Hari Lahir Pancasila Sebagai Momentum Untuk Membumikan Nilai Pancasila Pada Generasi Muda

Lambang Pancasila yang merupakan dasar negara Republik Indonesia. (Sumber: voi.id)

Peristiwa – 76 tahun lalu, tepatnya 1 Juni 1945, berlangsung sidang pertama Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Dalam sidang itu,  Soekarno menyampaikan lima sila atau dasar yang merupakan konsepnya mengenai dasar negara Indonesia.  Bung Karno merangkum kelima sila tersebut dalam satu kesatuan istilah yang disebut sebagai Pancasila. Pidatonya ini dianggap sebagai cikal bakal kelahiran Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Tanggal 1 Juni kemudian diperingati secara nasional sebagai Hari Lahir Pancasila.

 

Momentum peringatan Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni  menjadi saat yang tepat untuk membumikan kembali nilai-nilai Pancasila yang telah menjadi bintang pemandu bangsa Indonesia dan bertahan tumbuh selama 76 tahun di tengah deru ombak ideolagi lain yang berusaha menggesernya. Kemudahan masyarakat mendapatkan berbagai berita tanpa disadari membahayakan siapapun yang tidak bisa menyortir informasi. Bahaya radikalisme dan perpecahan terus mengintai masyarakat, salah satunya generasi muda Indonesia. Hal ini terjadi karena kurangnya pemahaman terhadap Pancasila sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, nilai-nilai kearifan Pancasila dipandang perlu dibumikan kembali di tengah-tengah anak muda untuk menguatkan semangat persatuan.

 

Pancasila merupakan pijakan paling utama dalam semua aspek kehidupan bermasyarakat. Terjaganya persatuan bangsa Indonesia hanya bisa terwujud selama Pancasila masih menjadi landasannya. Perpecahan menjadi potensi yang cukup besar terjadi jika generasi muda sekarang tidak lagi merefleksikan Pancasila dalam kehidupan bersosialisasi sehari-hari. Selain itu, Pancasila dianggap sebagai intisari dari semua nilai-nilai kearifan yang bersifat universal. Dengan demikian, Pancasila tidak akan pernah ketinggalan zaman, termasuk di tengah generasi millenial.

 

Generasi muda menjadi salah satu modal terpenting bagi bangsa Indonesia dalam masa pembangunan bangsa. Artinya, bahwa penting adanya peran pemuda dalam pembangunan nasional. Untuk menjadi bangsa yang maju serta dapat bersaing di kancah internasional maka peran pemuda sebagai penerus bangsa sebagai syarat wajib yang harus terpenuhi. Sebagai generasi penerus bangsa, terutama dalam masa atau jaman yang semakin global dan berkembang modern ini mereka perlu mendapat pondasi moral yang kuat seperti pemahaman nilai-nilai Pancasila yang telah menjadi falsafah dasar bangsa. Nilai Pancasila yang telah disepakati sebagai nilai-nilai kebaikan yang harus ditanamkan kepada masing-masing jiwa rakyat Indonesia.

 

Nilai Pancasila memang harus terus digiatkan kepada generasi muda. Jika tidak, maka derasnya arus informasi yang bertebaran bisa menjadi ancaman. Minimnya pemahaman terhadap nilai-nilai Pancasila dapat menyebabkan generasi muda bersikap individualistis dan tidak mempunyai pegangan di tengah arus informasi global.

 

Oleh karena itu, sebaiknya anak-anak muda tak berhenti terus berkarya sambil menanamkan nilai-nilai Pancasila di kehidupan. Terlebih dalam era kebebasan informasi dan persaingan global sekarang ini, ada banyak ideologi yang bisa membelokan kecintaan kaum muda terhadap warisan budaya dan kearifan yang Indonesia miliki. Tanpa disadari, hal itu akan berpengaruh pada kualitas hidup bangsa kedepannya.

 

Referensi :

Apriliani, D. (2018, Februari 8). Yuk, Membumikan Nilai Pancasila kepada Generasi Muda. Jangan Lupakan Landasan Kita! Retrieved from hipwee.com: https://www.hipwee.com/feature/yuk-membumikan-nilai-pancasila-kepada-generasi-muda-jangan-lupakan-landasan-kita/

Handitya, B. (2019). Menyemai Nilai Pancasila Pada Generasi Muda Cendekia. Adil Indonesia Jurnal, 13-23.

Rizal, J. G. (2020, Juni 1). Hari Ini dalam Sejarah: Hari Lahir Pancasila. Retrieved from kompas.com: https://www.kompas.com/tren/read/2020/06/01/091041765/hari-ini-dalam-sejarah-hari-lahir-pancasila?page=all

 

Penulis: Shofie Najmil L, mahasiswa Fakultas Hukum 2020

Editor: Aslamatur Rizqiyah, Dyah Satiti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *