
The March Sisters dalam film “Little Women” (2019). (Sumber: Bright Wall/Dark Room)
Apresiasi – Hari perempuan dirayakan seluruh dunia setiap tanggal 8 Maret. Meski dirayakan, perempuan rasanya tak pernah lepas dari tatapan rendah dan konstruksi budaya yang melanggengkan penindasan terhadap perempuan. Maka, Louisa May Alcott dan Greta Gerwig hadir dengan goresan tangannya membawa film “Little Women” (2019) ke permukaan untuk menyuarakan keberanian perempuan mendobrak stigma masyarakat dan memilih menjadi perempuan berdaya. “Little Women” menceritakan tentang kehidupan The March Sisters, 4 bersaudara yang terdiri dari Jo March (Saoirse Ronan), Meg March (Emma Watson), Amy March (Florence Pugh), dan Beth March (Eliza Scanlen).
Hari Perempuan Sedunia (International Women’s Day) tahun ini membawa tema “Give to Gain” (Memberi untuk Menerima) dengan harapan perempuan juga bisa memiliki kesempatan dan didengar suaranya. Ketika dunia memberikan kesempatan bagi perempuan, maka seluruh dunia juga akan menerima hasilnya. The March Sisters melalui film “Little Women” menunjukkan keberanian perempuan untuk melawan norma yang tumbuh tanpa melibatkan perempuan di dalamnya.
Film ini mengambil latar waktu tahun 1860-an di Massachusetts, Amerika Serikat setelah Perang Saudara (Civil War), yang memegang stigma bahwa satu-satunya cara perempuan bertahan hidup adalah dengan menikah. Terlahir di keluarga yang hangat, di tengah masyarakat patriarki bukan hal yang mudah bagi The March Sisters untuk mewujudkan mimpi mereka. Jo, Meg, Amy, dan Beth, keempatnya memiliki mimpi dan caranya sendiri dalam mewujudkannya. Jo andal dalam menulis sehingga ia berkali-kali mengirimkan naskah ceritanya ke penerbit, Meg yang pandai menaklukan panggung dan bermimpi menjadi aktris, Amy dengan goresan indahnya di kanvas, serta Beth dan jemari lentiknya yang mahir memainkan piano.
Jo adalah anak kedua dari The March Sisters. Di antara saudarinya, Jo adalah yang paling skeptis terhadap pernikahan. Baginya, pernikahan akan menghambat perempuan untuk menggapai mimpinya. Jo yang sejak belia bermimpi menjadi seorang penulis, selalu mengirimkan naskah ceritanya ke penerbit. Penolakan demi penolakan diterimanya, tapi menulis sudah menjadi jiwanya. Maka, Jo dengan ambisinya terus mengirimkan tulisan-tulisannya hingga akhirnya diterbitkan menjadi buku yang selama ini ia dambakan. Jo juga mendobrak stigma dengan berpenampilan lebih maskulin dibanding perempuan-perempuan lain di zaman itu. Ia suka bercelana, mengikat rambutnya, berlarian di sekitar rumah, dan tidak pergi ke pesta dengan gaun berwarna mencolok. Jo menunjukkan bahwa meski di tengah masyarakat yang patriarki, ia berani dan mampu menjadi perempuan berdaya versinya. Mendobrak stigma bahwa perempuan harus berpenampilan feminin dan melampaui batas dengan berkarier sebagai seorang penulis. Bagi Jo, perempuan bisa melakukan lebih dari sekadar membereskan pekerjaan domestik.
Berbeda dengan Jo, Meg, sang putri sulung lebih menyukai hal-hal feminin. Meg suka berdandan dan pergi ke pesta dengan gaun indahnya. Sejak kecil, Meg ingin menjadi seorang aktris. Tampil di atas panggung dan disaksikan banyak mata. Namun, mimpi itu berubah ketika ia bertemu John, pujaan hatinya. Seketika, satu hal yang ingin ia lakukan, menjadi seorang ibu. Di tengah sosial masyarakat yang patriarki, John hadir tanpa sedikit pun membebankan kerja domestik hanya kepada Meg. ada akhirnya Meg yakin untuk mewujudkan seluruh mimpinya, asal bersama John. Meg ingin bilang bahwa menjadi seorang ibu juga sebuah pencapaian. Bahwa merawat buah hati kembarnya juga bukan hal mudah. Bahwa setiap ibu pantas atas setiap apresiasi.
Beth March, putri ketiga The March Sisters, adalah pianis keluarga March. Beth tumbuh menjadi musisi hebat. Jemari lentiknya dengan apik memainkan piano, menciptakan nada indah. Sementara itu, Amy March, putri bungsu keluarga March juga jatuh cinta akan seni. Amy dijuluki “Michael Angelo” milik keluarga March. Mimpi Amy besar, menjadi pelukis terkenal di dunia. Meskipun Amy mungkin tidak memiliki kebebasan dalam melukis, tapi tekadnya yang besar mengalahkan ketakutannya. Di tengah dunia seni yang pada saat itu didominasi lelaki, Amy berhasil menggapai mimpinya, menjadi seorang pelukis.
Meski memilih jalan yang berbeda, The March Sisters menunjukkan bahwa perempuan berdaya tidak terikat pada satu konsep saja, melainkan bisa menjadi penulis, seorang ibu, pianis, maupun pelukis. The March Sisters menekankan bahwa perempuan berhak memilih jalan yang mereka inginkan dan perempuan bisa menjadi apapun yang mereka impikan. The March Sisters adalah salah satu representasi bahwa perempuan juga bisa melampaui batas, bahwa perempuan juga bebas berekspresi, dan bahwa perempuan juga bisa berkarya. Seperti salah satu konsep dalam tema besar Hari Perempuan Sedunia tahun ini “Give Opportunities” dan “Give a Voice”.
Hari Perempuan Sedunia menjadi pengingat sekaligus pemantik bahwa perempuan bisa menembus batas dan meraih mimpinya. Maka kepada seorang ibu, seorang aktris, seorang pengacara, seluruh perempuan di dunia, apresiasi terbesar kami tujukan, juga kepada semua perempuan yang berani membuat pilihan dan memilih untuk berdaya, hari ini seluruh dunia merayakan tekad itu. Selamat Hari Perempuan Sedunia!
Penulis: Raisya Nurul Khairani
Editor: Salsa Puspita, Andaru Surya
Referensi
Anggraeni, C. et al. (2023). Representasi Perempuan dalam Film Little Women.
ejournal3.undip.ac.id. Diakses pada https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/interaksi-online/article/download/39885/29311.
International Women’s Day. (2026). International Women’s Day 2026 theme is ‘Give To Gain’.
https://www.internationalwomensday.com/Theme.
Rosemary, L. & Arianto, T. (2023). Woman Resistance toward Domestic Roles in “Little
Women” Novel by Louisa May Alcott: Feminist Approach. Humanities Journal of Language and Literature, 10(1): 77-92. https://doi.org/10.30812/humanitatis.v10i1.2221.
Ziara, F. (2025). Women’s Empowerment in Louisa May Alcott’s Little Women. University of
Misan. https://systems.uomisan.edu.iq/projects/uploads/files/nu9tzlspy_m3der.pdf.



