Fenomena Salah Ketik oleh Instansi Negara, Undip Juga Pernah?

Kesalahan ketik oleh Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia saat menulis kepanjangan dari KPK. (Sumber: Kompas.com)

Peristiwa – DPR: penyerahaan, Kementerian Dalam Negeri: Komisi Perlindungan Korupsi, dan Setneg: Badan Intelijen Nasional, adalah beberapa contoh dari kasus salah ketik yang dilakukan oleh lembaga besar di Indonesia. Salah ketik yang dilakukan oleh lembaga besar biasanya mendapat perhatian lebih dari warganet, terlebih kalau kesalahannya cukup fatal. Hal ini disebabkan oleh jangkauan internet yang luas dan mudahnya akses informasi. Dengan modal tautan atau tangkap layar, kesalahan-kesalahan tadi bisa menjadi topik pembicaraan hangat di media sosial.

Biasanya kesalahan yang muncul di dalam kiriman akun resmi lembaga besar di media sosial disebabkan oleh pemilihan kata tidak baku yang mungkin terasa lebih familiar bagi tim redaksi. Hal tersebut diungkapkan oleh Triyono Lukmantoro, dosen FISIP mata kuliah Jurnalisme, dalam wawancara dengan awak Manunggal pada Kamis (9/9).

“Kesalahan penulisan biasanya karena seseorang memahami bahwa kata tersebut sudah lazim dan benar untuk digunakan. Hal ini juga bisa mengingatkan kita bahwa sering sekali kita menemukan kata-kata yang salah penulisannya, tetapi digunakan oleh banyak orang,” jelasnya.

Ia kemudian menambahkan bahwa kesalahan ketik bukan hanya kesalahan teknis, tetapi juga masalah kehati-hatian dan masalah kecermatan. “Ini (tipo, red) juga disebabkan salah kerja tim yang harus membenarkan dan beberapa faktor lain.”

Beberapa waktu lalu, Undip juga sempat keliru dalam pemilihan kata pada kiriman akun Instagram resmi Undip. Senin (6/09), pukul 15:00 WIB, @undip.official mengunggah gambar berisi peta dunia yang disertai dengan kalimat “JARINGAN KERJASAMA UNDIP MENCANGKUP 5 BENUA”. Takarir yang menyertai unggahan tersebut kemudian diisi oleh informasi tentang misi Undip untuk menjadi World Class University.

Unggahan dari akun Instagram resmi Undip pada Senin (6/9), tentang jaringan kerja sama Undip. (Sumber: Instagram @undip.official)

Dua jam setelah diunggah, kiriman tersebut mendapat beberapa tanggapan dari warganet. Salah satu komentar mencoba untuk mengoreksi kesalahan penggunaan kata di dalam gambar tersebut.

“Mohon izin sebelumnya pak, mohon izin apabila saya diperkenankan untuk mengoreksi, saya ingin memberitahu bahwa kata mencangkup tidak terdapat di KBBI alias tidak baku, kata yang baku ialah ‘Mencakup’. Mohon untuk diperhatikan kembali, terimakasih,” tulis akun @sholvaa yang mendapat 11 suka.

Selasa (7/9), awak Manunggal meminta tanggapan langsung ke pihak humas terkait penggunaan kata mencangkup, tetapi tidak mendapat respon. Ketika awak Manunggal melakukan konfirmasi sekali lagi mengenai unggahan tersebut pada Jumat (10/9), kolom komentar unggahan tersebut tidak bisa diakses lagi karena dinonaktifkan.

Fajrul Falah, dosen mata kuliah Kehumasan prodi Sastra Indonesia mengatakan dalam wawancara dengan awak Manunggal pada Jumat (10/9), bahwa pemilihan kata yang tidak baku dalam sebuah kiriman bisa berarti dua hal: kesengajaan atau ketidaktahuan.

Ia menjelaskan bahwa kesengajaan ketik ada beberapa macam, yakni asal tulis yang tidak memperhatikan kebakuan kata atau kesengajaan dalam membuat style ‘gaya’ tulisan yang unik. Sedangkan, ketidaksengajaan berarti ketidaktahuan tentang penggunaan kata yang baku atau tepat.

“Kalau benar atau salah itu manakala kita mengukurnya dengan kata-kata baku atau tidak,” imbuh Fajrul.

Mencakup atau Mencangkup?

Apabila kita lihat di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, kata mencangkup hanya memuat satu entri, yakni “memakan dengan melemparkan makanan dari suap tangan ke dalam mulut”.

Di sisi lain, kata mencakup memuat dua entri. Entri pertama adalah “menangkap dengan mulut (seperti buaya mengatupkan mulutnya apabila banyak lalat masuk ke mulutnya)”, sedangkan entri kedua bermakna “menyauk: mencedok (dengan tangan)” dan “mencangkum (merangkum) beberapa hal”.

Mengutip penjelasan Irvan Lanin, aktivis bahasa Indonesia, dalam tayangan video YouTube Narabahasa, arti kata mencakup yang terakhir itulah yang biasanya dipakai dalam kalimat sehari-hari.

Oleh karena itu, penggunaan mencangkup dalam kalimat yang diunggah oleh @undip.official itu tidak bisa lagi dikatakan sebagai ketidakbakuan, tetapi malah sudah termasuk dalam ketidaktepatan.

“Ini bukan persoalan baku atau tidak baku. Tetapi, tepat atau tidak tepat menggunakan suatu kata. Kata mencangkup itu lebih kepada ‘melemparkan makanan ke mulut’, berarti itu kan tidak tepat. Yang benar memang seharusnya mencakup,” ucap Amida Yusriana, dosen mata kuliah Komunikasi Strategis, dalam wawancara dengan reporter Manunggal pada Jumat (10/9).

Dosen FISIP itu juga berpendapat bahwa kesalahan dalam kiriman @undip.official tersebut sangat disayangkan karena seharusnya sudah melewati beberapa layer editorial.

Lalu, Bagaimana Seharusnya?

Informasi dan pesan yang berusaha disampaikan oleh Humas Undip dalam kiriman yang diunggah – kemungkinan – memang berhasil sampai kepada para pembaca terlepas dari penggunaan kata yang salah. Namun, apakah patut kolom komentar pada kiriman tersebut dinonaktifkan.

Amida berpendapat, “Menurut saya, seharusnya yang dilakukan adalah dengan take down postingan itu, kemudian diganti dengan yang lebih baru; yang sudah diperbaiki. Kemudian, melakukan klarifikasi di bagian caption.”

Saran tersebut juga – menurut Amida – dapat diterapkan kepada seluruh humas yang memegang akun resmi lembaga dan instansi di Indonesia, tidak hanya ditujukan untuk admin @undip.official saja.

“Ini menjadi satu cara untuk saling mengingatkan,” ujar Triyono sebagai penutup wawancara.

 

Reporter: Siti Latifatu Saadah, Christian Noven

Penulis: Siti Latifatu Saadah

Editor: Aslamatur Rizqiyah, Dyah Satiti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *