Berkat Alam Semesta Melampaui Aksi Kekerasan Semata

(Sumber: Dokumentasi pribadi)

Langkah Pengabdian Masyarakat dalam Membagi Edukasi.
(Sumber: Dokumentasi pribadi)

Citizen Jurnalism – Aksi teror kembali menyayat nurani. Bumi pertiwi terguncang pasca penembakan di Mabes Polri, Rabu (31/3) lalu. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam konferensi persnya, menuturkan bila pelakunya merupakan mantan mahasiswi kelahiran 1995 berideologikan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS)[i]. Penyerangan tunggal (lone wolf) yang dilakukan ZA hanya berselang tiga hari setelah teror bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Minggu (28/3) lalu[ii]. Jika menilik kalender, tragedi terjadi mendekati Hari Raya Paskah saat umat Kristiani biasanya menjalani ibadah misa rutin beberapa hari sebelumnya.

Seakan sulit dibendung, salah satu wujud ekstremisme ini terus bergulir. Ekstremisme didefinisikan Perpres No. 7 Tahun 2021 sebagai, “keyakinan dan atau tindakan, yang mengunakan cara-cara kekerasan, atau ancaman kekerasan ekstrim, dengan tujuan mendukung atau melakukan terorisme”. Sedangkan, terorisme dapat dipahami menjadi cara untuk merebut kekuasaan dari kelompok lain karena adanya pertentangan agama, etnis, ideologi, kesenjangan ekonomi, dan terhambatnya komunikasi pemerintah dengan masyarakat sebab merebaknya paham fanatisme maupun separatisme (Manullang, 2006).

Dalam interval 2010 hingga 2017 di Indonesia, sebanyak 896 pelaku terorisme ditangkap dan tercatat pada laman FISIP UI. Ada perkembangan dalam penanganan terorisme. Setelah ada pengamanan 396 tersangka pada 2018, berturut-turut angka penangkapan menurun ke 297 pelaku pada 2019 dan 228 pelaku sepanjang 2020. Dari tindakan pelaku, banyak yang teridentifikasi menyerang tempat ibadah, pendakwah, maupun kerumunan orang. Tak hanya ditujukan pada sekelompok agama, namun ancaman juga diberikan pada kelompok agama lain. Tentu masih segar ingatan kita akan kekerasan pada pendakwah Alm. Syekh Ali Jaber di Bandar Lampung 2020, serangan berdarah terhadap pastor di Gereja St. Lidwina Sleman 2019, pembunuhan keji Komandan Brigade PP Persatuan Islam (Persis) 2018, dan lainnya. Setiap agama mengajarkan cinta kasih pada kemanusiaan (humanisme) dan merajut kerukunan dalam keberagama. Namun, nilai tersebut sering tidak diamalkan oleh oknum penganutnya sehingga kebenaran Tuhan sering tak mau disampaikan dan cenderung dipelintir oleh sebagian golongan.

Segala sesuatu didasarkan pada niatnya. terorisme dilandasi oleh beberapa motif menurut USA Army Training and Doctrine Command (2007), antara lain: etnosentrisme, separatisme, revolusioner, dan nasionalisme. Atas konteks etnosentrisme, rekrutmen pelaku menjadi martir dengan mudah dilakukan setelah mendapat brainwashing lewat kajian-kajian keagamaan radikal menggunakan bahasa persuasif yang memberi jalan pintas terhadap ganjaran pahala. Secara psikoanalisis Freud, bahasa yang memiliki nilai (Geertz, 1973) mempengaruhi kehendak manusia. Chomsky (1928) pun menyebut vitalnya bahasa pada aktivitas kebudayaan, sosial, serta keagamaan. Namun disayangkan, fanatisme akan lahir bila sang pementor mengarahkan pola pikir peserta pada penafsiran sumber ajaran agama secara tekstual saja, memberi pendefinisian yang keliru, membahas hal-hal sampingan lebih dalam ketimbang hal pokok, serta pengkultusan pada tokoh pendakwah menuntun pada indoktrinasi pemahaman agama yang dangkal. Egosentrisme akan keagungan sekte maupun mazhab juga rawan terjadi kemudian. Bila tak ditanggulangi, dikhawatirkan menjadi bom waktu perpecahan seperti konflik yang terjadi di Timur Tengah. Sungguh sia-sia konsensus pejuang kemerdekaan dari kalangan agamawan jika status quo Negara Kesatuan Republik Indonesia patah.

Semua agama menyeru pada kebaikan. Persamaannya ada pada seruan humanisasi, namun tentu berbeda dalam implementasi syariat-nya. Pun perbedaan bukanlah hal yang harus dipertentangkan karena menjadi keniscayaan dalam mewujudkan civil society pada masyarakat heterogen (plural). Eksistensi manusia menjadi puncak ciptaan Tuhan (QS. At-Tin 95: 4) sebab kesempurnaan akal budi yang dianugerahkan kepadanya. Kesempurnaan ini melahirkan fitrah manusia sekaligus menjadi pembeda dengan mahluk lain, seperti hewan, tumbuhan, bahkan malaikat, dan jin. Berdasarkan fitrah ini, manusia hakikatnya cenderung mengarah pada suatu kebenaran atau hanief (QS. Ar-Ruum 30: 30). Menjadi prerogatif Allah (Tuhan) guna memberi hidayah bagi siapa yang Dia kehendaki (QS. Al-Baqarah 2: 142). Konsekuensinya, seseorang yang mendapat hidayah Allah SWT seakan merasa mudah dalam memahami suatu hal secara sadar maupun tanpa sadar, atau sering disebut dengan ilmu hudhuri[i]. Hadir dengan jalan damai untuk mencapai penyadaran inilah yang menguatkan tesis bahwa satu-satunya agama di sisi Allah SWT (QS. Ali Imran 3: 19), Islam sebagai rahmat bagi alam semesta, atau rahmatan lil ‘alamin.

Dalam menyampaikan kebenaran, perlu diupayakan dengan cara-cara yang etis dan baik. Demikian juga dengan dakwah agama apapun. Esensinya untuk menyampaikan, bukan memaksakan apalagi dengan jalan kekerasan. Nilai-nilai universal yang menjadi inti ajaran agama manapun menjadi cahaya penuntun dan dapat menggerakkan penganutnya guna menebar cinta kasih tak hanya secara transendental (hubungan manusia dengan penciptanya), namun juga terhadap sesama manusia serta alam semesta. Menebar cinta kasih jauh dari tindak kekerasan ataupun rasa benci. Oleh sebab itu, segala bentuk kekerasan –termasuk aksi teror– tak dapat ditolerir. Pelaku teror memang meyakini suatu mazhab dalam agama. Namun ada kedangkalan berpikir yang mengesampingkan HAM, nasionalisme, dan kerukunan hubungan antar umat beragama (ukhuwah wathoniyah) untuk dengan mudah ditukar amalan tekstual.

Ambil contoh yang sering digaungkan dengan istilah jihad. Tindakan jihad memiliki empat cakupan (Abubakar, 1986) yang meliputi perang dalam membela agama Allah, berjuang bagi kebermanfaatan umat dan bangsa melalui harta benda, melawan kebatilan dan membela kebenaran, dan memerangi hawa nafsu –juga dipahami sebagai jihad akbar. Rasionalisasi teroris menggunakan landasan perang tentu tidak tepat karena kondisi negara Indonesia tak sedang berkonfrontasi dengan negara manapun. Begitupun pada perlawanan akan kebatilan. Pendekatan soft-power diplomacy dapat dijalankan melalui kajian keilmuan yang mewadahi dialektika menuju sebuah sintesis maupun konsensus. Tentu proses penyadaran ini akan lebih mudah diterima akal sehat dan nalar manusia. Sebab perlawanan reaktif dengan kekerasan akan menimbulkan ketakutan pada masyarakat dan memutus nafas perjuangan yang dibangun. Rahmat bagi semesta alam idealnya membawa transformasi integral yang mengakar pada pola pikir masyarakat dan meredam kekerasan.

Rekonstruksi pola pikir penting dalam meredam kekerasan yang bertautkan agama. Hendaknya muncul kesadaran, baik pada tataran organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan maupun tiap individu yang beriman. Menanggulangi hasutan atau adu domba oknum yang tidak bertanggungjawab terhadap aspek keagamaan dan kenegaraan, upaya deradikalisasi dapat dibudayakan. Langkah pencegahan dapat dengan menyisipkan nilai-nilai dasar agama, integrasi materi pendidikan dengan keluhuruan agama, serta proses dalam pencapaian mufakat dari para tokoh pejuang bangsa dari bebagai latar belakang agama pada kurikulum di lembaga pendidikan formal. Jalan ini akan membuka cakrawala berpikir peseta didik supaya tidak melulu mendikotomikan hal-hal duniawi dan ukhrowi, sesuai pengamalan butir-butir Pancasila yang saling terkait antar pasalnya dilandasi “Ketuhanan yang Maha Esa”.

