
Penumpukan Limbah Plastik di kawasan Pantai Kedonganan, Badung, Bali (Sumber: Antara News)
Apresiasi – Hari Lingkungan Hidup Sedunia diperingati setiap tahunnya pada tanggal 5 Juni. Peringatan ini bukan hanya sebagai bentuk peningkatan kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan hidup, tetapi juga sebagai pendorong aksi nyata masyarakat dalam upaya pelestarian alam yang berkelanjutan. Dalam memperingati Hari Lingkungan Hidup tahun ini, United Nations Environment Programme (UNEP) mengusung tema “Hentikan Polusi Plastik.” Tema tersebut ditetapkan oleh UNEP dengan target untuk mengupayakan pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Kampanye ini mengingatkan masyarakat untuk sadar akan krisis polusi sampah plastik yang semakin mengancam lingkungan dan kesehatan manusia.
Setiap tahun, jutaan ton sampah plastik terus menggunung dan mencemari laut, sungai, dan daratan. Sampah plastik tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga membahayakan makhluk hidup, termasuk manusia, hewan, dan tumbuhan. Plastik sekali pakai yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari menjadi penyumbang terbesar yang tidak dapat benar-benar terurai. Lautan juga menjadi korban dari banyaknya sampah plastik. Banyaknya hewan laut yang mati karena keracunan atau tersumbat saluran pencernaannya akibat plastik. Tidak hanya hewan laut, sampah plastik juga merusak keindahan pantai, dan menurunkan kualitas air bersih di berbagai wilayah.
Sayangnya hingga kini pengelolaan sampah di Indonesia masih sangat jauh dari kata optimal. Sampah yang sulit teurai ini dibuang begitu saja tanpa memikirkan dampak panjang terhadap ekosistem. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2024, terdapat ribuan ton sampah plastik yang masuk ke wilayah lautan Indonesia. Akibatnya ekosistem laut di Indonesia perlahan terdampak, mulai dari kematian hewan laut akibat terjerat sampah plastik, rusaknya terumbu karang dan mangrove, serta pestisida yang terkandung dalam plastik dapat memengaruhi rantai makanan biota laut.
Namun, di samping itu pemerintah Indonesia sebenarnya telah mengupayakan berbagai kebijakan untuk menangani permasalahan ini. Salah satunya melalui Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut, serta target pengurangan 70% sampah plastik di laut pada tahun 2025. Selain itu, sejumlah daerah telah menerapkan kebijakan larangan penggunaan kantong plastik sekali pakai di pusat perbelanjaan dan pasar tradisional. Akan tetapi, implementasi kebijakan ini masih menghadapi tantangan, mulai dari kurangnya pengawasan, hingga resistensi masyarakat karena belum adanya alternatif yang memadai dan terjangkau.
Peran sektor swasta dan industri juga menjadi perhatian penting. Produsen yang selama ini menghasilkan produk dengan kemasan sekali pakai diharapkan mulai menerapkan prinsip extended producer responsibility (EPR), yakni tanggung jawab produsen dalam mengelola limbah produknya setelah digunakan konsumen. Beberapa brand besar mulai mencoba inisiatif daur ulang dan refill station, namun upaya ini masih belum masif dan belum menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Tidak kalah penting, peran generasi muda sebagai agen perubahan sangat dibutuhkan dalam kampanye penyelamatan lingkungan. Inisiatif komunitas dan gerakan akar rumput seperti clean-up day, bank sampah digital, dan edukasi lingkungan di sekolah maupun media sosial menjadi kekuatan besar dalam membentuk budaya sadar lingkungan sejak dini. Lewat media sosial, anak muda bisa menyebarkan pesan positif tentang gaya hidup ramah lingkungan yang inspiratif dan mudah ditiru.
Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia kali ini menjadi momen refleksi bersama: sejauh mana kita sudah berkontribusi? Apakah kita masih menjadi bagian dari masalah, atau justru bagian dari solusi?
Karena pada akhirnya, bumi bukanlah warisan dari nenek moyang, melainkan titipan untuk generasi mendatang. Maka, sudah selayaknya kita rawat bersama dengan tindakan nyata, dimulai dari diri sendiri, hari ini juga.
Masing-masing kita dapat mewujudkan perubahan besar yang berdampak ini dimulai dari langkah yang kecil. Kita bisa mulai membawa tas belanja sendiri, memilah sampah dengan benar, dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai sebagai bentuk kontribusi sederhana yang bisa kita lakukan sehari-hari. Walau terkesan sepele dan kecil, kontribusi ini bisa berdampak besar apabila dilakukan secara bersama-sama hingga gunung plastik raksasa dapat dikalahkan untuk bumi yang semakin lestari.
Penulis: Haninditya Tribuana
Editor: Nuzulul Magfiroh, Nurjannah
Referensi
Unep.org. (2025). Amid Efforts to End Plastic Pollution, Millions of Waste Pickers Become a Focus. Diakses 30 Mei 2025, dari https://www.unep.org/news-and-stories/story/amid-efforts-end-plastic-pollution-millions-waste-pickers-become-focus
Kemenlh.go.id. (2025). Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025. Diakses 30 Mei 2025, dari https://kemenlh.go.id/news/detail/hari-lingkungan-hidup-sedunia-2025
Antaranews.com. (2024). BRIN ingatkan dampak sampah plastik di laut, bisa hanyut hingga Afrika. Diakses 30 Mei 2025, dari https://www.antaranews.com/berita/4325863/brin-ingatkan-dampak-sampah-plastik-di-laut-bisa-hanyut-hingga-afrika
Lestari.kompas.com (2025). 350 ribu ton sampah plastik masuk ke laut Indonesia pada 2024. Diakses 31 Mei 2025, dari https://lestari.kompas.com/read/2025/02/14/175817386/350-ribu-ton-sampah-plastik-masuk-ke-laut-indonesia-pada-2024



