Sebuah Nafas untuk Demokrasi: Hari Kebebasan Pers Sedunia

Sejumlah jurnalis mengumpulkan kartu pers-nya ketika menggelar aksi menolak kekerasan terhadap jurnalis di kawasan nol kilometer Denpasar, Bali, 4 Oktober 2016.  (Sumber: Unggahan Website www.tempo.co)

Apresiasi – Setiap tahunnya di tanggal 3 Mei, dunia berhenti sejenak untuk memberi penghormatan kepada pilar keempat dalam demokrasi, kebebasan pers. Di tengah arus informasi yang semakin deras, pers tetap menjadi lentera yang menerangi jalan menuju kebenaran. Hari Kebebasan Pers Sedunia hadir bukan sekadar seremoni, melainkan seruan agar kita semua, masyarakat global, menjaga ruang ekspresi yang bebas dari tekanan dan ketakutan.

Kebebasan pers adalah nafas bagi demokrasi. Tanpa kebebasan ini, suara rakyat teredam, kebenaran terkubur, dan keadilan kehilangan pijakannya. Pers, dalam wujudnya yang paling luhur, berdiri sebagai penjaga nurani publik—merekam derap langkah zaman, menyalakan lentera di tengah gelap, dan tak gentar menyuarakan yang terlupakan. Apresiasi hari ini adalah penghormatan kepada insan pers yang tak kenal lelah berjuang, meski kadang berhadapan dengan ancaman, intimidasi, bahkan bahaya jiwa.

Di tengah dunia yang terus bergolak, kebebasan pers menjadi benteng terakhir bagi akal sehat dan keadilan sosial. Setiap jurnalis yang berani menyuarakan kenyataan adalah penjelajah di medan sunyi, menembus badai fitnah dan belenggu kekuasaan. Mereka adalah mata dan telinga rakyat, yang penuh dengan ketekunan dan keberanian. Berani merekam denyut nadi kehidupan tanpa pernah menyerah untuk tekun pada bisikan ketakutan. Kebebasan pers memastikan bahwa kebenaran tetap mengalir ke ruang publik, membangkitkan kesadaran, menggugah nurani, dan menghidupkan harapan di tengah kabut zaman.

Tak dapat disangkal, perjuangan untuk mempertahankan kebebasan ini tak pernah mudah. Di berbagai penjuru dunia, para jurnalis masih bergulat dengan sensor, kekerasan, dan pembungkaman. Namun semangat mereka, seperti bara yang tak padam, terus menyala. Hari ini, kita merayakan keberanian mereka—mereka yang menulis dengan pena basah oleh air mata rakyat, mereka yang merekam kebenaran dengan risiko yang tak kecil.

Indonesia, sebagai negara yang menjunjung tinggi demokrasi, pun menaruh harapan tinggi pada kekuatan pers yang merdeka. Momentum 3 Mei mengingatkan seluruh jiwa bahwa menjaga kebebasan pers berarti menjaga keberlangsungan nurani bangsa. Setiap berita yang jujur, setiap laporan yang adil, adalah sumbangsih mulia bagi masa depan yang lebih cerah.

Mari, dalam gema Hari Kebebasan Pers Sedunia ini, terus sematkan apresiasi terdalam kepada para jurnalis di seluruh penjuru dunia. Mereka yang tetap setia pada sumpah kebenaran, meski badai tantangan mendera. Semoga semangat ini terus mengakar, agar pers selamanya menjadi suara yang merdeka—suara untuk rakyat, oleh rakyat, dan demi rakyat. 

Penulis: Muhammad Farrel Danendrahadi

Editor: Nuzulul Magfiroh, Nurjannah 

 

Referensi

Dafit. (2024). Kebebasan Pers dan Peranannya dalam Demokrasi Global. Diakses dari https://www.kompasiana.com/fitriawardani8538/66311829c57afb4d5d2708c2/kebebasan-pers-dan-peranannya-dalam-demokrasi-global tanggal 26 April 2025.

Johannes, P. C. (2025). Indeks Kemerdekaan Pers Menurun pada 2024, Ancaman Terhadap Kebebasan Pers Terus Terjadi. Diakses dari https://www.tempo.co/politik/indeks-kemerdekaan-pers-menurun-pada-2024-ancaman-terhadap-kebebasan-pers-terus-terjadi–1188860 tanggal 27 April 2025.

Komdigi. (2025). Menkomdigi: Kebebasan Pers adalah Pilar Demokrasi yang Tak Bisa Ditawar. Diakses dari https://www.komdigi.go.id/berita/siaran-pers/detail/menkomdigi-kebebasan-pers-adalah-pilar-demokrasi-yang-tak-bisa-ditawar tanggal 27 April 2025.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top