Merawat Ingat: Aksi Simbolik Hadir Sebagai Warna Baru Mei Berkabung

Potret salah satu spanduk yang terpasang pada acara Mei Berkabung di Belakang Gedung B FISIP, Undip pada Rabu (13/5). (Sumber: Manunggal).

Warta Utama — Bidang Sosial Politik Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro (Sospol BEM FISIP Undip) mengadakan Aksi Mei Berkabung sebagai pengingat atas tragedi Mei 1998 dan berbagai pelanggaran kemanusiaan yang pernah terjadi di Indonesia. Aksi tersebut diselenggarakan pada Rabu (13/5) di belakang Gedung B FISIP Undip, dengan tajuk “Melawan Arus Lupa, Bersuara Seraya Duka”. Aksi yang dihadiri oleh lebih dari 50 peserta ini merupakan kegiatan rutin yang telah dilaksanakan pada tahun-tahun sebelumnya.

Maraknya pelanggaran (Hak Asasi Manusia) HAM di Indonesia sejak tahun 1998, mulai dari Tragedi Trisakti, Kerusuhan Mei 1998, pemerkosaan massal Etnis Tionghoa hingga penghilangan paksa aktivis-aktivis pada masa itu kerap berlanjut saat ini. Kasus penyiraman air keras kepada salah satu aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Andrie Yunus, menjadi salah satu bukti pelanggaran HAM yang masih dilakukan oleh pemerintah dan aparat negara. Melalui kejadian tersebut, Bidang Sospol BEM FISIP Undip menyelenggarakan Mei Berkabung sebagai bentuk upaya mengenang dan menjaga ingatan kolektif.

“Namanya saja Mei Berkabung, artinya kita ingin berkabung dan mengenang bersama. Jadi latar belakangnya sendiri berasal dari peristiwa-peristiwa yang sudah pernah terjadi, terutama yang berkaitan dengan bulan Mei,” ungkap Brenna Fatima Azzahra selaku ketua pelaksana acara Mei Berkabung.

Selain itu, urgensi diadakannya Mei Berkabung adalah karena siapapun saat ini dapat menjadi korban pelanggaran HAM. Oleh karena itu, diperlukan  ruang-ruang diskusi yang membuka pandangan terkait HAM. Hal ini juga diungkapkan oleh salah satu peserta Mei Berkabung yang datang membawa keresahan atas pelanggaran HAM dan bentuk penanganan pelanggaran tersebut.

“Gimana standardisasi HAM yang dimiliki oleh Indonesia hari ini, nah lewat ruang-ruang dialektika kayak ginilah kita bisa mengasah bagaimana pandangan-pandangan daripada HAM itu sendiri,” ungkap Fadhil selaku peserta Mei Berkabung yang merupakan salah satu mahasiswa Program Studi (Prodi) Hukum Undip. 

 

Mei Berkabung Turut Membuka Ruang Diskusi bagi Mahasiswa

Salah satu rangkaian acara Mei Berkabung adalah sesi diskusi bersama Bidang Riset dan Politik Himpunan Mahasiswa Program Studi Administrasi Publik (RISPOL HMPS AP) yang berfokus pada topik-topik seputar pelanggaran HAM, terutama pada tragedi Mei 1998. Tajuk diskusi yang diangkat adalah “Reformasi di Balik Jeruji: Repetisi Neo-Orba Masa Kini”. Sesi diskusi yang dihadirkan pada acara Mei Berkabung bersifat diskusi terbuka, sehingga peserta bebas memberikan pendapat dan sanggahan di tengah-tengah diskusi. Topik yang diangkat dalam sesi diskusi cukup luas dan tidak terfokus pada satu kasus karena tidak adanya pengerucutan kasus pelanggaran HAM yang dibahas.

“Pembahasannya sangat melebar karena tadi juga dibilang bahwa pelanggaran-pelanggaran HAM ini tuh luas,” ungkap Razzaq Fairamadhan, salah satu mahasiswa Prodi Administrasi Publik FISIP Undip sekaligus pembicara pada sesi diskusi.

Salah satu peserta sedang mengutarakan pendapatnya pada sesi diskusi terbuka. (Sumber: Manunggal).

Diskusi ini juga diharapkan menjadi pemantik bagi mahasiswa agar senantiasa terbuka dan kritis terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi. Kemudian, terdapat pula harapan ketika mahasiswa sudah menghadiri ruang-ruang diskusi dapat membela masyarakat yang tertindas oleh negara.

 

Beragam Tampilan Ramaikan Mei Berkabung 

Aksi Mei Berkabung diisi dengan serangkaian acara lainnya seperti pertunjukan teatrikal oleh Teater Emper Kampus (Emka) Fakultas Ilmu Budaya (FIB), gigs oleh band Sakutala FISIP, panggung bebas, serta aksi simbolik. Berbeda dengan tahun sebelumnya, Brenna berujar penampilan teatrikal dengan mengundang Teater Emka merupakan terobosan baru pada Aksi Mei Berkabung tahun ini.

“Kebetulan teater ini memang inisiatif saya sendiri karena menurut saya aksi seremonial dan simbolik akan lebih menarik kalau ada teater,” tutur Brenda.

Teatrikal yang dibawa oleh Teater Emka mengangkat cerita tentang dinamika kehidupan lanjut usia (lansia) di tengah “serangan fajar” pada masa Pemilihan Umum (Pemilu) yang diberi tajuk “Satu Babak”. Sutradara penampilan, Dinda Alifa Kuncoro yang merupakan mahasiswa Sastra Indonesia FIB, menyebut aksi teatrikal menyorot isu kelemahan politik yang juga menjadi bagian dari isu Mei Berkabung. Dinda menyebut pementasan tersebut menekankan minimnya informasi politik yang dimiliki lansia. Baginya, ketidaktahuan lansia akan politik seolah-olah disengaja.

“Kebutuhan-kebutuhan mereka seperti, mereka tuh tidak paham seperti konsep-konsep, iya banyak istilah-istilah yang tidak dipahami dalam politik, tapi itu tuh seperti disengaja gitu loh. Lansia disengaja untuk dibuat terus tidak tahu,” terang Dinda.

Penampilan Teatrikal “Satu Babak” oleh Teater Emka, pada (13/5). (Sumber: Manunggal).

Aksi Teatrikal ini dilatarbelakangi oleh salah satu unggahan media sosial yang menampilkan lansia dengan kaos partai dari presiden terpilih Prabowo Subianto, Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), saat banjir bandang melanda Sumatra Utara lalu. Pada unggahan tersebut, banyak komentar berbunyi penyesalan dan masukan untuk lansia tersebut agar lebih selektif pada Pemilu berikutnya. Melihat fenomena tersebut, Dinda mengaku miris atas ketidaktahuan lansia atas kondisi politik di negeri sendiri. Dirinya menekankan pentingnya sosialisasi politik yang jelas agar pengetahuan politik tersebar pada lansia, sehingga suara-suara lansia tidak hanya dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi saja.

“Menurut aku itu sangat urgent ya untuk disoroti bagaimana pengetahuan politik itu tersebar ke lansia, karena banyaknya suara-suara lansia yang digunakan untuk kepentingan-kepentingan beberapa orang saja,” tutur Dinda.

Persiapan teatrikal yang melibatkan kolaborasi antara Departemen Pementasan dan Departemen Penelitian dan Pengembangan Teater Emka ini telah berlangsung sekitar satu bulan. Dinda mengaku proses pencarian isu dan referensi merupakan bagian tersulit selama persiapan.

“Waktu kita lagi pencarian isu itu, kita kan mencari gimana persebaran politik kepada lansia, nah itu tuh data-datanya masih agak kurang yang menyoroti hal itu. Jadi kita untuk mencari referensi lebih ke bukan data ilmiah, tapi ke data-data yang real saja,” ungkap Dinda.

