
Apresiasi — Terdapat sesuatu yang aneh nan ajaib dalam puisi. Ia tak memberi jawaban yang mudah, tak menjelaskan dunia bagai kamus peta, tetapi justru itulah esensinya. Puisi bagai bahasa jiwa yang hadir dalam doa paling sunyi, dalam surat cinta yang tak terkirim, dalam lantunan ibu yang menidurkan anaknya, serta dalam kebisingan yang tak lagi tertahan. Puisi, hadir bukan ‘tuk jelaskan hidup, melainkan mengajak kita merasakannya pada kedalaman yang tak mampu dicapai oleh bahasa biasa.
Di Hari Puisi Nasional, mari kita tak sekadar merayakan tanggal di kalender, berhentilah sejenak seperti yang selalu diinginkan puisi, untuk mendengarkan para penyair besar sepanjang zaman mengenai suatu hal yang paling kita kenal sekaligus paling sukar kita pahami, yakni hidup itu sendiri.
***
William Shakespeare: Waktu dan Kefanaan
William Shakespeare tak hanya dramawan yang kita kenal, tetapi ia juga seorang penyair yang menghayati kesementaraan manusia dengan kepekaan. Soneta 73, momen ketika kita mulai menyadari bahwa waktu terus berjalan tanpa dapat kita hentikan.
William Shakespeare
Sonnet 73: That Time of Year thou Mayest in Me Behold
That time of year thou mayst in me behold
When yellow leaves, or none, or few, do hang
Upon those boughs which shake against the cold,
Bare ruined choirs, where late the sweet birds sang.
In me thou see’st the twilight of such day
As after sunset fadeth in the west,
Which by and by black night doth take away,
Death’s second self, that seals up all in rest.
In me thou see’st the glowing of such fire
That on the ashes of his youth doth lie,
As the deathbed whereon it must expire,
Consumed with that which it was nourished by.
This thou perceiv’st, which makes thy love more strong,
To love that well which thou must leave ere long.
Shakespeare membahas musim gugur, senja, dan bara api yang perlahan-lahan padam. Tiga gambaran yang menunjuk pada satu realitas, bahwasanya segala sesuatu akan berakhir. Baris akhirlah utamanya. Alih-alih berakhir pada kesedihan, soneta ini justru mekar menjadi seruan untuk mencintai lebih sungguh, sebab kita tahu semua ini ‘kan pergi. Dari soneta ini, kita memahami bagaimana puisi tak sekadar pernyataan biasa. Ia mengubah kesadaran akan kematian menjadi alasan ‘tuk mencintai lebih dalam. Kefanaan menciptakan sesuatu yang lebih berharga.
***
Jalaluddin Rumi: Kerinduan sebagai Jalan Pulang
Dari benua dan zaman berbeda, Jalaluddin Rumi, sang sufi dari Persia membuka salah satu karya buku puisi yang monumental. Masnavi, dengan gambaran yang menggugah, seruling buluh yang menangis sebab terpisah dari asal-usulnya. Pembuka puisi dikenal sebagai Ney, salah satu meditasi yang dalam tentang kerinduan dan makna hidup.
Jalaluddin Rumi
Ney: The Reed Flute
Listen to this reed how it complains,
Telling takes of separation’s pains:
“Ever since I was cut from the reed bed,
Men and women have wept at what I’ve said.
I want a heart that’s torn apart with grief,
So I can tell it of love’s longing — brief
Is any explanation, yet the ear
Must be attuned to what it longs to hear.
The fire of love is what I am, not air —
Let those without this fire know only despair.
The fire of love is what makes the lover bright,
The burning of love is what sets the world alight.”
Rumi memakai seruling buluh bagai metafora jiwa manusia. Kita semua, kata Rumi, bagai buluh yang dipotong dari rumpunnya, terpisah dari suatu hal yang lebih besar, utuh, dan sejati. Kerinduan tak selalu menyakitkan, sering kali hadir dengan samar-samar, seperti perasaan bahwasanya ada hal yang hilang tanpa tahu apa sebabnya. Kendati demikian, Rumi tak mengajak kita untuk melarikan diri dari kerinduan, justru, kerinduan itu sendirilah nyanyiannya. Api yang membakar merupakan api yang menerangi. Maka di sinilah, puisi bertemu dengan nilai spiritual yang mendalam, bahwa luka dan keindahan dapat hadir dalam satu tarikan nafas yang sama.
***
Sapardi Djoko Damono: Cinta Tak Perlu Kata-Kata Besar
Kini kita pulang ke tanah sendiri. Sapardi Djoko Damono merupakan nama yang tak perlu banyak perkenalan bagi siapa pun yang pernah jatuh cinta. Dalam kesederhanaan, Sapardi menangkap hal-hal kecil seperti hujan, bayangan, angin lalu menjadikannya berbicara mengenai hal yang besar. Puisi yang kita kenal ini, Aku Ingin, merupakan bukti bahwa kedalaman tak selalu butuh kompleksitas.
Sapardi Djoko Damono
Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
Dua bait, enam baris, tetapi di dalamnya penuh akan cinta yang lengkap hingga terasa seperti seluruh hidup yang dipadatkan dalam satu hembusan baca. Sapardi berbicara mengenai cinta yang tak perlu diucapkan, layaknya kayu yang tak pernah sempat berkata pada api bahwa ia rela menjadi abu, dan ia tetap terbakar. Bagai awan yang tak sempat berisik kepada hujan bahwa ia rela ‘tuk lenyap, tetapi ia tetap turun. Ada keikhlasan yang menyentuh, sebuah pengingat bahwasanya hal-hal paling bermakna dalam hidup sering kali tak diumumkan, mereka hanya terjadi dengan tenang dan penuh, tanpa perlu perayaan.
***
Taufiq Ismail: Suara yang Berani Berteriak
Jika Sapardi berbisik, maka Taufiq Ismail berteriak. Walau teriakannya lahir dari cinta yang sama dalamnya. Taufiq dikenal sebagai penyair yang tak takut membenturkan puisi dengan realitas sosial dan politik. Puisinya lah, jembatan antara keindahan bahasa dan tanggung jawab manusia terhadap sesama. Dengan Puisi, Taufiq merumuskan keyakinannya tentang mengapa sastra, dan khususnya puisi, tidak sekadar menjadi hiasan, melainkan kebutuhan jiwa yang mendasar.
Taufiq Ismail
Dengan Puisi, Aku
Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbatas cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian yang akan datang
Dengan puisi aku mengutuk
Napas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya
Puisinya merupakan manifesto tentang apa arti hidup dengan penuh. Bernyanyi, bercinta, mengenang, menangis, mengutuk, berdoa, semua dimensi kemanusiaan hadir, dan semuanya ia nyatakan dengan puisi. Puisi tak sekadar satu sudut dari hidup, puisi adalah seluruh cakupan itu sendiri, dan yang paling menggugah adalah kontras antara kelembutan dan ketegasan, dari bercinta hingga mengutuk. Taufiq tidak mengajak kita untuk melarikan diri dari dunia yang keras. Ia justru meminta kita menghadapinya, dengan puisi sebagai bekalnya.
***
Empat Suara, Satu Kebenaran tentang Kita
Meski berasal dari latar, waktu, bahasa, keyakinan, dan konteks sosial yang berbeda, mereka berbicara tentang hal yang sama: bagaimana manusia merespons keterbatasan hidupnya, hingga di situlah manusia menemukan makna.
Shakespeare mengajarkan bahwa kesadaran akan kefanaan adalah sumber cinta yang murni. Rumi mengajarkan bahwa kerinduan bukanlah kelemahan, melainkan api yang menerangi jalan pulang. Sapardi mengajarkan bahwa keikhlasan yang diam sering kali lebih dalam dari kata yang paling lantang. Taufiq mengajarkan bahwa puisi adalah cara paling utuh untuk memeluk seluruh dimensi hidup. Bersama, keempat suara membentuk gambaran manusia yang holistik: makhluk yang fana namun mencinta, yang rindu tetapi menemukan makna dalam kerinduannya, yang kadang diam tetapi menyimpan lautan, yang marah namun tetap berdoa. Itulah kita, dan puisi merupakan cermin yang jujur untuk melihat siapa kita. Dan cermin itu, hari ini, kita rayakan bersama.
Hari Puisi Nasional tak sekadar peringatan ‘tuk para sastrawan atau mereka yang menghabiskan waktu di antara buku dan kertas. Ia adalah hari bagi kita semua, sebab kita pernah merasa sesuatu yang tak bisa dijelaskan oleh kata biasa, dan dari situlah puisi lahir. Merayakan hari ini berarti merayakan kejujuran, bahwasanya kita merupakan manusia yang tak selalu kuat, tahu jalan, dan selalu cukup berani. Akan tetapi, selalu punya hati yang ingin dimengerti, dan puisi hadir ‘tuk itu, bahkan ketika kita tak menyadarinya.
Selamat Hari Puisi Nasional. Semoga puisi terus hidup, tak hanya di halaman buku, tetapi di dalam cara kita mencintai, berduka, bertahan, dan memaknai setiap hari yang diberikan pada kita.
Penulis: Shofiya Nabila Sobari
Editor: Salsa Puspita, Andaru Surya
Referensi:
Poetry Foundation. (n.d.). Sonnet 73: That time of year thou mayst in me behold – William Shakespeare. Diakses pada 16 April 2026, dari https://www.poetryfoundation.org/poems/45099/sonnet-73-that-time-of-year-thou-mayst-in-me-behold
Goodreads. (n.d.). Rumi quotes: “Listen to the reed, how it tells a tale, complaining”. Diakses pada 16 April 2026, dari https://www.goodreads.com/quotes/9264449-listen-to-the-reed-how-it-tells-a-tale-complaining
Pendidikan Indonesia – Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya. (n.d.). Sapardi Djoko Damono. Diakses pada 16 April 2026, dari https://pendidikanindonesia-fib.ub.ac.id/?p=1148&lang=id
Sepenuhnya. (2025, Januari). Puisi “Dengan Puisi, Aku” karya Taufiq Ismail. Diakses pada 16 April 2026, dari https://www.sepenuhnya.com/2025/01/puisi-dengan-puisi-aku-karya-taufiq-ismail.html



