Vaksin Nusantara Buatan Undip Lolos Uji Tahap 1, Ganjar Siap Berikan Dukungan

Ilustrasi: Manunggal

Warta Utama – Dinyatakan lulus uji klinis tahap pertama dengan uji coba terhadap 27 relawan pada Kamis (17/02), kini vaksin Nusantara akan memasuki uji klinis tahap kedua yang rencananya melibatkan 180 relawan. Vaksin Nusantara – yang dikenal dengan AV-Covid-19 – merupakan jenis vaksin yang dikembangkan oleh Universitas Diponegoro yang bekerja sama dengan RSUP dr Kariadi Semarang.

Tahapan pemberian vaksin ini diawali dengan pengambilan darah pasien, kemudian dipisahkan antara sel darah putih dengan sel dendritik atau sel pertahanan yang merupakan komponen sistem imun. Sel dendritik inilah yang berfungsi untuk mengenali wujud serta karakteristik dari Covid-19.

Selanjutnya, sel dendritik dipaparkan dengan antigen protein S dari SARS-CoV-2. Sel ini yang nantinya akan diinjeksikan kembali ke dalam tubuh manusia. Di dalam tubuh, sel dendritik tersebut akan memicu sel-sel imun lain untuk membentuk sistem pertahanan terhadap SARS-CoV-2.

Vaksin berbasis sel dendritik ini sebelumnya pernah muncul pada Desember 2020 dengan nama Joglosemar. Penelitian Joglosemar mendapatkan dukungan dari mantan Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto. Kini vaksin berbasis sel dendritik dikembangkan lebih lanjut oleh Undip. Vaksin ini nantinya digarap oleh PT Rama Emerald Multi Sukses (Rama Pharma). Humas Rama Pharma menyebut, teknologi dendritik didapat dari kerja sama dengan AVITA Biomedical Inc. dari Amerika Serikat. Namun produksi dan distribusi dilakukan secara independen.

Pada uji klinis fase pertama, pembiayaan semuanya ditopang oleh Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbangkes) serta mendapat dukungan penuh dari Kementrian Kesehatan (Kemenkes). Hal tersebut telah dikonfirmasi oleh kepala Balitbangkes, dr. Slamet MHK.

“Jawabannya iya, kita yang membiayai,” ujarnya dalam konferensi pers FKUI terkait Study Recovery di Indonesia pada Jumat (19/02), sebagaimana dilansir dari detikhealth.com.

Vaksin hasil riset anak bangsa ini mendapat banyak respon baik, salah satunya Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Pihaknya menyatakan siap untuk mengawal riset ini dengan memberikan berbagai fasilitas, mengingat selama ini penelitian hanya dilakukan di Universitas Diponegoro dan RS Kariadi Semarang saja.

“Kalau nanti umpama butuh tempat lain untuk penelitian, umpama butuh rumah sakit lain sebagai tempat riset, saya siap mendukung penuh. Tujuh rumah sakit milik pemprov akan saya berikan semuanya untuk itu,” tegasnya, dilansir dari jatengprov.go.id.

Meskipun Vaksin Nusantara bersifat personalized dan individual, Ganjar tetap mendukung penuh terhadap pengembangan vaksin tersebut. Menurutnya, karena sampel dari vaksin ini diambil dari orang Indonesia, dinilai ada karakter yang khas dari orang Indonesia dan DNA-nya juga tidak jauh berbeda.

Beberapa keunggulan yang diklaim dari vaksin ini yaitu biaya produksi tidak besar karena tidak memerlukan pabrik; tidak ada vaksin yang terbuang karena menggunakan sel dendritik pasien langsung; biaya pengiriman juga relatif rendah karena tidak membutuhkan alat penyimpanan suhu di bawah 80 derajat celcius; serta efektif untuk segala usia, mulai anak-anak, lansia, hingga orang dengan penyakit komorbid.

 

Reporter : Diana Putri

Penulis : Diana Putri

Editor : Aslamatur Rizqiyah, Fidya Azahro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *