film trilogi ini, sangat mirip dengan penggarapan Ari Aster dalam “Hereditary” (2018) dan “Midsommar” (2019).

 

Salah satu yang menjadi perhatian adalah keunikan cerita yang terus menggunakan formula throwback. Dimulai dari insiden Torres dan Deena di tahun 1994 dalam Part 1, kemudian mundur 16 tahun ke belakang di tahun 1978 dalam Part 2, hingga pengungkapan hidup Sarah Fier, sosok sentral yang menjadi sentimen keresahan sepanjang film di Part 3 sebagai episode pamungkas. Setiap part dieksekusi Jeniak dengan set visual, tone, dan treatment yang berbeda, tentunya menyesuaikan kebudayaan populer yang diangkat pada zamannya, seperti kepercayaan pada ilmu sihir yang mendatangkan kepuasan materialistis.

Meskipun begitu, twist yang dibangun dalam Fear Street sepertinya cukup mudah untuk dipecahkan sebelum mencapai klimaks puncaknya. Penggunaan colourful tone di pertarungan akhir Fear Street mungkin akan sedikit mengingatkan kita dengan penggarapan “The Battle of Starcourt”, episode pamungkas dari “Stranger Things Season 3” oleh The Duffer Brothers dengan ending yang sedikit klise, tidak sempurna, tetapi cukup memuaskan.

Di samping kekurangan yang tidak terlalu mengganggu, “Fear Street” bisa dikatakan sebagai trilogi thriller horor misteri dengan formula ketegangan seru yang sangat cocok ditonton di akhir pekan. Namun, perlu diingat bahwa eksekusi visual yang brutal membuat film ini tidak cocok ditonton oleh anak di bawah umur. Pilihlah tontonanmu dengan bijak, guys!

Penulis: Christian Noven

Editor: Aslamatur Rizqiyah, Dyah Satiti

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *