Catatan Harian dari Masa Depan, Tahun 205

Ilustrasi catatan dari generasi 2050 tentang krisis sampah yang dulu diabaikan. [Sumber: Salon.com]

Apresiasi –  Aku lahir tahun 2035, di kota yang menurut cerita orang tuaku dulu lebih sejuk dan lautnya lebih biru. Nama? Ah itu tidak penting, anggap saja kau tak mengenal diriku. Di sekolah, kami tidak hanya belajar tentang perang atau pergantian kekuasaan. Kami belajar tentang “kebiasaan”. Tentang pola kecil yang diulang-ulang sampai akhirnya berubah menjadi sesuatu yang kamu sebut “krisis”. 

Setiap 21 Februari kami memperingati Hari Peduli Sampah Nasional. Tanggal itu seharusnya bukan sekadar dekorasi kalender, ia lahir dari runtuhnya Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Leuwigajah di Cimahi pada 21 Februari 2005. Hujan deras, gas metana terperangkap, gunungan sampah yang selama ini diam, tiba-tiba bergerak, ratusan orang meninggal, sampai dua kampung hilang dalam satu malam.

Bayangkan, kira-kira apa penyebabnya? Apakah karena gempa? Badai? Atau tsunami? Ah tidak, itu terlalu jauh! Ini semua karena “sampah”. Sesuatu yang setiap hari Kamu pegang, gunakan sebentar, lalu lepaskan seolah tak bersalah, seolah semua itu tak menyebabkan apa pun. Kami yang lahir jauh setelahnya hanya bisa melihat foto dan berita, tetapi setiap kali kisah itu dibacakan, aku selalu merasa janggal. Seolah tragedi itu bukan sekadar kecelakaan, melainkan surat peringatan yang mungkin Kamu abaikan.

Sejak saat itu, 21 Februari diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Sedunia, katanya untuk menumbuhkan kesadaran bahwa pengelolaan sampah adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah, Industri, dan… tentu saja kamu sebagai masyarakat, bukankah begitu? Ah, atau jangan-jangan kamu merasa kesadaran itu hanya muncul ketika tanggalnya tiba?

Baru saja semalam aku menelusuri linimasa lama di media sosial, arsip-arsip dekade 2020-an muncul bertaburan. Video aksi bersih-bersih pantai, seminar pengurangan plastik, lomba daur ulang dengan tas dari bungkus kopi,  sampai komunitas volunteering memungut sampah sambil tertawa di bawah matahari.

Emoji daun berjatuhan, simbol daur ulang di poster dan kaos, kalimat penuh semangat berseliweran, “Mulai dari diri sendiri.” “Perubahan dimulai dari langkah kecil.”, Wajah-wajah itu optimis, berkeringat, kotor, tapi tetap menampilkan senyum lebar ke kamera.

Sejatinya, aku tidak meragukan niat mereka, namun bagiku ini ironis. Karena di linimasa yang sama, beberapa hari setelahnya, ada unggahan diskon besar-besaran, paket belanja datang dibungkus berlapis-lapis, tren baru muncul, dan barang-barang lama? Jelas cepat melayang ke tempat sampah.

Lantas, apa artinya kalimatmu tadi? “Langkah kecil”? Apakah… itu benar berjalan?

Ayah pernah berkata saat kami berjalan di tepi pantai pada Minggu lalu, “Seingat Ayah, dulu lautnya lebih biru.” Kalimat itu sebenarnya terasa biasa saja, hanyalah seorang manusia yang merasa “dulu lebih indah dari yang sekarang”. Namun di dalamnya ada jarak waktu yang panjang, kini laut sering tampak kusam, ah bukan, bukan penuh sampah besar, justru seringnya serpihan kecil yang nyaris tak terlihat, mikroplastik. Kata guru biologi kami, partikel halus dari benda yang dulu dipakai sebentar, kini mengendap lama, sangat lama.

Plastik, gencar dipuji sebagai simbol kemajuan. Jelas saja! Praktis, murah, efisien, siapa yang tak memujanya? Masalahnya bukan pada benda itu sendiri, melainkan pada cara manusia menggunakannya tanpa batas, barang yang kamu pakai beberapa menit bisa bertahan ratusan tahun.

Di kelas sosiologi, kami mempelajari budaya konsumsi generasi sebelum kami, belanja impulsif, flash sale tengah malam, kemudahan transaksi yang membuat klik terasa lebih ringan daripada berpikir. Informasi tentang krisis sampah sebenarnya sudah ada di mana-mana, namun pengetahuan tidak otomatis berubah menjadi kebiasaan.

Kamu tahu, tapi tetap melakukan. Kamu sadar, tapi tetap mengulang, benarkah begitu?

Yang paling sulit bukan memungut sampah saat Hari Peduli Sampah Sedunia, yang paling sulit adalah menolak kenyamanan setiap hari setelahnya. Budaya sekali pakai terasa ringan di tangan, tapi berat di masa depan. Kini kami masih memperingati 21 Februari. Tapi suasananya berbeda. Tragedi Leuwigajah selalu disebut, bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mengingatkan bahwa alam pernah berteriak keras.

Dan sayangnya, tidak semua orang bahkan mungkin kamu mendengarnya.

Kadang aku membayangkan kemungkinan lain, bagaimana jika setelah bencana itu, perubahan dilakukan lebih keras? Bagaimana jika “langkah kecil” tidak berhenti menjadi slogan, tetapi tumbuh menjadi kebijakan dan kebiasaan? Mungkin grafik yang kupelajari di kelas akan berbeda, bahkan mungkin ayah tidak perlu berbicara tentang warna laut dalam bentuk nostalgia.

Aku tidak menulis ini untuk menyalahkan, setiap generasi punya jebakannya sendiri. Namun sejarah sudah memberi pelajaran yang mahal, Hari Peduli Sampah Sedunia lahir dari ratusan nyawa yang tertimbun oleh sesuatu yang dianggap remeh.

Sadarilah, sampah tidak pernah benar-benar pergi! Ia hanya berpindah tempat, kadang ke sungai, kadang ke laut, kadang juga ke tubuh manusia sendiri. Kamu hidup di masa ketika pilihan masih luas dan perubahan belum terlambat, kami hidup di masa ketika dampak telah terasa  dan ruang memperbaiki semakin sempit.

Lantas, apa yang sejatinya Kamu tunggu? Ketika peringatan sudah jelas, data sudah tersedia, tragedi sudah terjadi, alasan apa lagi yang dibutuhkan untuk benar-benar berubah?

Penulis : Tania Callista 

Editor : Salsa Puspita, Andaru Surya

Referensi :

Mutiarasari, K. A. (2025, Februari 21). Hari Peduli Sampah Nasional 2025: Tema, logo hingga rangkaian acara. Detik.com.https://news.detik.com/berita/d-7786831/hari-peduli-sampah-nasional-2025-tema-logo-hingga-rangkaian-acara/amp 

 

Scroll to Top