
Sastra – Malam menumpahkan beludru hitamnya perlahan di hamparan indah,
sementara rembulan menyalakan lampu-lampu kecil di sela gelapnya.
Angin membawa harum yang tak berasal dari taman mana pun,
Melainkan dari seseorang yang semesta tak dapat mengakuinya,
Yang diam-diam mengubah arah musim di dalam diri.
Ia bagai mawar dengan keindahan yang tak pernah benar-benar bisa dimiliki.
Seperti lili yang mengajariku tentang kesucian dalam kelopaknya,
Serta selalu merunduk laksana padi di bulan Juni.
Namun, semesta mengajari setiap insan bahwa seluruh keindahan itu rupanya berkumpul pada seorang lelaki yang selalu mencuri setiap iris obsidian itu.
Kau datang tanpa suara,
sehalus embun yang memilih kelopak lili sebagai tempat pertama ia jatuh.
Iris obsidian hitam itu tak meminta siapa pun untuk terpikat,
Namun bintang-bintang pun seakan lupa berkedip ketika cahaya matamu melintas.
Untuknya, semesta mengirim pesan
bahwa dirinya selalu menjadi pusat dari setiap sudut mata ini.
Mata yang tak akan pernah membual
dalam mengakui kesempurnaannya.
Penulis: Kezhia Aulia Prayitna
Editor: Salsa Puspita, Andaru Surya



