
Sastra – Langit berawan berhembus mesra menyapa titian setapak becek berlumpur. Hujan deras menderu semalam, meluluhlantakkan hamparan debu yang telah lama tertimbun. Sekuntum bunga mawar kemerahan indah menghasut cakrawala. Fajar menyingsing butakan benak ‘tuk sekadar memandang, terpaku pandangi secercah cahaya kemerahan yang perlahan meremediasi eksistensinya.
Pikiranku kembali terguncang usai pemandangan eksotis kian sirna. Lautan kertas memenuhi kamar, mulai dari yang bertuliskan bahasa Belanda sampai Hindia Belanda. Konflik hangat yang tak kunjung usai bahkan hingga ratusan tahun lamanya. Mendongkrak populasi, kemiskinan dan kemelaratan terjadi di mana-mana. Teriakan berdengung, lontaran senjata berdesing, pukulan serta cambukan melambung. Segalanya santai saja terlontar. Darah mengalir deras, tangis keluh tak didengar. Segalanya hanya dibungkam.
Beberapa lembar surat kabar kulipat tipis terselip di sela-sela cartwheel hat (topi noni Belanda tempo dulu), sisanya kuletakkan di sela-sela baju. Cukup lama mematut, menghembuskan napas berulang kali berusaha meyakinkan diri. “Het spijt me, Papa (Maafkan aku, Ayah).”
“Mau kemana, Nona?” salah seorang penjaga rumah menghadangku pergi.
“Alene.” Kedua penjaga merunduk hormat, membungkuk dalam hingga langkahku pergi.
Seolah surga yang hampa, negeri khatulistiwa penuh ragam nan satwa. Sumber daya alam melimpah ruah, namun kemiskinan terus berbuah. Diskriminasi merajalela, intimidasi melanglang buana. Gedung-gedung besar berdiri kokoh bagi pribumi yang disebut pendusta. Tokoh demi tokoh bermunculan tapi juga kerap menghilang. Terkapar di balik jeruji besi rupanya tak mampu menghalangi lajur pribumi. Setapak demi setapak telah dipupuskan, namun jembatan-jembatan baru berhasil ditegakkan. Gagasan-gagasan nasionalis bermunculan, bak dongeng kekanakan menakuti penjajah Belanda. Dongeng menghanyutkan kolonial lari terbirit.
Puluhan pasang mata tertunduk sesaat usai menyadari kedatanganku. Sekumpulan pribumi bahkan merobohkan badannya, merelakan lutut mereka tergores, terhantam kerikil bebatuan. Raut wajah takut alih-alih segan terpampang jelas, buah hati mereka didekap rapat-rapat. Mulut anak-anak ditutup tak bercelah oleh jemari sang ibunda. Hening, sunyi, sepi. Serempak tangkupkan kedua tangan mengangkatnya tinggi.
Namun, keheningan terpecahkan seketika usai seorang bocah kecil terlepaskan. Ia meliuk meronta dari dekapan wanita paruh baya, berlarian menyeringai manis tanpa dosa. Berteriak nyaring namun lesu tak bertenaga. Parasnya kurus kering, kulit hitam pekat dengan rambut lusuh tak terawat. Ia mendekat, menarik-narik ujung gaun, berusaha meraih jemariku.
Sontak sang ibunda tergopoh-gopoh meraihnya, tertunduk bahkan bersujud tepat di hadapanku. Berulang kali ia merintih, ketakutan memohon ampun atas perbuatan sang anak yang dianggap lancang. Bibirnya berkomat-kamit mengucap doa. Wajahnya pucat pasi bersama peluh bercampur tangis. Namun bocah kecil itu justru makin menjadi, kini ia berhasil meraih ujung tanganku, senyumnya lebar menawan, dengan wajah tirus berlebih kurang makan.
“Bangunlah, Bu,” kuraih tubuh nan ringkih menuntunnya bangkit. Kini aku berjongkok saling bertukar pandang bersama gadis kecil itu. Rambut lusuhnya terusap pelan, lantas topi merah muda kuletakkan rapi usai menyelipkan kumpulan kertas ke sela-sela baju. Gadis itu kegirangan bukan main, melompat berjingkrak penuh senyum dan tawa. Lingkar topi yang kebesaran membuat setengah wajahnya terlahap habis. Menyisakan senyum manis terurai yang dapat terlihat.
“Bapak-bapak, ibu-ibu. Hari demi hari silih berganti. Perlahan dunia pun akan beralih. Peradaban Hindia Belanda haruslah tegak penuh makna. Janganlah kalian tunduk pada kami seolah kalian yang berdosa. Serang! Bunuhlah serdadu kami! Ratusan tahun kalian dijajah dijamah oleh kolonial tak beradab!” nafasku berderu kencang tanpa arah, tangis bergemuruh berdesakan hendak keluar. Kini giliran aku yang menunduk, merunduk dalam. “Maafkan kami….”
Langkahku menjauh sisakan jalanan sempit nan sunyi. Mereka terpaku, masih dengan posisi lutut menghimpit tanah.
Manusia-manusia licik itu yang telah mendoktrin kaum pribumi layaknya budak tak bernilai. Siang malam bekerja tak kenal peluh bahkan keluh. Dicambuk sana-sini bila sedikit saja terjatuh. Senjata tertambat sudah bagi siapa yang lengah. Bahkan pribumi tak punya hak untuk sekadar melangkah. Haruslah mereka merangkak terseok dengan kepala tertunduk dalam. Seolah hewan tak berakal, sekali tendang langsung musnah.
Entah betapa jauh langkah ini membawaku pergi. Hingga lapangan luas bersama sekumpulan bocah kecil asyik berlarian kesana-kemari. Salah satu menangis akibat bocah lain menarik rambutnya. Lantas keduanya berseteru merengek tak mau kalah.
Namun, seorang yang paling besar terbelalak menatap kehadiranku. Sontak ia berlari ke rumah meneriakkan sesuatu. “Nona jahat! Nona jahat! Bu, ada nona jahat!”. Diikuti dengan kawanan bocah kecil berhamburan masuk mengikuti langkah si paling tua. Dengan cerdik mereka menutup pintu rapat beserta jendelanya.
“Shut! Jangan mengintip! Nanti kamu ditembak!”. Terdengar percakapan cukup jelas di telinga, saat salah seorang gadis mungil ketahuan membuka tirai.
Bagaikan ratusan bahkan ribuan anak panah menusuk lara. Bahkan bocah kecil itu sudah lebih dari paham untuk mencerna kekejian para kolonial.
Hingga salah seorang wanita tengah baya tampak sedikit berlari menghampiri. Kebaya putih bersih serta kain batik kecokelatan tak henti menghambat langkahnya. Belum lagi sanggul membelai halus berhiaskan tusuk manis keemasan.
Tatapannya redup penuh makna. Senyum lebar teruntai manis bersama sepasang lesung pipi dangkal. Tubuhnya tegap berwibawa, jauh berbeda dengan kaum pribumi lainnya.
“Wat brengt jou hier, jongedame? (Apa yang membawamu kemari, nona muda?)”
“Vergeef ons! Vergeef ons!” Jemari tanganku menyergap halus telapak wanita itu. “Maafkan kami…”
“Masuklah, Nona muda.”
Belaian halus jelas terasa pada sela-sela pundakku. Kami duduk berdampingan pada kursi kayu di sudut rumah. Anak-anak berhamburan begitu pintu rumah terbuka. Mereka bersembunyi. Beberapa berteriak ketakutan, khawatir atas kedatangan manusia Belanda.
“Apa yang membawamu kemari?”
Cukup lama hingga napas terkendali. Kuserahkan lembaran surat kabar yang sempat terbawa, dengan saksama wanita itu merajut tiap katanya bersama kedua alis saling bertaut.
“Saya akan membantu membesarkan sekolah ini.”
“Bagaimana dengan ayahmu, Tuan Albert? Kau pasti lebih dari tahu akan risikonya.”
“Saya akan menanggungnya.”
“Hmm… naturlijk (tentu saja). Kami adalah juragan bagi tanah kami sendiri. Sampean harus tahu itu, nona Everhart.”
*****
“Terimakasih, Mbakyu.” Mbakyu tersenyum lebar. Pandangan seolah menembus portal kaca, sorot mata saling berelasi pancarkan rasa penuh makna. Kebaya putih bersih bermotif timbul serta batik kecokelatan membuatku nampak jauh berbeda. Sanggulku sedikit aneh sebab rambut pirang juga bergelombang.
“Erg mooi (cantik sekali)…”
Anak-anak dari berbagai kalangan umur ramai berdatangan. Mereka berbaur akrab saling berbagi kisah. Beberapa bahkan masih sangat kecil, hanya tersenyum lantas tertawa akibat gurauan kakak tingkatnya. Memainkan apa saja yang dilihatnya, kemudian menangis apabila salah satu menjahili.
Hari demi hari berlalu bak ilalang asyik menderu. Indah gemulai siratkan senyum serta tawa. Gaduh kehadiran pelajar bak percikan kembang api mengudara. Indah, cantik berkilauan. Namun, seketika redup usai kepergian. Tersirat gundah yang kian hari kian melambung. Jauh, jauh sekali hingga segalanya benar-benar terasa nyata.
Satu hari yang tenang, di mana kami tengah melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Di mana anak-anak tengah sibuk merangkai kata, di mana kami sepenuh hati goreskan tinta penuh rasa, tragedi berdarah kini terjadi lagi. Gumpalan darah mengucur deras, senyum manis itu telah redup. Wajahnya yang teduh beralih sendu. Terseret arus resah kolonial.
Hukum? Entah hukum apa yang serta merta kau junjung. Dianut bahkan disembah demi menimbun kekayaan. Meluluhlantakkan tanah air, menindas merampas kemanusiaan. Memperbudak oleh berbagai macam kerja rodi. Memobilisasi, memonopoli, memanipulasi seluruh kekayaan. Sungguh kolonial tak berperasaan, berasaskan akal kebinatangan.
Senapan tajam teracungkan, mendobrak kasar pintu ruangan. Terdengar tembakan menggelegar dari lapangan. Anak-anak berlarian mencari persembunyian. Menangis menderu keras ketakutan.
“Wat ben je aan het doen (Apa yang kalian lakukan)?!”
“Kom terug, jongedame (Kembalilah, Nona Muda).”
“Ik ben geen moordenaar zoals jij (Saya bukan pembunuh seperti kalian)!”
Tepat setelahnya senapan panjang teracung ganas di hadapan Mbakyu, yang baru saja kembali dengan tubuh bersimpuh, bersimbah darah. Hingga ledakan sekali lagi terdengar. Menggemparkan warga paripurna.
*****
Rasa menyeruak dalam penuh penyesalan. Amarah jelas tertanam, kekejian jelas melambang. Lagi-lagi aku kembali mempertanyakan, ke manakah perginya akal berperasaan? Menghalau pergi seolah tak pernah dimiliki. Buas bertingkah tanpa rasa yang mendampingi. Ledakan terjadi di sana-sini, kerja rodi diberlakukan tanpa hati.
Akankah hanya aku yang menyesal? Malu bahkan prihatin akan pemerintahan penindasan. Dengan bangga Belanda mendeklarasikan penjajahan, demi invasi perluasan. Tak semua manusia rupanya pantas disebut manusia, jika tak mampu merealisasikan kemanusiaan.
***
Penulis: Nadzira Inas Waluyo
Editor: Salsa Puspita, Andaru Surya


