Kartini: Jejak Feminisme di Ibu Pertiwi

Kartini bersama murid-muridnya di pendopo tempat tinggalnya di Jepara (Sumber: Grid.id)

 

Apresiasi – Perempuan sering kali dianggap sebagai kaum kedua yang hanya bisa mengurusi urusan dapur, sumur, dan kasur. Stigma ini sudah melekat lama dalam pribadi perempuan sehingga menempatkan mereka seolah tidak berhak untuk sejajar dengan kaum laki-laki. 

Untuk itulah, feminisme hadir. Gerakan ini merupakan upaya untuk memberdayakan perempuan di seluruh dunia serta memperjuangkan hak mereka di lingkungan yang didominasi oleh patriarki. Patriarki sendiri merupakan pandangan yang menomor satukan sudut pandang atau kepentingan laki-laki.

Feminisme hadir pada akhir abad ke-18 karena adanya kekangan gereja dan laki-laki terhadap perempuan. Pada tahun 1560 dan 1648,  McKay menyebutkan bahwa ada konsep yang menyebut perempuan merupakan sumber dosa dan sering ditempatkan pada posisi kedua di dunia. Konsep ini membuat derajat perempuan lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki. Kemudian, di abad ke-20 feminisme mulai berkembang pesat. Hal ini dipicu oleh kesadaran perempuan yang menuntut kesetaraan.

Satu abad setelahnya, feminisme hadir melalui pemikiran Raden Ajeng (R.A.) Kartini. Kartini sempat mencicipi Pendidikan Bahasa Belanda di Europese Lagere School (ELS). Namun, di usianya yang menginjak 12 tahun, Kartini muda harus meninggalkan bangku sekolah karena harus tinggal di rumah untuk dipingit.

Selama dipingit, Kartini yang mahir bahasa Belanda sering menulis surat kepada teman-temannya yang berasal dari Eropa. Dari literatur Eropa, Kartini tertarik pada cara berpikir perempuan Eropa yang sudah menunjukkan kemajuan. Ia memiliki keinginan untuk memajukan perempuan pribumi yang saat itu ada pada status sosial yang rendah.

Kartini kerap menuliskan pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial yang menimpa perempuan Jawa. Sebagian isi suratnya berisi gugatan dan keluhan tentang budaya Jawa yang sering dianggapnya sebagai penghalang kemajuan perempuan Jawa. Akibat bui tak kasat mata yang diciptakan adat Jawa tersebut, perempuan sulit mendapat akses pendidikan, sulit untuk melakukan kegiatan karena harus dipingit, rela untuk dijodohkan dengan laki-laki yang tidak dikenal, serta dipaksa untuk menerima praktik poligami. 

Setelah kakak perempuan tertuanya, R.A. Soelastri menikah, Kartini mendapatkan hak untuk mengatur semua urusan adiknya. Kesempatan ini ia gunakan untuk mengubah beberapa tradisi kolot kaum priyayi. Adik-adiknya tidak perlu membungkuk untuk menunjukkan rasa hormat pada dirinya dan tidak perlu menggunakan bahasa krama inggil jika ingin berbicara pada Kartini. Perubahan ini dilakukan untuk merombak tradisi yang telah tertanam kuat pada kalangan bangsawan Jawa.

Perlahan, perubahan yang ia lakukan dapat melonggarkan aturan pingitan untuk anak perempuan. Berkat kesabarannya, ketiga saudarinya turut mendukung apa yang Kartini usahakan. Ia juga turut dilibatkan dalam tugas sang ayah untuk tahu permasalahan rakyatnya. Bahkan seiring berjalannya waktu, R.A. Kartini pernah ikut dalam perjalanan dinas sang ayah untuk mendapat beasiswa pendidikan di Belanda, tetapi usahanya harus gagal.

Kegagalan melanjutkan studi di Belanda tak membuat kesedihan Kartini berlarut. Bersama dengan adiknya, Rokmini, Kartini mendirikan sekolah kecil khusus untuk anak perempuan di pendopo kabupaten pada Juni 1903. Murid-muridnya diajarkan membaca, menulis, memasak, membuat kerajinan tangan, serta sopan santun dan tata krama.

Sekolah yang Kartini dirikan menekankan pada budi pekerti serta karakter. Sekolah tersebut berdiri tanpa adanya pengaruh dari pemerintah. Kartini mengatur sekolahnya sesuai dengan konsep yang selama ini ia impikan. Dasar dari seluruh sekolah Kartini adalah perasaan saling menyayangi dan mencintai. 

Kartini banyak menghabiskan waktunya di sekolah. Antusias masyarakat yang ingin memberikan pendidikan pada anaknya juga terus bertambah. Di tengah kesibukannya mengurus sekolah, Bupati Rembang Raden Adipati Djojo Adiningrat datang untuk melamar R.A. Kartini. Lamaran tersebut membuat konsentrasinya terbagi.  Kartini mempertimbangkan untung dan rugi jika ia menerima atau menolak lamaran tersebut.

Dengan berbagai pertimbangan yang ia pikirkan, akhirnya Kartini menerima lamaran tersebut dengan beberapa syarat kepada calon suaminya. Syarat pertama yang Kartini ajukan, Bupati  Rembang harus menuruti serta mendukung seluruh gagasan dan cita-citanya untuk perempuan Indonesia kala itu. Syarat kedua, Kartini diizinkan untuk mendirikan sekolah dan mengajar para putri bangsawan di Rembang.

Selain itu, di upacara pernikahannya, Kartini meminta tidak ada upacara mencium kaki mempelai laki-laki oleh mempelai perempuan. Pengantin laki-laki hanya mengenakan pakaian dinas dan pengantin perempuan mengenakan pakaian sehari-hari. Syarat-syarat tersebut disanggupi oleh Bupati Rembang. Akhirnya, pada 12 November 1903, Kartini menikah dengan Bupati Rembang K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat.

Bupati Rembang tersebut mendukung penuh impian Kartini untuk memajukan perempuan Indonesia, termasuk mengelola sekolah khusus putri di kompleks kantor bupati. Melalui pendidikan, Kartini ingin mengangkat derajat kaumnya. Sebab, melalui pendidikan wanita Indonesia diyakini akan mendapatkan kesetaraan status dan peran dengan kaum laki-laki.

Kini apa yang diusahakan Kartini telah terlihat jelas. Status dan peran perempuan tidak lagi dipandang sebelah mata. Sudah banyak perempuan ikut serta mengisi posisi yang dulu dianggap hanya pantas untuk laki-laki. Jejak-jejak feminisme yang dikenalkan pada perempuan Indonesia melalui Kartini  telah melekat dan akan terus diperjuangkan.

 

Penulis: Indira Putri Dewi Prisanti

Editor: Hesti Dwi Arini, Ayu Nisa’Usholihah

 

Daftar Pustaka

avd/juh. (2023, Desember 27). Sejarah RA Kartini Lengkap dari Lahir hingga Wafat. Diakses pada 7 April 2024 dari cnnindonesia.com: https://www.cnnindonesia.com/edukasi/20231121133917-569-1027040/sejarah-ra-kartini-lengkap-dari-lahir-hingga-wafat

Etania, R. B., & Indriawati, T. (2024, Januari 7). Sejarah Gerakan Feminisme pada Abad ke-20. Diakses pada 6 April 2024 dari kompas.com: https://www.kompas.com/stori/read/2024/01/07/080000879/sejarah-gerakan-feminisme-pada-abad-ke-20

glo/juh. (2023, April 21). Perjuangan RA Kartini untuk Kaum Perempuan Indonesia. Diakses pada 7 April 2024 dari cnnindonesia.com: https://www.cnnindonesia.com/edukasi/20230418134033-569-939289/perjuangan-ra-kartini-untuk-kaum-perempuan-indonesia

Khansa. (2022, Juli 7). Apa Itu Feminisme? Ketahuilah Segala Hal Pentingnya! Diakses pada 6 April 2024 dari Gramedia.com: https://www.gramedia.com/literasi/feminisme/#google_vignette

Pusat Asesmen Pendidikan. (2021, April 19). Cara Cerdas “Kartini” Mengangkat Derajat Kaum Wanita. Diakses pada 7 April 2024 dari kemdikbud.go.id: https://pusmendik.kemdikbud.go.id/konten/cara-cerdas-kartini-mengangkat-derajat-kaum-wanita#:~:text=Kartini%20ingin%20mengangkat%20derajat%20kaumnya,oleh%20kaum%20feodal%20maupun%20kolonial.

Rahmi, H. A. (2017, November 17). Feminisme di Indonesia: Sekilas Sejarah dan Dinamika. Diakses pada 6 April 2024 dari nalarpolitik.com: https://nalarpolitik.com/feminisme-di-indonesia-sekilas-sejarah-dan-dinamika/

William, A. (2021, April 21). Sejarah Perjuangan Ibu Kita Kartini untuk Kaum Wanita Indonesia. Diakses pada 7 April 2024 dari tirto.id: https://tirto.id/sejarah-perjuangan-ibu-kita-kartini-untuk-kaum-wanita-indonesia-gddY

Yunazar, F. M. (2019, Januari 3). Perjalanan Feminisme Indonesia dan Tokoh Dibaliknya. Diakses pada 6 April 2024 dari binus.ac.id: https://communication.binus.ac.id/2019/01/03/perjalanan-feminisme-indonesia-dan-tokoh-dibaliknya/

Yuniarto, T. (2021, April 20). Kartini dan Feminisme di Indonesia. Diakses pada 7 April 2024 dari kompas.id: https://www.kompas.id/baca/paparan-topik/2021/04/20/kartini-dan-feminisme-di-indonesia

Zulfikar, F. (2023, April 21). Kisah Kartini, Putri Bangsawan yang Mendirikan Sekolah Khusus Perempuan. Diakses pada 7 April 2024 dari detik.com: https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6682887/kisah-kartini-putri-bangsawan-yang-mendirikan-sekolah-khusus-perempuan

Scroll to Top