Berbeda dengan Teater Emka yang menampilkan teatrikal, Sakutala hadir untuk meramaikan aksi Mei Berkabung dengan penampilan gigs. Pada gigs tersebut, Sakutala membawakan tiga lagu. Adinda Bulan Novitasari, salah satu mahasiswa Ilmu Pemerintahan FISIP yang menjadi sekretaris umum sekaligus vokalis Sakutala, mengaku hanya membutuhkan 15-20 menit untuk mempersiapkan penampilan.

“Mungkin karena aku sama Batara (gitaris Sakutala) juga sering main bareng kan, jadi karena materinya sudah ada tinggal tadi latihan aja. Kayak 15-20 menit aja,” ungkap Bulan.

Penampilan Gigs oleh Sakutala, pada (13/5). (Sumber: Manunggal)

Tiga lagu yang dibawakan Sakutala diantaranya adalah “Titik-Titik di Ujung Doa” milik Sal Priadi, “Membasuh” milik Hindia, dan “Pilu Membiru” milik Kunto Aji. Ketiga lagu tersebut ditampilkan dengan nuansa mellow. Bulan menyebut ia sengaja menghadirkan kesan syahdu sebagai bentuk berkabung.

“Sebenarnya menyesuaikan juga sih karena kayak vibes-nya berkabung itu kan kayak ya gitu lah,” ujar Bulan.

Selain teatrikal dan penampilan gigs, Aksi Mei Berkabung juga diramaikan oleh panggung bebas. Beberapa peserta yang hadir tampil dengan mempersembahkan beberapa penampilan, salah satunya pembacaan puisi. Tidak hanya itu, aksi ditutup dengan konsep simbolis berupa pemasangan lilin sebagai simbol refleksi atas duka.

 

Mei Berkabung Diharapkan Menjadi Momentum Merawat Ingatan 

Salah satu peserta berpartisipasi dalam pemasangan lilin pada aksi simbolik acara Mei Berkabung. (Sumber: Manunggal).

Melihat banyaknya keresahan yang terjadi di Indonesia, Bidang Sospol BEM FISIP Undip berhasil memberikan salah satu ruang guna mahasiswa dapat senantiasa berpikir kritis terkait keadaan negara. Layaknya Mei Berkabung yang mendapatkan berbagai harapan dari peserta ataupun internal panitia.

Kegiatan Mei Berkabung diharapkan dapat terus dilaksanakan, karena melalui kegiatan ini kasus-kasus pelanggaran HAM yang tak kunjung mendapatkan keadilan dapat terus didiskusikan. Selain itu, adanya diskusi juga dapat digunakan sebagai upaya untuk merawat ingatan karena sejarah dapat berubah sesuai dengan kepentingan golongan. Namun, ingatan kolektif tentang berbagai pelanggaran kemanusiaan akan tetap kuat dan bertahan. Kesadaran yang terbangun pada mahasiswa sangat dibutuhkan agar merka dapat terhindar dari sikap apatis. Perlu adanya kesadaran bersama bahwa kebijakan-kebijakan politik yang dikeluarkan pemerintah akan sangat berpengaruh pada kehidupan seluruh elemen negeri ini, tak terkecuali mahasiswa. 

Harapan juga datang dari Fadhil selaku salah satu peserta yang hadir pada acara Mei Berkabung. Ia berharap agar pengambilan topik diskusi dapat diperdalam karena masih banyak topik yang dapat didiskusikan. Selain itu, ia berharap Mei Berkabung dapat terus diadakan karena pemahaman mahasiswa dan masyarakat terkait HAM masih kurang. Tidak jarang mahasiswa memilih pulang setelah kegiatan kampus dibanding menghadiri diskusi. Oleh karena itu, Mei Berkabung dapat menjadi salah satu momentum bagi mahasiswa untuk lebih memahami isu-isu yang sedang terjadi.

 

Reporter: Tialova R.A., Anindya Malka, Najwa Hanindya

Penulis: Tialova R.A., Najwa Hanindya

Editor: Salsa Puspita, Andaru Surya

Scroll to Top