Warung Makan Bu Nur: Penyelamat Mahasiswa yang Penuh Kenangan

Tampak depan Warung Makan Penyet Bu Nur di Jalan Mulawarman Utara Dalam II. (Sumber: Mala/Manunggal)

Siapa yang tidak mengenal tempat ini? Warung yang selalu masuk dalam daftar rekomendasi kuliner di Tembalang, namanya Warung Makan Penyet Bu Nur, tapi nyaris seluruh mahasiswa menyebutnya dengan Bu Nur saja. Kata orang, jangan mengaku pernah kuliah di Undip kalau tidak pernah mampir ke warung ini barang sekali. Letaknya di Jalan Mulawarnam Utara Dalam II, tidak terlalu jauh dari jalan raya, namun cukup tenang dari suara bising kendaraan yang berlalu-lalang.

Undip yang merupakan kampus berisikan ribuan mahasiswa dari seluruh penjuru Indonesia tentu saja mampu menghadirkan ribuan pendatang baru di wilayah Tembalang dan sekitarnya tiap tahun. Menilik peluang usaha tersebut, berjejer warung makan di sisi kanan-kiri jalan. Berbeda dengan warung lain, Warung Bu Nur tidak kunjung menyepi meskipun jam makan siang telah usai, bahkan beberapa masih tetap tinggal meski makanan di meja mereka telah tandas.

Interior di warung makan ini cenderung sederhana namun luas. Terdapat kursi panjang yang bisa diduduki hingga empat orang dan meja panjang. Di depan warung, langsung terdapat etalase yang berisi telur balado, lele goreng, kerupuk, dan berbagai gorengan. Untuk menu sendiri tertempel di kaca etalase tersebut dan ketika ingin memesan langsung menuliskannya di kertas pesanan.

Warung makan ini didirikan oleh Pak Sugiyar. Sejak tahun 2011 hingga kini, Warung Makan Penyet Bu Nur selalu menjadi tempat legendaris tersendiri di hati mahasiswa Undip. Nama ‘Nur’ sendiri merupakan nama istri dari Pak Sugiyar. Dalam menjalankan usahanya, Pak Sugiyar dan Bu Nur tidak berdua saja melainkan dibantu oleh 12 karyawannya.

Beberapa menu yang saya pesan di Warung Makan Penyet Bu Nur; Omelet bakar (piring bagian depan), gongso babat (mangkuk), ceker setan (piring bagian belakang). (Sumber: Mala/Manunggal)

Memilih Warung Bu Nur sebagai tempat makan siang, saya memesan omelet bakar, gongso babat, dan ceker setan. Omelet bakar sendiri merupakan campuran telur dan mi yang dibakar dan diberi bumbu khas bakaran. Dalam penyajiannya ditambahkan sambal untuk menambah cita rasa pedas. Pada gongso babat sendiri terdiri atas: babat sapi; sayur-sayuran seperti kol; dan kuah khas gongso – saya memilih rasa pedas. Sedangkan ceker setan merupakan kaki ayam yang dibumbui denngan banyak sambal.

Sebenarnya menu makanannya pun sangat beragam, mulai dari berbagai macam gongso, penyetan, hingga nasi orak-arik telur yang harganya pun tentu sangat terjangkau di kantong mahasiswa, yaitu mulai dari lima ribu hingga dua puluh ribu rupiah. Di Warung Makan Penyet Bu Nur ini, menu andalan dan paling sering dipesan adalah omelet bakar dan nasi orak-arik telur.

Teman saya yang bernama Gilang berkata, “Menu makanan di sini beda dengan warung makan lain.” Kemudian mahasiswa Akutansi itu melanjutkan, “Harganya murah dan rasanya enak banget.”

Setelah saya selesai makan, saya berkesempatan untuk berbincang dengan Pak Sugiyar. Beliau menuturkan bahwa tidak mudah ketika merintis warung makan ini di awal.

“Sejak saya lulus SMA, saya langsung ingin membuka bisnis sendiri. Agak sulit karena saya ndak ada uang untuk modal awalnya, membuka warung dari pagi hingga malam, dan ya akhirnya seperti sekarang,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah lokasi Warung Makan Bu Nur ini adalah kediamannya juga atau bukan, beliau menjelaskan, “Wah iya saya memang tinggal di sini,” imbuh Pak Sugiyar.

Hal yang menarik sekaligus menghibur adalah ketika makanan pesanan telah selesai dibuat. Alih-alih menggunakan nomor meja karena terlalu banyak pengunjung, di warung ini nama pemesan akan diucapkan keras dan sang pembeli harus menyahut atau mengacungkan tangan, lalu makanan akan diantar ke meja pemesan. Metode ini lebih menghibur dan mengundang tawa ketika pengunjung menggunakan nama yang unik sebagai nama pemesan, seperti ‘Mancing Mania’, ‘Takbir’, atau bahkan ‘Tarik, Sis’.

Ketika ditanya mengenai perubahan dari segi pembeli dan segi ekonomi karena pandemi, Pak Sugiyar cukup kesulitan, apalagi Tembalang yang biasanya diisi ribuan mahasiswa kini sudah tak seramai dulu. “Sulit untuk berbicara keadaan saat kaya gini apalagi usaha tempat makan, harga bahan pangan meningkat, mau berharap bantuan juga tidak mungkin, ya sebisa mungkin bertahan saja,” tuturnya.

Pak Sugiyar juga menuturkan bahwa Warung Makan Bu Nur memiliki kemungkinan untuk mengubah harga, tergantung harga dari bahan pangan itu sendiri. “Ya terpaksa harganya kemungkinan nanti kita naikkan,” jelasnya.

Warung Makan Bu Nur menghadirkan hidangan yang memanjakan lidah namun harganya tetap pas di kantong mahasiswa. Tidak hanya sekedar penghilang rasa lapar, namun memberi kenangan tersendiri bagi para pengunjungnya. Lalu, apa menu favoritmu di Warung Bu Nur?

 

Penulis: Malahayati Damayanti Firdaus Mahasiswa Fakultas Kedokteran 2019

Editor: Fidya Azahro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *