Membaca Perspektif Kaderisasi di Mata Mahasiswa Undip

Potret pelaksanaan LKMM-TM 2019. (Sumber: doc. BEM Undip 2019)

Peristiwa – Kaderisasi telah menjadi stigma kuat yang tidak dapat dilepaskan dari perspektif mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip). Secara luas, kaderisasi merupakan proses seseorang untuk dibentuk dan dibina berlandaskan nilai dan karakter tertentu yang ditanamkan. Proses ini terus berjalan secara kausal, sejalan dengan tujuan konkret, yakni regenerasi kader-kader unggul yang mampu berkontribusi di lingkungannya.

“Kaderisasi dalam lingkungan mahasiswa juga dapat berarti secara sempit sebagai proses membentuk seseorang agar mampu meresapi nilai-nilai luhur sebagai mahasiswa, seperti Tri Dharma Perguruan Tinggi dan empat fungsi mahasiswa,” ungkap Kevin, Kabid K&PSDM BEM Undip 2020 dalam wawancara eksklusif bersama awak Manunggal via percakapan WhatsApp, Kamis (1/4).

“Dari proses kaderisasi, mahasiswa diharapkan dapat mengamalkan nilai-nilai tersebut melalui berbagai wadah kontribusi, seperti ormawa, riset, seni, olahraga, kewirausahaan, pengabdian, dan sebagainya,” imbuhnya.

Siklus Kaderisasi di Undip

Tercatat dari tahun ke tahun, siklus kaderisasi di Undip berjalan dengan berpedoman pada Buku Panduan Kaderisasi Mahasiswa atau dikenal sebagai Buku Biru (dapat diakses melalui pranala bit.ly/BukuPanduanKaderisasiMahasiswaUndip, red), baik di tingkat universitas maupun fakultas. Menurut Kevin, Buku Biru ini telah dikonstruksi secara sistematis dan terstruktur oleh segenap civitas akademika sebagai konsensus bersama.

“Secara garis besar, Buku Biru memuat mengenai tiga hal pedoman, antara lain: alur kaderisasi, yang mencakup pembentukan, pembinaan, dan pengkaryaan; kurikulum materi; serta penjabaran deskriptif per kegiatan kaderisasi,” jelas Kevin.

Kevin pun mengelaborasi bahwa karena proses kaderisasi terus berpedoman dalam Buku Biru, terdapat dua ancaman utama yang membayangi perspektif organisasi mahasiswa, yaitu stagnasi dan intervensi.

“Dari segi stagnasi, citra mahasiswa umum terhadap penyelenggaraan kegiatan kaderisasi terkesan ‘gitu-gitu aja’, membosankan, kaku, dan terlalu formal. Sedangkan di era teknologi sekarang ini banyak sekali pilihan wadah pengembangan diri yang lebih fun dan menarik,” cetusnya.

Sementara di sisi lainnya, intervensi yang tidak konstruktif dari berbagai pihak, terutama birokrasi menjadi tantangan sendiri bagi kaderisasi. Surat edaran bernarasi ‘perploncoan’ sudah menjadi agenda tahunan setiap masa penerimaan mahasiswa baru, pun dengan permasalahan lain seperti sterilisasi kaderisasi, pembatasan kegiatan, pembekuan organisasi mahasiswa, dan sebagainya.

“Maka dari itu, perlu adanya sinkronisasi semua elemen dalam kaderisasi dengan mengedepankan rasa saling percaya dan diskusi membangun,” tandas Kevin.

Relevansi Kaderisasi dan LKMM

Potret pelaksanaan LKMM-TM 2019. (Sumber: doc. BEM Undip 2019)

Berdasarkan Panduan LKMM tahun 2020 yang disusun oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dan Buku Biru, kaderisasi di Undip direalisasikan melalui tiga jenjang tahap Latihan Keterampilan Manajerial Mahasiswa (LKMM), mulai dari tingkat Pra-Dasar hingga tingkat Lanjut.

Tahap perdana LKMM dimulai dari tingkat pra-dasar atau disebut LKMM-PD. Umumnya, pelatihan ini diselenggarakan selama rangkaian masa orientasi mahasiswa baru dalam kurun periode satu hingga dua bulan.

“LKMM-PD memang ditujukan untuk mempersiapkan mahasiswa baru agar siap beradaptasi memasuki dunia kampus, dengan cara membekali melalui pemberian materi tentang dasar komunikasi, manajemen diri, serta analisa potensi diri,” imbuh Kevin.

Melalui LKMM-PD diharapkan mahasiswa baru kelak sudah dapat menjadi individu-individu yang matang dan siap berkontribusi kepada almamaternya.

Naik setingkat dari LKMM-PD, mahasiswa yang tertarik untuk berproses dalam organisasi kampus akan melalui alur kaderisasi tingkat dasar atau LKMM-D. LKMM-D bertujuan untuk mengenalkan peran mahasiswa organisatoris dalam kehidupan bermasyarakat. Pelatihan ini dilaksanakan dalam kurun waktu periode yang cukup panjang, mulai 3 hingga 6 bulan karena memiliki rangkaian yang berbeda tiap fakultas sekaligus disesuaikan dengan budaya masing-masing fakultas.

“Materi yang biasa di-upgrade berupa seperti etika dan komunikasi, problem solving, manajemen event kemahasiswaan dan sebagainya,” cetus Kevin.

Selanjutnya di tahap final, mahasiswa yang telah berproses di LKMM-D akan melalui alur kaderisasi tingkat madya atau biasa disebut sebagai LKMM-TM.

Berbeda dengan tingkat sebelumnya, pelatihan ini merupakan wadah untuk mempersiapkan pemimpin-pemimpin dalam organisasi yang akan menempati posisi top level management, seperti ketua, wakil ketua, kepala bidang, dan lainnya sesuai dengan konteks organisasi masing-masing.

Melalui LKMM-TM, calon-calon pemimpin akan dibekali dengan kemampuan mengoordinasikan dan membina suatu tim kerja serta membentuk/mengembangkan organisasi.

LKMM-TM akan mengangkat materi yang lebih kompleks dan bersifat organisatoris, seperti hakikat organisasi, klasifikasi organisasi, pengukuran kerja, manajemen organisasi dan sumber daya manusia, self leadership building, kilas balik revitalisasi gerakan mahasiswa, advokasi dan investigasi, dan lainnya.

Isu Kaderisasi dari Perspektif Mahasiswa

Potret pelaksanaan LKMM-TM 2019. (Sumber: doc. BEM Undip 2019)

Kaderisasi telah mengakar kuat dalam perspektif mahasiswa Undip dan tidak jarang melahirkan isu-isu di lingkungan kampus. Mahasiswa secara umum beranggapan bahwa kaderisasi hanya diperuntukkan bagi personil organisatoris pun menjadi tantangan tersendiri untuk memperbaiki citra kaderisasi di mata publik.

Menurut Kevin, pertama-tama perlu dipahami bahwa mahasiswa seharusnya memandang kaderisasi dari segi big picture karena selama ini banyak pihak yang melihat kaderisasi berdasarkan event yang notabene hanya berfungsi sebagai ‘alat’ pengukur capaian semata.

“Dari sinilah citra yang muncul bagi mahasiswa awam bahwa kaderisasi hanya diperuntukkan bagi mahasiswa organisatoris semata, padahal kaderisasi memiliki banyak wadah seperti riset, kewirausahaan, dan berbagai tujuan mulia lainnya,” ungkapnya.

Dari sisi lain, terdapat pula isu pengakuan beberapa peserta LKMM-D yang mengikuti kegiatan kaderisasi karena desakan dari senior untuk mengikutinya sehingga banyak yang menjalankan LKMM-D secara tidak maksimal bahkan hingga berhenti di tengah jalan.

Menanggapi indikasi ini, Kevin menjelaskan bahwa asumsi tersebut perlu dibuktikan terlebih dahulu. Jika berkaca pada data survei minat kaderisasi, terutama LKMM-D dari K&PSDM BEM Undip, terdapat output yang mengatakan 50% responden mengikuti LKMM-D dari keinginan pribadi, di samping kurang lebih 20% responden menjawab dorongan dari orang lain.

“Maka dari itu, perlu adanya upaya untuk mengikis paradigma stagnasi dengan pandangan bahwa kaderisasi merupakan suatu kebutuhan sekaligus tempat belajar,” tandasnya.

Kaderisasi dari Segi Finansial

Tidak dapat dipungkiri bahwa sokongan finansial merupakan salah satu faktor penting untuk mendukung keberjalanan kaderisasi. Namun, kebutuhan dana yang tidak sedikit seringkali membebani kepanitiaan dari segi dana dan usaha yang harus dimaksimalkan untuk memenuhi kebutuhan acara.

Lagi-lagi Kevin mengafirmasi kebenaran dari isu ini. Di sisi lain, ia menganggap dengan diterapkannya kaderisasi secara daring yang relevan di era pandemi Covid-19 cukup banyak mengurangi pengeluaran dalam penyelenggaraan kegiatan kaderisasi.

“Selain itu, perlu adanya inovasi untuk mengubah konsep suatu kegiatan LKMM agar lebih ‘komersil’ dengan cara menonjolkan karakteristik masing-masing fakultas atau jurusan sebagai upaya membuka kolaborasi seluas-luasnya dengan stakeholder yang mampu mengurangi beban finansial,” terang Kevin.

Sebagai contoh, ia menyebut bahwa Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) dapat menjual basis keilmuan bisnisnya, lalu membuka kerjasama dengan Perusahaan X yang bergerak di bidang F&B. Perusahaan X pun bisa ‘chip in’ dalam LKMM dan diberikan timbal balik oleh panitia secara resiprokal, salah satunya dengan ruang mengisi materi Kewirausahaan.

Kaderisasi Berlandaskan Semangat Progresif dan Inovatif

Berbicara mengenai harapan untuk masa depan kaderisasi, Kevin menginterpretasi konsep kaderisasi berlandaskan semangat progresif dan inovatif. Konsep ini timbul dalam rangka mengatasi tuntutan zaman serta permasalahan dan kebutuhan organisasi yang semakin cepat dan beragam.

“Dalam konsep ini, sinkronisasi setiap elemen, mulai dari kebijakan birokrasi, inovasi pengkader, hingga motivasi belajar kader menjadi kunci dalam membentuk iklim kaderisasi yang kondusif,” pungkas dia.

Pendapat yang senada diungkap oleh Diah Noval Lestari, Wakabid K&PSDM BEM Fisip Undip 2021. Menurut gadis yang akrab disapa Noval tersebut, tuntutan perubahan signifikan di tengah pandemi tidak boleh menjadi penghalang semangat kaderisasi dalam merealisasikan strategi serta inovasi baru untuk menyampaikan value materi serta mengukur output yang telah diberikan terhadap mahasiswa, meskipun harus dilaksanakan secara virtual.

“K&PSDM harus punya strategi baru dalam menghadapi tantangan kaderisasi di masa pandemi dengan mengoptimalkan social media campaign sebagai sarana publikasi konten pencerdasan kaderisasi.” cetusnya dalam wawancara eksklusif bersama awak Manunggal via panggilan telepon WhatsApp.

Lebih lanjut, Noval berharap agar seluruh K&PSDM BEM fakultas di Undip dapat saling bekerja sama dan berkoordinasi melalui forum terbuka sebagai sarana saling mengenal strategi yang mungkin dapat diadaptasi untuk diaplikasikan dalam proses kaderisasi secara efektif.

 

Reporter: Mirra Halizah, Christian Noven

Penulis: Christian Noven

Editor: Aslamatur Rizqiyah, Dyah Satiti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *