Memahami Fungsi MBTI dari perspektif Psikologi

Ilustrasi karir sesuai dengan hasil tes MBTI. (Sumber: Pinterest)

Gaya Hidup – Akhir-akhir ini, banyak pendaftaran kepanitiaan maupun organisasi yang mensyaratkan peserta menyerahkan hasil tes Myers-Briggs Type Indicator (MBTI). Tes MBTI merupakan sebuah metode pengukuran berbentuk kuesioner yang  digunakan  untuk  membaca  kepribadian  seseorang,  khususnya  untuk  memahami  bagaimana preferensi seseorang dalam menilai sesuatu  dan  membuat keputusan.  Metode yang dikembangkan  oleh Katharine Cook Briggs dan putrinya, Isabel Briggs Myers didasarkan pada teori kepribadian yang dikemukakan oleh Carl Gustav Jung dalam bukunya yang berjudul Psychological Types (1921M).

Jung memaparkan bahwa ada empat fungsi psikologis utama yang digunakan oleh manusia, yakni: sensasi (sensation), intuisi (intuition), perasaan (feeling), dan pemikiran (thinking). Hasil dari tes MBTI kerap kali digunakan dalam berbagai keperluan, baik untuk keperluan korporasi, pendidikan tinggi, atau agensi pemerintahan.

Orientasi Diponegoro Muda (ODM) 2021 adalah salah satu organisasi tingkat universitas yang menggunakan hasil tes MBTI sebagai salah satu syarat berkas pendaftaran koordinator divisi dan staf divisi, Jumat (23/4) lalu.

Menurut pernyataan Ichwan selaku ketua ODM Undip 2021, hasil tes MBTI akan digunakan sebagai salah satu acuan untuk dapat melihat kepribadian dari calon koordinator divisi. Selain itu, juga lebih mudah mengenali karakteristik serta potensi mereka. Kondisi pandemi yang masih berlangsung hingga kini menjadi salah satu pertimbangan diberlakukannya syarat berkas hasil tes MBTI.

“Kita tahu banyak dampak yang ditimbulkan (pandemi, red), termasuk mempengaruhi mental seseorang dalam dunia kerja, organisatoris dan juga event organizer,” kata Ichwan ketika diwawancara oleh awak Manunggal, Sabtu (29/4) lalu.

“Untuk tetap dapat menjaga workflow yang baik tentu perlu untuk mengetahui bagaimana kepribadian dari seseorang,” tambahnya.

Namun, banyak ditemukan celah dari urgensi penggunaan hasil tes MBTI dalam penyeleksian. Ronald E. Riggio selaku professor dari Universitas Claremont McKenna berpendapat, hanya ada sedikit bukti yang mendukung hubungan antara jenis kepribadian dari tes MBTI dengan kesuksesan dalam jenis pekerjaan tertentu.

Adam Grant, seorang professor psikologi dari Universitas Pennsylvania, turut mengkritik dan menyatakan bahwa tidak ada keterangan valid di dalam tes tersebut.

“Karakteristik yang diukur oleh tes MBTI hampir tidak memiliki kekuatan prediksi tentang seberapa bahagia Anda dalam suatu situasi atau bagaimana Anda akan melakukan pekerjaan Anda,” ucap Adam, dilansir dari artikel ilmiah di situs resmi vox.

Menanggapi pernyataan ketua ODM 2021, Kartika selaku dosen Fakultas Psikologi memaparkan bahwa hasil tes MBTI tidak dapat mengungkap kerentanan terhadap tingkat stress dan kondisi mental seseorang. Tes ini lebih merujuk pada tipe seseorang dalam menggali informasi, mengolah informasi dan pengalaman, mengambil keputusan, serta sumber energi psikis utama.

“Sebenarnya MBTI seringkali digunakan untuk peningkatan pemahaman diri sehingga bisa berfungsi optimal sebagai pribadi atau lebih pada memahami minat seseorang. Bukan untuk screening,” ucap Kartika saat dihubungi awak Manunggal melalui WhatsApp,  Sabtu (29/4).

Tes MBTI lebih tepat digunakan sebagai instrumen untuk mengetahui informasi tentang kelebihan dan kelemahan diri individu. Informasi tersebut dapat digunakan untuk melakukan pengembangan diri dan mengatasi kelemahan diri.

Perihal psikotes, Kartika juga menguraikan bahwa segala bentuk hasil psikotes bisa berubah karena tes tersebut diukur berdasarkan preferensi atau kecenderungan seseorang. Ada seseorang yang cenderung memanfaatkan energi psikis dari lingkungan eksternal, berupa support system dan ada juga yang bersumber dari internal diri berupa olah pikir, prinsip, dan nilai-nilai pribadinya.

“Menyerap energi psikis bisa berbeda sumbernya energinya tergantung situasi dan kondisinya si testi. Jadinya bisa saja satu waktu dia terlihat cenderung introvert, bisa satu waktu lebih dominan ekstrovernya. Tapi biasanya perubahan tersebut tidak ekstrem,” jelas Kartika.

Dalam tes MBTI, energi psikis yang dominan – eksternal atau internal – dapat menyebabkan perubahan skala ekstrover atau introver.  Sebagai contoh, skala kecendurangan seseorang bisa lebih condong pada kepribadian introver apabila saat melakukan tes, energi psikis internalnya lebih dominan.

 

Referensi:

Caswell dan Joseph Stromberg. 2015. Why the Myers-Briggs test is totally meaningless. Dilansir dari https://www.vox.com/2014/7/15/5881947/myers-briggs-personality-test-meaningless

Riggio, Ronald E. 2014. The Truth About Myers-Briggs Types. Dilansir dari https://www.psychologytoday.com/us/blog/cutting-edge-leadership/201402/the-truth-about-myers-briggs-types

Susanto, Eko. 2017. Pengembangan Inventori MBTI Sebagai Alternatif Instrumen Pengukuran Tipe Kepribadian. Article in Indonesian Journal of Educational Counseling. Dilansir dari https://www.researchgate.net/publication/322928441

Widayati dan Yashinta Rizki Ananda. 2017. Mengembangkan Tes Myer Briggs Type Indicator (MBTI) sebagai identifikasi awal untuk layanan konseling karir di  SMK Negeri 1 Demak. International Conference, pp. 217-225

 

Reporter: Siti Latifatu

Penulis: Siti Latifatu

Editor: Aslamatur Rizqiyah, Dyah Satiti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *