Mengulik Sejarah Pakistan, Membangun Kembali Kesadaran Berbahasa

Ilustrasi aktivitas sekolah inklusif (Sumber : pexels.com)

 

Apresiasi – Hari Bahasa Ibu Sedunia membawa catatan historis yang diperingati setiap tanggal 21 Februari secara global. Peringatan Bahasa Ibu Sedunia ini diinisiasi oleh konflik yang terjadi di Pakistan Barat dan Pakistan Timur (sekarang Bangladesh) pada 21 Februari 1952. Bermula ketika Pakistan Barat mengusulkan untuk menjadikan Bahasa Urdu sebagai bahasa nasional dari kedua wilayah tersebut. Hal tersebut ditolak oleh Pakistan Timur dan mereka mengusulkan kepada Majelis Konstituante Pakistan untuk menjadikan juga Bahasa Bangla sebagai bahasa nasional karena Pakistan Timur juga memiliki budaya yang hendak mereka pertahankan. Namun, usulan tersebut tidak mendapatkan sambutan baik dari Pakistan Barat sehingga menimbulkan pertumpahan darah antara dua wilayah tersebut. 

Konflik tersebut merambat jauh hingga membawa Pakistan Timur memisahkan diri dan membentuk kedaulatan sendiri dengan nama Bangladesh, dan tetap mempertahankan Bahasa Bangla mereka. Oleh karena itu, 21 Februari menjadi peringatan bagi Bangladesh dalam mengenang jasa warga mereka dalam mempertahankan bahasa dan budaya ibu mereka. 

Pada tanggal 9 Januari 1998, seorang pemuda Bangladesh, Rafiqul Islam mengirimkan surat kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berisikan permintaan untuk menyelamatkan bahasa-bahasa ibu di seluruh dunia. Tepat setahun setelahnya, pada 17 November 1999, Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan milik PBB, United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) memutuskan 21 Februari menjadi Hari Peringatan Bahasa Ibu Sedunia. Hal ini didukung penuh oleh PBB, dan dideklarasikan dalam sidang umum PBB pada 16 Mei 2007. 

Peringatan Hari Bahasa Ibu tidak hanya untuk mengenang kembali catatan sejarah Bangladesh dan Pakistan, tetapi juga diharapkan mampu menyelaraskan pemahaman akan keberagaman, menjaga dan menghormati perjuangan, serta melestarikan semua bahasa dan budaya di dunia. Dilansir melalui kemdikbud.go.id, Director of UNESCO office in Jakarta, Maki Katsuno-Hayashikawa pun menegaskan, 

“Bahasa bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai cerminan kebudayaan dan bangsa itu,” pungkas Maki dalam peringatan Bahasa Ibu Sedunia di Kantor Kedutaan Besar Bangladesh pada Rabu (21/2/2024).

Bahasa ibu yang merupakan bahasa pertama yang dipelajari saat kecil, memiliki peranan penting dalam emosi kultural seseorang. Hal itu berarti bahwa bahasa ibu merupakan sarana dalam berbagi ikatan emosional yang kuat antara keluarga dan komunitas. Oleh karena itu, melestarikan bahasa ibu sama dengan mempertahankan peninggalan budaya dan hubungan dengan nenek moyang.  

Lalu bagaimana dengan Bahasa Ibu di Indonesia? 

Indonesia menjadi negara dengan bahasa ibu terbanyak kedua di dunia setelah Papua Nugini. Berdasarkan goodstats.id, tercatat Indonesia memiliki 720 bahasa per 2024. Namun, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) menyatakan setidaknya ada 11 bahasa daerah di Indonesia yang punah karena kehilangan penuturnya. Tidak hanya di Indonesia, ternyata ada 40 persen bahasa di dunia yang juga terancam punah. Selain karena tidak adanya penutur, globalisasi juga membawa pengaruh kepada masyarakatnya sehingga beralih menggunakan bahasa luar dan bahasa gaul. 

Hal ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun masyarakat setempat saja. Pertumpahan darah di Pakistan Barat dan Pakistan Timur seharusnya kembali menyadarkan kita bahwa sudah menjadi tanggung jawab bersama untuk mempertahankan bahasa ibu di setiap daerah, sama halnya dengan bahasa Indonesia. Menjadi multilingual dapat menjadi salah satu tindakan yang tepat. Berbahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional dan berbahasa daerah dalam berinteraksi dengan keluarga maupun masyarakat di lingkungan suku yang sama. 

 

Penulis : Hanifah Khairunnisa

Editor : Nurjannah, Nuzulul Magfiroh

 

Referensi : 

United Nations. (2024, February 21). International Mother Language Day. United Nations. https://www.un.org/en/observances/mother-language-day

 

KNIU Hadiri Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional Tahun 2024. (2024, March). Kementerian Pendidikan Dasar Dan Menengah. https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2024/03/kniu-hadiri-peringatan-hari-bahasa-ibu-internasional-tahun-2024

 

Meka, N. (2025, February 2). Sejarah hari bahasa Ibu Internasional (H. Oetomo, Ed.) [Review of Sejarah hari bahasa Ibu Internasional]. Rri.co.id; Radio Republik Indonesia. https://www.rri.co.id/daerah/1297766/sejarah-hari-bahasa-ibu-internasional

 

Yonatan, A. Z. (2024, October 25). Negara dengan Bahasa Daerah Terbanyak 2024, Ada Indonesia! GoodStats. https://goodstats.id/article/negara-dengan-bahasa-daerah-terbanyak-2024-ada-indonesia-S5z4Y

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top