Potret Semenanjung Iberian di Malam Hari (Sumber: NASA Image (8/2014)
Apresiasi – Masyarakat dunia memperingati Hari Bumi setiap tanggal 22 April. Tradisi perayaan ini baru dilakukan sejak 54 tahun yang lalu, tidak sampai 1% dari usia planet Bumi. Hadirnya Hari Bumi ini ditujukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dunia dengan kondisi planet yang mereka pijak.
Tahun ke tahun, abad ke abad, Bumi terus dihadapkan dengan berbagai polemik yang mengganggu kelestarian hidupnya. Gas rumah kaca, krisis iklim, biota laut yang hidup bersama sampah, pegunungan limbah, menipisnya tempat resapan air hujan, bumi yang kian gundul, serta larutnya bongkahan es dengan samudera secara beramai-ramai adalah beberapa problematika besar yang harus dituntaskan umat manusia dalam misi menjaga Bumi.
Dari sekian banyak krisis lingkungan yang menimpa, krisis luar angkasa menjadi isu yang perlu diberi sorotan serius.
Ratusan juta tahun yang lalu, Bumi hanya memiliki satu satelit yang terpikat dengan gravitasi miliknya sehingga terus mengikuti Bumi mengorbit pada Matahari, masyarakat Indonesia menamainya Bulan.
Ratusan tahun kemudian, mengutip dari laporan Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Urusan Luar Angkasa (UNOOSA), per April 2023 jumlah satelit yang mengerumuni Bumi sebanyak 10.300 buah dan terus bertambah tiap tahunnya.
Tidak seperti Bulan yang memiliki ketertarikan alami, 10.300 satelit buatan ini hadir memeriahkan luar angkasa untuk memenuhi keberlangsungan hidup manusia. Pemancar jaringan komunikasi, navigasi pelayaran dan penerbangan, pemetaan wilayah, serta prediksi cuaca dan iklim menjadi beberapa alasan mengudaranya satelit-satelit buatan yang mengorbit pada planet hijau umat manusia.
Di antara 10.300 satelit yang diterbangkan, sekitar 7.800 satelit berstatus sebagai satelit aktif dan 2.500 satelit lainnya tidak aktif. Pada dasarnya, ketika satelit buatan resmi diluncurkan dan mengudara, satelit-satelit tersebut telah ditentukan batas masa operasinya dengan intensitas bahan bakar yang disesuaikan.
Satelit yang sudah memasuki akhir masa operasi akan menuju tempat pembuangan. Mengutip dari situs resmi National Aeronautics and Space Administration (NASA) dalam reportase Detik (8/2018), terdapat dua pilihan bagi satelit yang tidak aktif untuk dimakamkan berdasarkan ketinggian satelit tersebut.
Bagi satelit dengan ketinggian rendah, teknisi akan menggunakan sisa bahan bakar untuk memperlambat gerak orbit dari satelit. Hal ini dilakukan agar ketika satelit kehabisan bahan bakar dan berhenti mengorbit, satelit akan jatuh dan terbakar di lapisan atmosfer Bumi. Namun, pada banyak kasus, proses pembakaran satelit melalui atmosfer justru menghasilkan residu yang menambah populasi sampah luar angkasa.
Pilihan kedua, bagi satelit dengan ketinggian tinggi adalah mengirim satelit lebih jauh dari Bumi. Pilihan ini lebih banyak ditempuh atas pertimbangan efisiensi bahan bakar. Akibat dari banyaknya satelit tidak aktif yang dihempas lebih jauh dari orbit satelit-satelit aktif, area pemakaman satelit yang membentuk cincin tercipta sejauh 36 ribu kilometer dari Bumi.
Banyaknya satelit buatan ini memperparah dua masalah lingkungan antariksa, yaitu polusi cahaya dan sampah luar angkasa.
Polusi cahaya menjadi masalah lingkungan akibat dampaknya yang mengganggu ekosistem. Polusi cahaya dapat mengubah migrasi, perilaku, dan pola makan hewan serta mengganggu fotosintesis dan proses pertumbuhan tumbuhan. Tidak hanya bagi lingkungan, dilansir dalam VOA Indonesia (21/3/2023), para astronom memperingatkan bahaya polusi cahaya yang dapat menghalangi pengamatan benda langit pada malam hari.
Adapun sampah luar angkasa terdiri dari satelit tidak aktif serta residu puing-puing dari roket maupun satelit. Sampah-sampah tersebut dapat mengancam keberlangsungan material penting di luar angkasa seperti satelit aktif jika sampah berada di orbit aktif. Sampah luar angkasa tidak hanya menjadi masalah bagi lingkungan antariksa Bumi, tetapi juga menjadi ancaman bagi keselamatan masyarakat Bumi jika jatuh ke Bumi.
Indonesia sempat menjadi tempat mendaratnya sampah luar angkasa seberat 50 ton di Dusun Pengadang, Desa Pengadang, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat pada Juli 2022. Melansir dari Kompas, sampah tersebut rupanya merupakan bekas peluncuran roket CZ5B milik Stasiun Antariksa China. Hal ini jelas dapat membahayakan manusia apabila sampah jatuh di pemukiman.
Upaya menangani isu polusi cahaya serta sampah luar angkasa dari permasalahan satelit terus disinergikan. Regulasi ketat soal peluncuran satelit, pengelolaan pembuangan, serta pencegahan kepadatan pada orbit dapat diberlakukan oleh lembaga antariksa internasional yang berwenang sebagai langkah penanganan.
Di sisi lain, ilmuwan dapat melakukan kolaborasi dan inovasi dalam menangani isu ini dengan merancang kemampuan deorbit atau memasuki atmosfer Bumi kembali pada masa operasional dengan aman pada satelit. Selain itu, komponen material satelit yang mampu mengurangi pantulan cahaya dengan menggunakan lapisan yang lebih gelap dapat menjadi langkah tambahan untuk mengatasi polusi cahaya yang disebabkan oleh satelit, seperti yang diberlakukan pada satelit DarkSat dan VisorSat.
Perayaan sesungguhnya dari Hari Bumi Sedunia adalah kesungguhan menjaga kelangsungan hidup planet Bumi. Sebagai planet yang kita huni, Bumi memberikan kontribusi tidak ternilai bagi umat manusia. Keramaian populasi yang diidap Bumi, baik di permukaan maupun di antariksa, sudah seharusnya menjadi teguran agar manusia lebih berhati-hati dalam mengambil langkah sehingga tidak memantik datangnya bencana di kemudian hari.
Penulis: Nabiih Nashiirah Putri
Editor: Ayu Nisa’Usholihah, Hesti Dwi Arini
Referensi
Koller, J., Thompson, R., & Riesbeck, L. (2020). Light Pollution from Satellites. Aerospace: Center for Space Policy and Strategy.
Kristo, F. (2018, Agustus 4). Bagaimana Nasib Satelit yang Sudah ‘Tewas’ di Angkasa? Retrieved from Detik iNet: https://inet.detik.com/telecommunication/d-4149786/bagaimana-nasib-satelit-yang-sudah-tewas-di-angkasa
Prihatini, Z., & Dewi, B. (2022, Agustus 31). Sampah Antariksa Jatuh ke Bumi, Apakah Berbahaya? Retrieved from Kompas: https://www.kompas.com/sains/read/2022/08/31/070500623/sampah-antariksa-jatuh-ke-bumi-apakah-berbahaya-?utm_source=Various&utm_medium=Referral&utm_campaign=Top_Desktop
Reporter VOA Indonesia. (2023, Maret 21). Astronom Beri Peringatan Bahaya Polusi Cahaya dari Satelit Buatan. Retrieved from VOA Indonesia: https://www.voaindonesia.com/a/astronom-beri-peringatan-bahaya-polusi-cahaya-dari-satelit-buatan/7014263.html
United Nations Office for Outer Space Affairs. (2022). 2022 Annual Report of the United Nations Office for Outer Space Affairs. Vienna: United Nations




