Apresiasi – Setiap tanggal 24 September, Indonesia merayakan Hari Tani Nasional. Sebuah hari yang dapat menjadi suatu momentum bagi kita untuk sejenak merenungkan dan mengingat bahwa di balik sepiring nasi yang kita santap, sayur yang kita beli di pasar, hingga secangkir kopi yang kita nikmati setiap pagi, ada kerja keras dari petani. Bukan sekadar “pekerja sawah”, petani merupakan tulang punggung bangsa. Tanpa mereka, kedaulatan pangan Indonesia mungkin hanya sebatas mimpi belaka. Namun, realitas kehidupan petani tidak semanis perannya, petani yang merupakan penyedia pangan bagi kita semua justru sering kali berada di posisi rentan.
Kontribusi vital petani di Indonesia tidak selalu diiringi penghargaan yang layak. Berdasarkan data survei Sosial Ekonomi Nasional yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 menunjukkan bahwa lebih dari 10 juta petani di Indonesia masih tergolong dalam kategori penduduk miskin dengan pendapatan hanya senilai Rp15.000 per harinya. Sebuah ironi besar bagi Indonesia yang kerap membanggakan identitas sebagai negara agraris. Harga pupuk yang semakin melonjak, lahan bertani yang semakin terbatas, panjangnya rantai logistik, hingga masifnya impor pangan dalam beberapa tahun terakhir ini menjadi rintangan yang tak pernah usai dihadapi oleh petani.
Kondisi ini memerlukan perhatian serius. Dukungan kebijakan yang berpihak pada petani sangat penting untuk menjadi kunci pada kesejahteraan mereka, dengan reforma agraria yang adil, subsidi pupuk, jaminan harga panen yang stabil, serta perlindungan dari permainan pasar. Masyarakat juga memiliki peran, dengan senantiasa membeli produk lokal dan tidak menyia-nyiakan makanan akan menjadi sebuah bentuk penghormatan bagi setiap keringat petani.
Hari Tani Nasional sudah seharusnya tidak hanya dirayakan sebagai seremoni. Momentum ini menjadi pengingat bahwa sejatinya petani adalah penopang bangsa. Mari tanyakan pada diri kita sendiri, apakah kita sudah benar-benar peduli dengan mereka yang memastikan kita dapat hidup dari hari ke hari? Karena setiap hasil tani berkontribusi pada setiap aspek hidup, maka menghargai petani juga berarti menghargai kehidupan.
Penulis: Lutfia Salma Raihana
Editor: Nuzulul Magfiroh, Nurjannah
Referensi:
Naufalia, D. (2024, September 25). Kenapa petani RI banyak yang miskin dan susah sejahtera?.CNN. https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20240925061646-92-1147962/ kenapa-petani-ri-banyak-yang-miskin-dan-susah-sejahtera/1



