Halaman Muka Surat Kabar Medan Prijaji Tahun Terbit 1910 (Sumber: Rri.co.id)
Apresiasi – Medan Prijaji (dibaca Medan Priyayi) merupakan surat kabar pertama milik bumiputera yang didirikan oleh Raden Mas Tirto Adhi Soerjo, atau lebih dikenal dengan RM Tirto, pada 1 Januari 1907. Eksistensinya menjadi pelopor bagi lahirnya surat kabar lain yang turut menyebarkan semangat perjuangan.
Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1985, Presiden Soeharto menetapkan 9 Februari sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Penetapan ini diambil dari hari lahirnya organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 9 Februari 1946.
Dari masa ke masa, pers di Indonesia terus berkontribusi dalam menyebarluaskan berita dan informasi kepada masyarakat. Kini, industri pers di Indonesia semakin berkembang dengan hadirnya berbagai surat kabar cetak maupun digital.
Tahukah teman-teman bahwa surat kabar sudah digunakan sebagai media informasi sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda? Pada saat itu, surat kabar tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyebaran berita, tetapi juga sebagai media perlawanan terhadap kebijakan Belanda. Salah satu tokoh yang memanfaatkannya adalah RM Tirto melalui surat kabarnya, Medan Prijaji.
Medan Prijaji lahir dari keinginan RM Tirto untuk menghadirkan surat kabar yang dapat dibaca oleh seluruh kalangan masyarakat tanpa terbatas oleh wilayah maupun status sosial.
Jauh sebelum kehadiran Medan Prijaji, surat kabar berbahasa Belanda sudah banyak diterbitkan sejak abad ke-18, di Indonesia (dahulu Hindia Belanda), terutama untuk mendukung kepentingan pemerintah kolonial. Surat kabar hasil terbitan Belanda antara lain yaitu, Bataviase Nouvelles (1744), Bataviase Koloniale Courant (1810), The Java Goverment Gazzete (1812), Javasche Courant (1829), Verhandeling an het Bataviaasch Genotschap dan Tijdschrift voor Nederlandsche-Indie (1838), Java Bode (1852), serta Bataviasch Nieuwsblad (1885).
Penerbitan surat kabar yang beredar di Batavia (kini Jakarta) tersebut kian menyebar ke daerah lainnya seperti Surabaya (Soerabajasch Advertentieblad, 1836), Semarang (Semarangsch Advertentieblad dan Semarangsch Courant, 1845-1846), Padang (Tjahaja Soematra, 1897), dan Medan (Deli Courant, 1885).
Sejak saat itu, perkembangan surat kabar di Indonesia semakin pesat. Ditambah lagi dengan munculnya Pers Tionghoa dan Pers Indonesia.
Berkembangnya kehidupan pers pada saat itu memberi kesempatan bagi RM Tirto untuk turut serta dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Pers menjadi sarana untuk melakukan perlawanan dengan memberikan kritikan terhadap pemerintahan kolonial.
Atas dasar itu, pada tahun 1907, RM Tirto resmi mendirikan surat kabar Medan Prijaji. Penerbitan surat kabar ini termasuk salah satu upaya perjuangan di era kebangkitan nasional.
Pada mulanya, surat kabar yang beredar hanya sebatas memuat berita harian dan pengiklanan saja. Kehadiran Medan Prijaji memberi gebrakan baru di dunia pers bahwa surat kabar harus turut dalam berpolitik.
RM Tirto terkenal sebagai sosok yang kritis dengan gaya tulisannya yang bersifat radikal, penuh sindiran, dan tidak basa-basi. Medan Prijaji dijadikannya tempat untuk menampung keluhan hingga penderitaan yang dialami oleh masyarakat sebangsanya.
Medan Prijaji diterbitkan dengan membawa delapan pedoman guna menciptakan iklim pers yang memihak kepada “orang-orang terperintah”.
Pedoman itu meliputi, memberi informasi, menjadi penyuluh keadilan, memberikan bantuan hukum, menjadi tempat pengaduan bagi orang tersia-sia, membantu orang mencari pekerjaan, menggerakkan bangsanya untuk berorganisasi atau mengorganisasi diri, membangun dan memajukan bangsanya, serta memperkuat bangsanya dengan usaha dan perdagangan.
Keberhasilan RM Tirto dalam membangun Medan Prijaji, ia gunakan untuk menerbitkan surat kabar Poetri Hindia (1908), yakni surat kabar khusus perempuan pada saat itu. Perlu kita ketahui bahwa dalam perjalanan kariernya, RM Tirto memimpin redaksi surat kabar Soenda Berita pada tahun 1903.
Melalui surat kabar yang diterbitkannya, RM Tirto turut mencerdaskan masyarakat dengan pemberian edukasi mengenai ilmu pengetahuan yang didapatkan selama menempuh pendidikan di School tot Opleiding van Inlandsche (STOVIA).
Sayangnya, keberadaan Medan Prijaji hanya berlangsung selama lima tahun. Surat kabar pemantik semangat perjuangan pemuda di era kebangkitan nasional itu terpaksa untuk menghentikan penerbitannya.
Bangkrutnya Medan Prijaji disebabkan oleh berbagai hal. Pergantian Gubernur Jenderal JB Van Heutsz menjadi AWF Idenburgh di tahun 1909 membuat kebebasan pers seketika hilang. Tulisan lantang RM Tirto untuk membangun semangat rakyat berakhir menjadi alasan penjegalan oleh pemerintah.
Pada 18 Maret 1910, RM Tirto ditangkap dan diasingkan ke Teluk Betung, Lampung, selama dua bulan.
Permasalahan finansial Medan Prijaji pada tahun 1911 menambah keterpurukan RM Tirto sebagai pemilik surat kabar tersebut. Penurunan pendapatan dikarenakan banyak pelanggan yang menunggak pembayaran dan perusahaan mitra membatalkan pemasangan iklan.
Pendapatan yang kian menurun membuat Medan Prijaji tidak dapat membayar utang sehingga pada Januari 1912 surat kabar itu menghentikan penerbitan. Medan Prijaji dinyatakan berhenti pada 22 Agustus 1912.
Walaupun usia Medan Prijaji hanya lima tahun, tetapi surat kabar ini mampu menjadi senjata perjuangan kaum muda untuk memperjuangkan kemerdekaan. Adanya Medan Prijaji memberi arti bahwa kebebasan berpendapat harus dimiliki oleh setiap orang tanpa membedakan latar belakang yang ada.
RM Tirto resmi dinobatkan sebagai Bapak Pers Indonesia berkat kegigihan dan peran yang diberikan untuk membangun semangat para pemuda melawan belenggu penjajahan.
Penulis : Sintya Dewi Artha
Editor : Nuzulul Magfiroh
Referensi :
Hamid, P.I. 2018. Medan Prijaji 1907-1912: Media Kemajuan Rakyat Bumiputera Hindia Belanda. Skripsi. Universitas Diponegoro
Hutagalung, I. 2013. Dinamika sistem pers di Indonesia. Jurnal Interaksi, 2(2): 53-60
Kompas.com (2024, 8 Agustus). Medan Prijaji, Pelopor Pers Nasional. Diakses pada Rabu (5/2)dari https://www.kompas.com/stori/read/2024/08/08/210000079/medan-prijaji-pelopor-pers-nasional?page=all#page2
Rri.co.id. (2024, 9 Februari). “Medan Prijaji” Disebut sebagai Pelopor Pers Nasional. Diakses pada Selasa (4/2) dari https://rri.co.id/daerah/550322/medan-prijaji-disebut-sebagai-pelopor-pers-nasional
Sitorus, M.S.M. 2023. Surat kabar Medan Prijaji: Media aspirasi rakyat pribumi dan pemantik kesadaran edukasi. JEJAK: Junal Pendidikan Sejarah & Sejarah FKIP Universitas Jambi, 3(2): 1-10.




