Satu Tetes Darah, Nyawa Bagi Sesama

Anggota Palang Merah Indonesia di depan Markas Besar Palang Merah Indonesia
(Sumber: Nukilan.id)

Apresiasi – Pada tahun 1859 di kota Solferino, Italia, terjadi perang antara Prancis dan Austria yang mengakibatkan 40.000 tentara dari kedua negara terluka dan tewas karena ketiadaan petugas medis yang menolong korban. Saat itu, seorang pengusaha Swiss bernama Henry Dunant sedang melakukan perjalanan bisnis melewati dan menyaksikan pertempuran itu. la merasa iba karena melihat tidak terdapat  pelayanan medis di medan perang. Sebagai upaya mengatasi permasalahan tersebut,  ia mengajak penduduk setempat untuk merawat para korban, bahkan ia juga mencatat pesan terakhir korban dan membantu menyampaikan pesan tersebut kepada keluarganya. Peristiwa inilah yang kemudian menjadi awal dari sejarah palang merah dan bulan sabit merah di dunia.

Kemudian, di tahun 1826, Henry Dunant menulis buku A Memory of Solferino yang membawa 2 gagasan. Gagasan pertama adalah perlunya membentuk organisasi sukarelawan yang disiapkan pada masa damai (masa sebelum perang) untuk menolong para prajurit yang terluka di medan perang, dan gagasan kedua tentang perlunya suatu perjanjian internasional untuk memberi pengakuan dan perlindungan kepada sukarelawan yang bertugas serta para prajurit yang terluka di medan perang. Kedua gagasan Henry Dunant tersebut kemudian diwujudkan pada tahun 1863 di Jenewa, Swiss, melalui pembentukan Komite Internasional Palang Merah (ICRC) yang menjadi cikal bakal Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional. Setahun kemudian, yaitu pada tahun 1864, negara-negara Eropa menyepakati Konvensi Jenewa pertama yang menjadi dasar lahirnya Hukum Humaniter Internasional (HHI). HHI dikembangkan untuk memberikan perlindungan kepada korban konflik bersenjata, termasuk prajurit yang terluka, tenaga medis, dan penduduk sipil, serta mengatur cara dan metode peperangan agar penderitaan manusia dapat diminimalkan.

Pengakuan dan semangat kemanusiaan yang mendunia ini kemudian turut memengaruhi perkembangan gerakan Palang Merah di berbagai negara, termasuk Indonesia. Berdirinya Palang Merah di Indonesia sebenarnya sudah dimulai sejak masa sebelum Perang Dunia Ke-II, tepatnya pada tanggal 21 Oktober 1873, Pemerintah Kolonial Belanda mendirikan Palang Merah di Indonesia yang diberi nama Nederlands Rode Kruis Afdeling Indie (Nerkai), namun kemudian dibubarkan pada saat pendudukan Jepang. Perjuangan untuk mendirikan kembali Palang Merah Indonesia  diawali sekitar tahun 1932. Kegiatan tersebut dipelopori oleh dua tokoh yang pertama kali menggagas dan merintis pendirian Palang Merah Indonesia, yakni Dr. RCL Senduk dan Dr Bahder Djohan. Rencana tersebut mendapat dukungan luas, terutama dari kalangan terpelajar Indonesia. Mereka berusaha keras membawa PMI ke dalam sidang Konferensi Nerkai (Nederlandsche Rode Kruis Afdeling Indie) yang diselenggarakan oleh pemerintah kolonial organisasi Palang Merah Belanda cabang Hindia Belanda pada tahun 1940 walaupun akhirnya ditolak mentah-mentah. Oleh karena itu, rancangan tersebut disimpan untuk menunggu kesempatan yang tepat. Sebagai upaya lanjutan, saat pendudukan Jepang,Dr. RCL Senduk dan Dr Bahder Djohan bersama kalangan terpelajar Indonesia, kembali mencoba untuk membentuk Badan Palang Merah Nasional. Namun, sekali lagi upaya itu mendapat halangan dari Pemerintah Pendudukan Militer Jepang karena dikhawatirkan menjadi wadah pergerakan nasional Indonesia, sehingga untuk kedua kalinya rancangan itu harus kembali disimpan.

Tujuh belas hari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan tepatnya pada tanggal 3 September 1945, Presiden Soekarno mengeluarkan perintah untuk membentuk suatu badan Palang Merah Nasional. Atas perintah Presiden tersebut, maka Dr. Buntaran yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kesehatan Republik Indonesia Kabinet I, membentuk Panitia 5 untuk kembali mempersiapkan pendirian badan Palang Merah Indonesia, yang terdiri dari: dr R. Mochtar (Ketua), dr. Bahder Djohan (Penulis), dan dr Djuhana; dr Marzuki; dr. Sitanala (anggota) pada tanggal 5 September 1945.

Akhirnya, Perhimpunan Palang Merah Indonesia berhasil dibentuk pada 17 September 1945 dan merintis perjuangannya dengan memberikan bantuan pada korban pengembalian tawanan perang sekutu maupun Jepang. Oleh karena kinerja tersebut, PMI mendapat pengakuan secara Internasional pada tahun 1950 dengan menjadi anggota Palang Merah Internasional dan disahkan keberadaannya secara nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) No.25 tahun 1959 dan kemudian diperkuat dengan Keppres No.246 tahun 1963.

Salah satu kontribusi terbesar PMI adalah dalam penyediaan darah bagi pasien yang membutuhkan. Melalui kegiatan donor darah yang rutin dilaksanakan, PMI membantu menyelamatkan banyak nyawa setiap harinya. Selain itu, PMI juga aktif memberikan edukasi mengenai kesehatan, pertolongan pertama, dan kesiapsiagaan bencana sehingga masyarakat dapat lebih siap menghadapi berbagai keadaan darurat. Bahkan dalam situasi bencana alam, PMI selalu menjadi garda terdepan dalam memberikan bantuan kemanusiaan. Para relawan PMI bekerja tanpa mengenal lelah untuk menyalurkan bantuan, memberikan pelayanan kesehatan, hingga mendampingi masyarakat yang terdampak. Dedikasi dan pengorbanan para relawan patut mendapatkan apresiasi yang tinggi karena mereka rela meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran demi membantu sesama.

Atas segala pengabdian dan kontribusi yang telah diberikan, PMI layak mendapatkan penghargaan dari seluruh lapisan masyarakat. Semangat kemanusiaan yang ditunjukkan oleh PMI menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus menumbuhkan rasa peduli dan empati terhadap sesama. Dengan dukungan masyarakat, PMI dapat terus menjalankan misinya dalam membantu mereka yang membutuhkan serta mewujudkan Indonesia yang lebih tangguh dan penuh kepedulian.

 

Penulis: Meydina Jasmine Almira

Editor: Andaru Surya, Salsa Puspita

Referensi

Palang Merah Indonesia (2026). Sejarah  Palang Merah Indonesia.

https://www.pmi.or.id/about-us/history

Palang Merah Indonesia (2026). PMI menyediakan akses bagi masyarakat untuk berperan sebagai relawan. 

https://pmisukoharjo.org/relawan-pmi/

Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Probolinggo. Sejarah berdirinya palang merah di Indonesia. https://pmi.probolinggokota.go.id/page/sejarah-palang-merah-indonesia-pmi

Scroll to Top