Semicolon: Menolak Tamat Sebelum Berakhir

Project Semicolon (Sumber: kvc.org)

“ Belum berakhir, belum sampai kau di halaman terakhir. 

Belum berakhir, ceritamu masih panjang jangan kau khawatir, belum berakhir;”

Gaya Hidup – Kutipan lirik lagu Musikal Nurbaya berjudul Belum Berakhir di atas bukan sekadar bait belaka. Bagi seseorang yang hari-harinya bertarung dengan kebisingan kepala, barangkali kalimat ‘belum sampai kau di halaman terakhir’ adalah pelukan hangat untuk melawan kejinya dingin yang dilalui. Secara magis, pesan dalam lagu tersebut bernada sama dengan sebuah simbol kecil yang kini mendunia di kalangan penyintas kesehatan mental, yakni tanda titik koma (;) atau semicolon

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan titik koma (;) sebagai penanda bagian kalimat yang sejenis dan setara, serta pemisah kalimat setara dalam kalimat majemuk untuk menggantikan kata penghubung. Di dunia kepenulisan, semicolon bertugas menyelamatkan sebuah kalimat agar tidak terburu-buru diakhiri dengan titik ketika maknanya belum usai. Filosofi tersebut kemudian melahirkan Project Semicolon dan bermutasi menjadi simbol kekuatan untuk terus bertahan.

Pemaknaan ini dimulai dari gerakan global bernama Project Semicolon yang digagas oleh Amy Bleuel pada tahun 2013 lalu yang berhasil mengubah tanda baca ini menjadi ikon perjuangan. Lewat simbol ini, sebuah pesan sederhana yang sarat akan makna digaungkan, yakni selalu ada harapan bagi mereka yang sedang bertarung dengan depresi, luka trauma, atau pikiran untuk mengakhiri cerita hidup. Ketika depresi atau kecemasan menyergap, pandangan kita sering kali menyempit. Kita merasa hari yang buruk adalah gambaran dari seluruh sisa hidup kita. Kita merasa sudah berada di halaman terakhir buku kehidupan kita, dan bersiap menulis kata “tamat”. Namun, seperti yang diingatkan oleh proyek semicolon dan bait lagu Musikal Nurbaya tadi, kamu adalah penulisnya, bukan pembacanya. Pembaca tidak bisa mengubah alur cerita yang menyedihkan, tetapi seorang penulis bisa. Bagi penulis, selalu ada halaman baru yang menunggu untuk diisi dengan cerita.

Seiring berkembangnya media sosial, semicolon mulai banyak digunakan sebagai foto profil di berbagai platform digital seperti Tiktok, Instagram, X, dan aplikasi lainnya. Fenomena ini bukan sekadar tren estetika visual semata, melainkan sebuah gerakan solidaritas global yang mendalam terkait kesadaran akan kesehatan mental. Selain di ranah digital, semicolon kerap ditunjukkan melalui medium seni, seperti tato pada tubuh atau lukisan abstrak. Hingga hari ini, simbol semicolon tidak pernah kehilangan kekuatannya, karena manusia akan selalu butuh harapan. Kita perlu mengingat bahwa segelap apapun malam pasti akan bertemu dengan fajar. Jadi, untuk kamu yang saat ini sedang memegang pena kehidupan dengan tangan gemetar karena lelah, tariklah nafas dalam-dalam. Jangan biarkan rasa takutmu menaruh tanda titik malam ini. Ceritamu masih panjang, lembar usahamu belum habis, dan bab terbaikmu belum dimulai.

 

Penulis: Aisyah Putri

Editor: Salsa Puspita, Andaru Surya

Referensi:
Chrisnawati, F. (2021). Penggunaan semicolon sebagai photo profil pada media sosial Tik Tok: Studi fenomenologi (Skripsi, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya). Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. http://digilib.uinsa.ac.id/51593/2/Fitri%20Chrisnawati_B75218057.pdf

Diva, E. (2025, 5 Juni). Semicolon dan maknanya menurut psikologi. https://www.kompasiana.com/elzaradiva5489/68413a74ed64155775410702/semicolon-dan-maknanya-menurut-psikologi.

Gramedia. (n.d.). Tanda baca semicolon. Gramedia Literasi.https://www.gramedia.com/literasi/tanda-baca-semicolon

Saputri, Y. D. (2025, 14 Maret). Apa itu semicolon dalam psikologi? Ini penjelasannya dan awal mulanya. https://www.idntimes.com/life/education/apa-itu-semicolon-dalam-psikologi-ini-penjelasan-dan-awal-mulanya-00-q533n-6nnx3p

Scroll to Top