Fakta Rupiah di Balik Sekantong Darah

Peristiwa – Halo, Sobat Dipo! Tahukah Sobat bahwa 17 September diperingati sebagai hari Palang Merah Indonesia (PMI)? Ya, saat ini PMI sudah berdiri di Indonesia selama 76 tahun lamanya. Rasanya hampir semua masyarakat kenal dengan lembaga sosial kemanusiaan yang satu ini. Setiap kali mendengar mendengar kata PMI, yang biasanya teringat oleh sebagian orang ialah aktivitas donor darah.

Selama ini aktivitas donor darah dianggap sebagai aktivitas yang mulia sekaligus bermanfaat baik bagi pendonor maupun penerima. Namun, tahukah Sobat bila di luar sana masih ada sebagian orang yang memandang sebelah mata kegiatan donor darah, bahkan ada yang menganggapnya sebagai kegiatan yang merugikan? Lho, kok bisa ada yang berpikiran demikian ya? Yuk, kita simak kisah nyata yang pernah dialami oleh penulis semasa SMA dahulu.

Pernah suatu kala sekolah penulis dihadiri oleh tim dari PMI dalam rangka acara donor darah sukarela. Penulis saat itu sudah menginjak usia ke 17 tahun, jadi ia berniat untuk turut menjadi pendonor dalam kegiatan tersebut. Tak lupa, penulis juga mengajak beberapa teman satu kelas untuk ikut berpartisipasi. Sayangnya, ada seorang teman yang menolak untuk ikut donor saat itu. Ketika penulis tanya apa alasannya, dia menjawab enggan melakukannya sebab kegiatan tersebut dinilainya sebagai bentuk dari eksploitasi.

Mendengar hal itu, penulis jadi penasaran akan maksud di balik jawabannya tersebut. Lalu, ketika penulis menanyakannya lagi, dia justru menjawabnya kembali dengan melemparkan sebuah pertanyaan, “Bila bukan eksploitasi, lantas mengapa mengambil darah di PMI harus bayar, padahal kegiatan donor darah saja itu gratis?” Hal tersebut tentu mengundang pertanyaan penulis. Benarkah demikian?

Seperti yang dilansir dari ayodonor.pmi.or.id, ternyata biaya yang kita keluarkan sebenarnya adalah biaya penggantian pemeliharaan darah supaya kondisinya tetap sama seperti saat berada dalam tubuh kita. Biaya ini yang biasa kita kenal sebagai BPPD atau Biaya Penggantian Pengelolaan Darah. Jadi, pada dasarnya uang yang dikeluarkan oleh penerima bukanlah biaya darah semata, melainkan biaya pengganti pemeliharaan darah.

Harga darah di PMI sendiri kurang lebih saat ini mencapai Rp360.000 per kantongnya, bahkan terkadang bisa lebih dari itu. Sebagian dari kalian mungkin ada yang bertanya mengapa bisa semahal itu hanya untuk sekantong darah? Apa saja yang dilakukan PMI saat melakukan pemeliharaan darah hingga menyebabkan harganya bisa dikatakan cukup mahal? Berikut adalah rincian pemeliharaan darah berdasarkan informasi yang diperoleh dari pmiaceh.or.id:

1. Kantong darah

Kantong yang digunakan untuk donor darah bukanlah kantong yang sembarangan. Kantong ini didesain khusus agar mampu membuat darah tidak mudah membeku dan tidak rusak.

2. Pengecekan kesehatan donor.

Sebelum mendonor, para pendonor wajib dicek kesehatannya, mulai dari tensi darah, hingga kadar hemoglobin. Kegiatan ini juga diperlukan biaya yang tidak murah.

3. Pemeriksaan LAB penyakit menular

Selain kesehatan, pendonor juga dicek apakah sekiranya memiliki penyakit yang bisa menular melalui transfusi darah. Hal ini dilakukan demi keamanan para penerima darah dari risiko tertularnya penyakit. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) penyakit yang wajib dicek tersebut adalah: HIV/AIDS, Syphilis/Raja Singa/Treponema, Hepatitis B, dan Hepatitis C

4. Biaya proses komponen darah

Darah yang didonorkan nantinya akan diproses kembali sesuai dengan kebutuhan dan permintaan si penerima. Sebagai contoh seperti saat musim DBD, biasanya banyak pasien yang membutuhkan darah trombosit. Proses pembuatan darah merah sampai menjadi trombosit juga memerlukan biaya yang lumayan tinggi.

5. Uji Silang Serasi (Penyocokan antara darah donor dengan darah penerima/pasien)

Keserasian darah juga bersifat penting pada proses transfusi darah. Jika darah pendonor tidak cocok dengan si penerima walaupun golongan darahnya sama, maka dapat menimbulkan efek penolakan pada tubuh pasien. Oleh karena itu, perlu dilakukan pencocokan darah. Proses uji silang serasi ini tentu juga membutuhkan biaya.

6. Biaya Operasional, Jasa dan Lainnya

Selain itu terdapat juga biaya operasional, jasa dan lainnya hingga darah siap dan layak didonorkan kepada penerima.

Kurang lebih itulah alasan mengapa kita perlu membayar ketika ingin memperoleh  kantong darah. Di samping itu, gerakan donor darah sendiri pada dasarnya dilakukan untuk menyelamatkan nyawa manusia lain. Bukan untuk eksploitasi ataupun tujuan merugikan yang lainnya.

Sayangnya, masih ada beberapa masyarakat yang salah kaprah mengira demikian. Padahal, rumor tersebut sendiri sangat berlawanan dari 7 Prinsip Dasar Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah yang salah satunya ialah “Kesukarelaan”. Oleh sebab itu, setelah mengetahui semua ini, penulis harap banyak orang yang menjadi semakin sadar bahwa tidak ada yang salah dari kegiatan donor darah. Justru donor darah dapat membawa banyak manfaat, seperti membuat tubuh menjadi lebih sehat, dan yang terpenting dapat menyelamatkan nyawa orang lain. Jadi tunggu apa lagi? Yuk kita donor darah!

 

Penulis: Trian Afriyan Noor, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya 2020

Editor: Aslamatur Rizqiyah, Dyah Satiti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *