Hari Ayah Nasional: Melihat Iwan Fals Mengabadikan Anak Lewat Lagu

Apresiasi – Setiap tanggal 12 November, Indonesia memperingati Hari Ayah Nasional. Momentum ini awalnya berasal dari audiensi yang dilakukan oleh Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi (PPIP) pada tahun 2006, di Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Mengutip dari detik.com, Hari Ayah Nasional ini awalnya berasal dari penulisan surat untuk memperingati Hari Ibu Nasional tanggal 22 Desember 2006. Menariknya, ada salah satu yang bertanya, “kapan menulis untuk hari ayah?”. Atas dasar ini, PPIP kemudian mengajukan audiensi ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surakarta. Setelah melakukan 2 tahun lamanya kajian, DPRD menyetujui usulan PPIP ini dengan menetapkan tanggal 12 November sebagai Hari Ayah Nasional. 

 

Di tengah perayaan Hari Ayah Nasional sebagai perayaan tahunan, sosok musisi sekaligus sosok ayah yang jarang disorot publik adalah Iwan Fals. Ia merupakan sosok musisi legendaris yang lagu-lagunya dikenal vokal dalam mengkritik isu sosial, politik, dan kemanusiaan. Namun, sebenarnya di balik karya-karyanya yang vokal mengkritik, ia adalah seorang sosok ayah yang mengekspresikan rasa cintanya melalui cara yang unik dan abadi, yakni melalui penciptaan lagu. Salah satu karyanya yang paling terkenal dalam mengabadikan salah satu anaknya menjadi sebuah lagu yakni “Galang Rambu Anarki”. Selain itu, mengutip dari hypeabis.id, beberapa lagu dan album dari Iwan Fals yang dipersembahkan untuk anak-anaknya ialah Galang Rambu Anarki (1982), Annisa Cikal Rambu Bassae (1991), dan Raya Rambu Rabbani (2013).  

 

Membedah lagu-lagu Iwan Fals “Galang Rambu Anarki”, “Annisa”, dan “Raya”, masing-masing lagu memiliki makna tersendiri. Sekadar mengucapkan ulang tahun, tetapi lagu-lagu tersebut juga memaknai kondisi realitas sosial yang sedang terjadi pada masing-masing tahun anak Iwan Fals lahir. Dikutip dari kompas.tv, kelahiran Galang terjadi menjelang pemilihan umum (pemilu). Pada saat itu juga, kondisi harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia sedang naik melambung tinggi. Hal ini direpresentasikan melalui penggalan lirik “lahir awal Januari menjelang pemilu, tangisan pertamamu ditandai bbm membumbung tinggi.”

 

Beralih ke lagu berjudul “Annisa” yang dipersembahkan untuk anak kedua Iwan Fals, yang biasa dikenal sebagai Cikal. Lagu kedua ini menceritakan bagaimana kondisi ketika Cikal masih dalam perut ibunya. Pada masa itu, Jakarta sedang porak-poranda akibat Tragedi Tanjong Priok 1984. Hal ini direpresentasikan melalui lirik “di Tanjong Priok sana ada orang marah, penjuru Jakarta dicumbu resah”. Selain menceritakan isu sosial yang terjadi pada tahun tersebut, lagu “Annisa” juga merupakan  sebuah doa besar bagi Cikal, dengan lirik yang berarti amat dalam, “cepatlah besar matahariku, menangis yang keras janganlah ragu, tinjulah congkaknya dunia buah hatiku, doa kami di nadimu.” Selain diabadikan melalui lagu berjudul “Annisa”, anak kedua dari Iwan Fals yang kerap disapa Cikal itu juga memiliki kesempatan untuk membuat ilustrasi cover album milik Iwan Fals yang berjudul “Cikal” pula. Album Cikal dirilis pada tahun 1991. 

 

Setelah lagu “Galang Rambu Anarki” dan “Annisa”, terbitlah lagu berjudul “Raya” yang dipersembahkan untuk putra bungsu Iwan Fals. Lagu ini berisi doa-doa penuh Iwan Fals sebagai seorang ayah bagi Raya, anak ketiganya. Lirik-liriknya sangat menjelaskan bagaimana Iwan Fals memberikan doa dan harapan bagi Raya, dengan salah satu liriknya, yakni “janganlah sombong jangan jadi penipu, bergembira selalu tolong orang yang tak mampu.”

 

Iwan Fals berhasil mengabadikan anak-anaknya menjadi sebuah lagu. Bukan hanya sekadar lagu, tetapi juga doa dan harapan ke depan bagi seluruh buah hatinya. Melalui lagu-lagu yang sudah tercipta, Iwan Fals memberikan hadiah istimewa bagi anak-anaknya sekaligus warisan keabadian. Bahkan, ketika anak pertama Iwan Fals, Galang, wafat, namanya masih ada, diingat, dan terkenang hingga kini.

 

Dari Iwan Fals, kita dapat belajar bahwasannya rasa kasih sayang seorang ayah tidak hanya dapat diekspresikan dengan cara cium tangan sebelum berangkat sekolah, atau memberikan uang saku kepada anak ketika ada di perantauan, tetapi juga dengan karya-karya besar seperti tulisan, puisi atau bahkan lagu, menjadi cara unik yang lain untuk tetap mengekspresikan rasa sayang dan cinta kepada anak. 

 

Penulis: Mayllika Ardiva Pramesti

Editor: Nuzulul Magfiroh, Nurjannah

 

Referensi:

Firdaus, I. 2023. Sepenggal Kisah Lagu Galang Rambu Anarki: Pemilu, Tahun Baru dan Harga-Harga Melambung Tinggi. https://www.kompas.tv/nasional/471960/sepenggal-kisah-lagu-galang-rambu-anarki-pemilu-tahun-baru-dan-harga-harga-melambung-tinggi

Milagista, A. 2024. Sejarah Hari Ayah Nasional Yang Diperingati Setiap Tanggal 12 November. https://www.detik.com/jateng/berita/d-7634061/sejarah-hari-ayah-nasional-yang-diperingati-setiap-tanggal-12-november

Riandi, A. P., dan Maharani, D. 2024. Cerita Iwan Fals Ciptakan Lagu untuk Si Bungsu, Raya. https://www.kompas.com/hype/read/2024/07/30/083946066/cerita-iwan-fals-ciptakan-lagu-untuk-si-bungsu-raya

Scroll to Top