Lebih jauh, tindak penanganan juga harus diperhatikan. Ketimbang sekedar memberi hukuman yang menimbulkan efek jera lewat pemidanaan, aspek restorative justice serta rehabilitasi dewasa ini makin menarik. Kriminolog FISIP UI, Adrianus Meliala, memandang keadilan restoratif sebagai jalan lain menyelesaikan masalah dengan mengharuskan pelaku kejahatan memperbaiki kerugian serta membayar kesalahan atas tindakannya kepada korban, keluarga korban, maupun masyarakat yang dirugikan. Penyelesaian kekeluargaan disini menjadi gerbang terakhir yang dirasa sama-sama dapat membawa keikhlasan. Di sisi lain, makna dari rehabilitasi memberikan rasa penyesalan pada pelaku supaya tidak mengulangi perbuatannya sekaligus mempersiapkan dirinya untuk kembali bermasyarakat pasca menjalani pidana.

 

Penulis : Adiyaksa R. Firdaus, Mahasiswa program studi Administrasi Bisnis Undip yang sedang mendalami kajian ke-Islam-an; Koordinator Bidang Pergerakan dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM FISIP Undip 2020.

Editor : Dyah Satiti

 

Daftar Pustaka:

Fattah, A. (2016). Memaknai Jihad dalam Al-Quran dan Tinjauan Historis Penggunaan Istilah      Jihad dalam Islam. Jurnal Pendidikan Agama Islam, 3(1): 65-88. https://doi.org/10.18860/jpai.v3i1.3992

Hamid, L. (2010). Ekstremisme dalam Perspektif Islam (Studi tentang Akar Pemikiran, Faktor – Faktor, dan Solusinya). Surabaya: IAIN Sunan Ampel. Skripsi.

Madjid, N. (1999). Islam Kemodernan dan Keindonesiaan. Bandung: Mizan.

________. (1993). Islam Kerakyatan dan Keindonesiaan. Bandung: Mizan.

Manullang, A. C. (2006). Terorisme dan Perang Intelijen; Behauptung Ohne Beweis – Dugaan   Tanpa Bukti). Jakarta: Manna Zaitun.

Nurish, A. (2019). Dari Fanatisme ke Ekstremisme: Ilusi, Kecemasan, dan Tindakan Kekerasan. Jurnal Masyarakat dan Budaya, 21(1): 31-40. https://doi.org/10.14203/jmb.v21i1.829

Windiani, R. (2017). Peran Indonesia dalam Memerangi Terorisme. Jurnal Ilmu Sosial, 16(2):     132-152. https://doi.org/10.14710/jis.16.2.2017.135-152

Catatan Akhir :

[i] Lih. Dirgantara, A. (2021). Polisi Dalami Alasan Zakiah Aini DO dari Kampus di Semester V. Dilihat pada 4 Maret 2021, dari https://news.detik.com/berita/d-5516693/polisi-dalami-alasan-zakiah-aini-do-dari-kampus-di-semester-v

[ii] Lih. Rahmat, M. A. (2021). Bom Bunuh Diri Depan Gereja Katedral Makassar, Kapolda: Sempat Ada Misa di Dalam. Dilihat pada 4 Maret 2021, dari https://news.detik.com/berita/d-5510913/bom-bunuh-diri-depan-gereja-katedral-makassar-kapolda-sempat-ada-misa-di-dalam?_ga=2.37300832.1589637476.1617294172-1233185781.1602659482

[iii] Secara harfiah, ilmu hudhuri dimaknai pengetahuan dengan kehadiran karena memiliki objek imanen dan ditandai oleh keadaan noetic, yang memadai untuk definisi ilmu pengetahuan tanpa butuh objek transitif yang berkoresponden (Yazdi, 1994). Singkatnya, ilmu hudhuri diperoleh secara intuitif yang berkaitan dengan mistisisme, berdimensi empiris, dan memiliki landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *