Resmi, BEM FKM Undip Melaksanakan Grand Opening Rumah Jamur di Desa Banyumeneng

Pelaksanaan grand opening Rumah Jamur di Desa Banyumemeng oleh BEM FKM Undip. (Sumber: Dok. Pribadi)

Warta Utama – Minggu (26/09), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas  Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro telah melangsungkan acara pembukaan Rumah Jamur di Desa Banyumeneng, Demak. Kegiatan tersebut dihadiri Forum UMKM Demak Kecamatan Mranggen, Kelompok Berkah Kesumo, Kelompok Tani Jamur Tiram, Kepala Desa Banyumeneng, Dosen Pembimbing PHP2D FKM Undip Sri Winarni, anggota BEM FKM Undip dan anggota PHP2D BEM FKM Undip.

 

Rumah Jamur merupakan tempat kuliner sebagai sentra penjualan dan pengolahan produk jamur tiram khas Desa Banyumeneng, hasil dari program pemberdayaan masyarakat dari BEM FKM Universitas Diponegoro. Rumah Jamur ini selaras dengan rencana pembentukan desa wisata oleh Muntaha selaku kepala desa.

 

“Fokus dari program ini adalah  pengembangan, pemasaran dan pendistribusian hasil olahan jamur tiram dengan pemanfaatan teknologi digital agar semakin bervariasi dan jangkauan pasarnya semakin luas di masa pandemi,” terang Diana Kusuma, Ketua Tim program Rumah Jamur, ketika diwawancarai oleh Awak Manunggal (27/09).

 

Terkait alasan pemilihan Desa Banyumeneng, tim pemberdayaan menilai bahwa situasi pandemi menjadikan beberapa masyarakat Desa Banyumeneng kehilangan pekerjaan yang menyebabkan turunnya tingkat perekonomian keluarga. Di sisi lain, kondisi pandemi Covid-19 mengharuskan masyarakat untuk dapat lebih kreatif dalam memasarkan produk usahanya dengan memanfaatkan teknologi digital yang ada. Namun, pengetahuan dan keterampilan masyarakat Desa Banyumeneng masih rendah terhadap pemanfaatan internet dan sosial media.

 

Selain itu, Desa Banyumeneng memiliki potensi alam yang cukup dikenal oleh masyarakat luar, yakni jamur tiram. Budidaya jamur tiram ini berada di daerah RW 03 yang dikelola oleh 40% masyarakat desa yang tergabung dalam Kelompok Tani Jamur Tiram dan diketuai oleh Muttaqin.

 

Namun, kelompok ini dinilai belum berjalan secara efektif karena kurangnya sinergitas kelompok. Potensi alam ini belum dikelola secara maksimal dilihat dari kurangnya inovasi dari hasil olahan jamur tiram dan rendahnya partisipasi masyarakat terhadap pengolahan produk jamur tiram. “Jumlah masyarakat yang ikut budidaya kurang dari setengah anggota Kelompok Berkah Kusumo yaitu 5 orang,” ujar Diana.

 

Berkah Kusumo adalah satu-satunya kelompok di RW 03 yang berfokus pada pengolahan jamur tiram yang telah membuat produk olahan seperti bakso jamur tiram dan jamur crispy. Menurut Rina selaku ketua dari Kelompok Berkah Kesumo, kendala yang dialami terletak pada pengemasan dan pemasaran produk. Hal tersebut disebabkan karena kurangnya keterampilan dalam memasarkan produk, mengemas produk dan keterbatasan dalam mengakses internet sehingga sasaran penjualan masih belum meluas.

 

Untuk menanggapi permasalahan yang ada, BEM FKM Universitas Diponegoro melalui program PHP2D tahun 2021 akan memberikan sebuah solusi dengan adanya pendampingan pengolahan jamur tiram serta pembangunan Rumah Jamur yang ditujukan kepada kelompok masyarakat yang berada di RW 03. Kegiatan ini didukung oleh Bumdes, Kelompok Tani Jamur Tiram, Kelompok Berkah Kesumo, dan Karang Taruna.

 

 

Berdasarkan hasil diskusi yang difasilitasi secara langsung oleh Kepala Desa dan enam masyarakat di Desa Banyumeneng, diperoleh kesimpulan bahwa prioritas utama masalah olahan jamur tiram yaitu masih rendahnya kualitas dan kuantitas olahan jamur tiram sehingga hal ini mempengaruhi perekonomian masyarakat desa.

 

“Saat ini petani hanya menjual mentah jamur tiram karena kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam pengelolaan dan diversifikasi olahan jamur tiram,” papar Diana.

 

Seringkali petani mengalami kerugian ketika waktu panen telah datang karena kurangnya permintaan pasar. Selain itu, penjualan hasil pertanian hanya dijual ke pasar terdekat, yaitu Pasar Pucang Gading, Pasar Rembeyeng, Pasar Batur Sari, dan Pasar Induk Mranggen dengan harga Rp 12.000/kg. Kemudian, pandemi juga mempengaruhi penjualan jamur tiram warga Desa Banyumeneng.

 

“Saat pandemi hasil penjualan jamur tiram dan hasil tani pun menurun sebesar 30% – 75% dikarenakan kurangnya permintaan pasar,” terang Bapak Muttaqin, Ketua Kelompok Tani Jamur Tiram

 

Harapannya, setelah adanya inovasi olahan produk jamur tiram keuntungannya lebih tinggi 80% dari keuntungan awal dan pemasaran produk lebih luas sehingga bisa dijangkau oleh banyak orang dari berbagai daerah.

 

Reporter: M. Daffa Apriza

Penulis: M. Daffa Apriza

Editor: Aslamatur Rizqiyah, Fidya Azahro

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top