Selamat Hari Anak Nasional! Jangan Bungkus Brainrot jadi Kado

Seorang anak sedang menggunakan ponsel untuk menonton video animasi. (Sumber: honeykidsasia.com)

Apresiasi Momentum Hari Anak Nasional yang dirayakan setiap tanggal 23 Juli menjadi waktu yang tepat untuk merefleksikan kembali perihal tumbuh kembang anak. Sembari merayakan, rasanya sekarang kita juga perlu menengok ke ruang-ruang privat di mana anak-anak menghabiskan waktu mereka di depan layar menggunakan media sosial. Bukan tanpa alasan, dampak konsumsi konten-konten yang bermunculan di timeline anak-anak ini ternyata tidak hanya berhenti pada penurunan konsentrasi semata, melainkan juga merambah pada munculnya krisis karakter anak-anak di media sosial yang mereka gunakan sehari-hari. Orang tua yang juga merupakan pengguna media sosial mulai menyaksikan fenomena mengkhawatirkan di mana anak-anak secara konstan kehilangan sopan santun saat berinteraksi di media sosial. Misalnya, anak-anak mulai meniru gaya komunikasi dari konten-konten kurang baik yang berisi umpatan, ejekan, atau humor absurd, lalu menerapkan gaya komunikasi tersebut saat berkomentar di media sosial dan dalam percakapan sehari-hari.

Ketika menghabiskan waktu beberapa jam saja bersama anak-anak usia sekolah dasar hari ini, istilah-istilah asing atau slang kemungkinan besar akan mampir di telinga kita. Munculnya berbagai slang di internet seperti “rizz” hingga “67” sering kali membuat mereka yang tidak terjun dalam algoritma yang sama seperti anak-anak ini akan merasa kebingungan. Namun, bagi anak-anak, istilah-istilah asing atau slang tersebut menjadi bahasa yang familiar dalam pergaulan sehari-hari. Fenomena ini kerap dijuluki sebagai brainrot, yaitu sebuah istilah internet untuk menggambarkan konten digital yang tidak memiliki makna tetapi dikonsumsi secara berulang hingga dianggap mampu “membusukkan’’ daya pikir dan mengikis kepekaan sosial mereka.

Konten brainrot yang dirancang untuk memberikan hiburan lewat visual dan humor absurd tanpa sadar turut mempengaruhi cara anak berkomunikasi. Di ruang digital, mereka terbiasa melihat interaksi yang agresif, ejekan yang dijadikan bahan lelucon, serta hilangnya batasan privasi demi sebuah konten. Dengan demikian, anak-anak berpotensi untuk meniru pola tersebut. Kolom komentar media sosial saat ini sering kali dipenuhi oleh ketikan anak-anak di bawah umur yang menggunakan bahasa kasar, merundung pengguna lain, sampai berani berkata tidak sopan kepada orang yang jauh lebih tua.

Fenomena tersebut bisa menjadi lebih parah jika intensitas penggunaan media sosial pada anak terus berlangsung tanpa pendampingan yang baik dari orang tua. Munculnya adiksi media sosial pada anak menunjukkan bahwa paparan media digital yang berlebihan dan tidak tersaring berimbas pada penurunan durasi perhatian atau attention span serta kesulitan dalam meregulasi emosi. Ketika emosi anak belum matang dan terus-menerus disuapi konten internet yang tidak terpantau secara penuh oleh orang tua, maka mereka kehilangan kemampuan untuk menyaring mana ucapan yang pantas dan mana yang melanggar etika.

Lebih dari sekadar penurunan fokus, hilangnya sopan santun digital ini turut mengancam perkembangan sosial mereka. Maka dari itu, walaupun hidup di era digital seperti sekarang, aktivitas yang berbasis pada interaksi langsung pada anak tetap perlu dibiasakan untuk membangun empati serta kesadaran dalam bersosialisasi pada anak-anak. Ketika anak lebih banyak menghabiskan waktu untuk berinteraksi lewat layar daripada interaksi langsung, maka kepekaan mereka dalam berempati pun akan menurun. Hal ini dikarenakan mereka tidak bisa melihat secara langsung ekspresi wajah atau mendengar nada bicara orang yang mereka komentari. Minimnya umpan balik emosional secara langsung di dunia maya inilah yang membuat mereka merasa bahwa tindakan tidak sopan di media sosial adalah hal wajar dan bebas dari konsekuensi.

Tentu saja, menyalahkan anak-anak atau sepenuhnya menghentikan mereka dari penggunaan teknologi bukanlah solusi yang bijak. Anak-anak yang bertindak tidak sopan di media sosial sering kali adalah produk dari pembiaran orang tua yang memberikan akses internet berlebih tanpa diiringi dengan literasi digital dasar. Menghargai anak di Hari Anak Nasional berarti bertanggung jawab untuk melatih mereka menjadi warga digital yang beretika.

Menurut panduan dari World Health Organization mengenai perilaku dan kesejahteraan anak, pembatasan waktu layar atau screen time harus diimbangi dengan peningkatan aktivitas fisik dan interaksi sosial yang bisa meningkatkan kemampuan bersosial anak di dunia nyata. Melalui interaksi nyata inilah anak kembali belajar tentang tata krama, cara menghormati orang lain, dan seni menghargai perbedaan pendapat yang tidak diajarkan oleh brainrot  di media sosial.

Pada akhirnya, Hari Anak Nasional adalah tentang memberikan hak terbaik bagi masa depan mereka. Anak-anak Indonesia tidak hanya berhak mendapatkan lingkungan digital yang aman, tetapi juga bimbingan untuk tetap menjadi pribadi yang santun. Tugas kita sebagai orang dewasa yang dekat dengan keberadaan mereka adalah membantu mereka keluar dari jebakan algoritma, mengembalikan kemampuan berpikir kritis mereka, dan memastikan bahwa kecanggihan teknologi tidak menghanyutkan nilai-nilai kesopanan yang menjadi jati diri mereka.

 

Penulis: Siti Suhayati

Editor: Andaru Surya, Salsa Puspita

Referensi: 

World Health Organization. (2019). Guidelines on physical activity, sedentary behaviour and sleep for children under 5 years of age. World Health Organization (WHO). https://www.who.int/publications/i/item/9789241550536   

Scroll to Top