(Sumber: iStock.com dan bulkbetaglucan.com)
Apresiasi – Hari Gizi Nasional menjadi hari peringatan mengenai kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya gizi yang seimbang dan berkualitas. Namun, seiring berkembangnya waktu, apakah gizi masyarakat Indonesia sudah tercukupi?
Dikutip dari Wikipedia, gizi merupakan substansi organik asupan makanan yang diterima dan diserap oleh tubuh dengan fungsi untuk memelihara kesehatan dan menjaga keberlangsungan organ-organnya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gizi adalah zat makanan pokok yang diperlukan bagi pertumbuhan dan kesehatan badan.
Di Indonesia, gizi memiliki konsep atau panduan tersendiri yang sudah melekat dan tak asing lagi untuk didengar oleh kalangan masyarakat. Konsep tersebut biasa dikenal dengan “Tumpeng Gizi Seimbang”.
Tumpeng Gizi Seimbang merupakan pedoman mengenai jenis dan jumlah makanan yang sebaiknya dikonsumsi setiap hari untuk memastikan asupan gizi yang seimbang bagi tubuh.
Konsep ini terdiri dari makanan pokok seperti nasi dan roti (sumber karbohidrat), lauk pauk seperti daging (sumber protein dan lemak), sayur mayur dan buah-buahan (sumber vitamin), serta disempurnakan dengan susu (sumber mineral) untuk menjadi lima sempurna.
Tumpeng Gizi Seimbang menekankan pentingnya empat golongan makanan berupa sumber karbohidrat untuk menjaga energi dan tenaga tubuh, sumber protein sebagai zat pembangun tubuh, serta sumber vitamin dan mineral sebagai zat pengatur dan pemelihara tubuh.
Namun, konsep tersebut hanya dianggap seperti angin lewat oleh sebagian masyarakat. Banyak masyarakat menganggap bahwa konsep tersebut tidak relevan lagi seiring berjalannya waktu. Akibatnya, terjadi berbagai permasalahan gizi buruk serta stunting di masyarakat, terlebih pada anak kecil.
Dikutip dari CNN Indonesia, “Sekitar 21 juta orang atau 7 persen dari populasi kekurangan gizi dengan asupan kalori per kapita harian di bawah standar Kementerian Kesehatan sebesar 2.100 kkal,” ungkap Head of Agriculture Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Aditya Alta.
Selain itu, Aditya juga mencatat bahwa pada tahun 2022 ada 21,6 persen anak Indonesia berusia di bawah lima tahun mengalami stunting dengan rasio tinggi berbanding usia yang rendah.
Langkah-langkah efektif seperti program suplementasi gizi dan pengembangan pangan lokal perlu dilakukan oleh pemerintah supaya fenomena tersebut tidak semakin berkembang parah di Indonesia.
Tidak hanya pemerintah yang dapat memberi suatu langkah, masyarakat pun dapat turut serta membantu mengurangi peristiwa kurang gizi dan stunting ini.
Contohnya dengan kampanye di lingkungan serta media sosial akan pentingnya gizi, atau bahkan dengan mengadakan acara memasak bersama dengan masyarakat sekitar.
Dengan peringatan Hari Gizi Nasional, diharapkan seluruh masyarakat dapat tersadarkan akan pentingnya konsumsi gizi yang seimbang serta ikut berpartisipasi membangun kualitas gizi yang baik di Indonesia.
Mari Rayakan Hari Gizi Nasional dengan Indonesia yang sehat! Selamat Hari Gizi Nasional!
Penulis: Muhammad Farrel Danendrahadi
Editor: Ayu Nisa’Usholihah, Hesti Dwi Arini
Referensi:
CNN Indonesia. (2023). “21 Juta Warga RI Kekurangan Gizi dan 21,6 Persen Anak Stunting,” cnnindonesia.com. (Diakses pada 20 Februari 2024, https://www.cnnindonesia.com/nasional/20230709144437-20-971275/21-juta-warga-ri-kekurangan-gizi-dan-216-persen-anak-stunting)




