
Ilustrasi ayah sedang menggendong anaknya (Sumber: Beritasatu.com)
Apresiasi – Pembentukan karakter dalam kepribadian seorang anak sangat dipengaruhi oleh hasil dari pengasuhan yang seimbang antara kedua orang tua. Dalam konteks ini, orang tua mempunyai peran fundamental dalam memberikan pengasuhan yang optimal, baik dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan stabilitas emosional anak.
Ketidakhadiran satu orang tua, baik secara fisik, emosional, maupun total, jelas akan menimbulkan segudang pertanyaan dan berdampak nyata bagi masa pertumbuhan hingga dewasa. Perkembangan ini akan membentuk siklus ketidaksetaraan yang diperkuat akibat terkikisnya serta terhambatnya pertumbuhan modal sosial anak yang sangat dibutuhkan sebagai bekal masa depan mereka.
Dalam persoalan keluarga, istilah “fatherless” kerap kali didengar dan menjadi topik perbincangan di media sosial. Indonesia sempat dijuluki sebagai “fatherless country” dengan posisi ketiga di dunia. Meskipun faktanya masih belum ada publikasi ilmiah yang menyatakan hal tersebut secara empiris, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa fenomena ini merupakan persoalan terbesar yang akan selalu dihadapi dalam permasalahan global.
Seperti halnya penelitian yang telah dilakukan oleh Will Robertson, seorang Profesor Goldsmith. Ia menyatakan secara khusus bahwa setiap anak yang berada pada rumah tangga yang dipimpin oleh seorang ibu dan tanpa kehadiran sosok ayah, memiliki kemungkinan hidup dalam kemiskinan hampir lima kali lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak yang tumbuh di rumah tangga dengan kondisi yang utuh.
“Berdasarkan literatur, kehadiran ayah berpengaruh terhadap perkembangan emosional, prestasi akademik, keterampilan sosial, perilaku disiplin, pengembangan identitas, kesehatan fisik, bahkan pengaruh ekonomi,” ungkap @adziqaammara_ dalam unggahan akun TikTok pribadinya yang menyoroti bagaimana urgensi kehadiran sosok ayah dalam keluarga.
Di samping itu, persoalan terhadap rentannya kenakalan remaja, kontrol emosional yang rendah, serta tingkat agresivitas yang tinggi pada anak menjadi konsekuensi nyata yang dirasakan akibat fenomena fatherless. Pada dasarnya, banyak penelitian yang mengatakan bahwa ketidakhadiran sosok ayah tercermin dalam perkembangan maskulinitas pada anak laki-laki dan feminitas pada anak perempuan. Anak laki-laki yang tumbuh tanpa ayah dapat dengan mudah terlibat dalam kejahatan dan perilaku destruktif, sedangkan anak perempuan lebih cenderung terlalu bergantung dan memiliki internalisasi seperti kecemasan dan depresi.
Dalam kasus ini, kita bisa mengambil contoh bayi viral yang hangat diperbincangkan di media sosial, yaitu Kenkulus dan Abe Cekut. Dapat dilihat bahwa mereka dikenal sebagai bayi pintar dengan keterampilan sosial dan kepercayaan diri yang tinggi. Banyak warganet menganggap bahwa hal tersebut dipengaruhi oleh kehadiran sosok ayah yang efektif dalam proses pengasuhan. Bukan hanya kuantitas waktu yang dihabiskan oleh ayah dan anak yang penting, tetapi kualitas interaksi antara ayah dan anak juga tidak kalah pentingnya.
“Dampak kondisi fatherless pada psikologi anak berpengaruh pada rasa aman anak. Rasa aman sangat dibutuhkan anak untuk perkembangan self-esteem dan rasa harga diri, serta juga membuat anak memiliki rasa optimis,” ucap Melissa Magdalena, seorang Psikolog Anak dalam kanal YouTube-nya ‘Hallo Bunda’.
Budaya kekerabatan di Indonesia menjadi keberuntungan tersendiri bagi warganya, di mana stigma bahwa ibu selalu berurusan dengan aspek domestik dan ayah dengan aspek publik membuat fenomena ini kerap kali diabaikan. Keluarga yang tidak utuh tanpa kehadiran sosok ayah akan mengakibatkan anak cenderung lebih tertutup terhadap ayahnya dan lebih terbuka terhadap ibunya. Hal ini sering kali tidak dirasakan oleh keluarga di Indonesia sehingga mereka merasa keluarganya baik-baik saja. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan masyarakat di mana banyak perempuan yang juga bekerja, ketidakhadiran ayah mulai sangat terasa di dalam keluarga.
Lalu siapa yang salah? Perlu diingat bahwa isu fatherless bukan hanya masalah sepihak saja, melainkan lingkup keluarga yang saling berkaitan. Jika berbicara mengenai konsep ideal, ini bukan berarti salah maupun benar. Pada hakikatnya, secara ideal kedua peran tersebut sangat dibutuhkan untuk membentuk karakter anak dengan cinta dan kasih sayang yang diberikan. Banyak anak yang merasakan bahwa mereka memiliki ayah secara fisik, tetapi secara bersamaan mereka juga kehilangan ayah secara psikologis.
Selain pernyataan di atas, penting juga untuk mengakui bahwa dalam beberapa kasus, kehadiran seorang ayah dianggap “berbahaya” dalam rumah tangga. Ayah yang kasar atau tidak terlibat dalam perannya, meskipun hadir secara fisik dalam kehidupan rumah tangga, tentu dapat merugikan anak-anak, yang akan lebih baik jika hidup tanpa ayah mereka.
Tentu, hal ini merupakan persoalan utama yang harus diantisipasi untuk menjaga kesejahteraan hak anak yang kian memburuk, di mana banyak anak tidak merasakan ruang aman meskipun di dalam rumah. Mereka cenderung menghabiskan waktu dan mencari-cari kegiatan di luar rumah untuk menjaga kesehatan mental mereka yang tidak terpenuhi. Tidak dapat dipungkiri, faktor utama yang menyebabkan tingkat depresi anak yang tinggi saat ini adalah faktor lingkungan keluarga yang memicu penurunan kesehatan fisik dan emosional anak mereka sendiri.
Dengan demikian, perlu adanya perubahan mindset atau pemikiran tradisional serta prestise ayah untuk meningkatkan perkembangan anak yang lebih baik. Esensi peran ayah bukan hanya sebatas memberikan keamanan materi, melainkan juga menjadi panutan bagi anak untuk memimpin dan memberikan contoh yang baik secara moral berdasarkan nilai-nilai kehidupan yang akan menjadi pedoman hidup anak dalam bertindak dan berperilaku.
Harapan besar agar momentum Hari Anak Nasional dapat menjadi parameter untuk melahirkan kebijakan dan aksi-aksi dalam melindungi hak esensial anak secara berkelanjutan. Selamat Hari Anak Nasional!
Penulis: Elsa Febrielly Wulandari
Editor: Nuzulul Magfiroh, Hesti Dwi Arini, Ayu Nisa’Usholihah
Referensi :
Ashari, Yulinda. 2017. Fatherless in Indonesia and its Impact on Children’s Psychological Development. Faculty of Psychology. UIN Syarif Hidayatullah : Jakarta. Vol.15



