Dimulainya Babak Baru Sebuah Drama di TikTok

Logo TikTok, platform yang kini tengah menguasai Indonesia. (Sumber: kompas.com)

Opini – Apabila mengemis like dan pengikut dengan menyertakan hastag #fff #followforfollow #lfl #likeforlike pada takarir menjadi sebuah fenomena yang dianggap alay, maka hastag #fyp #foryoupage kini sedang diobral di kanal sebelah. Seolah dunia kini sedang jungkir balik, platform yang dulunya dikuasai oleh Bowo Alpenliebe – laki-laki berbehel yang dihujat tanpa ampun – kini malah menjadi pelarian utama orang-orang gabut seperti saya.

Benar. Tiktok, platform video pendek sekarang mulai digemari dan dijadikan sebagai alternatif pencarian mengenai informasi yang tidak mengharuskan netizen mendengarkan dalam jangka waktu lama hingga berpuluh-puluh menit. Pengetahuan di kanal tersebut terbilang cukup ringkas, biasanya berdurasi satu menit tiap video. Melalui Tiktok, saya menemukan @dianfransiskasari, sosok yang videonya berisi mengenai sejarah dan segala pengetahuan tentang Indonesia, misalnya kasus Munir, PKI yang dimanipulasi oleh kurikulum sekolah, susu kental manis yang ber-BPOM tetapi aslinya berupa krimer, hingga menguak fakta mengenai TMII. Tetapi, saya tidak akan membahas hal tersebut tentunya. Tulisan ini hanya berisi luapan emosi saya yang sangat tidak penting.

Akhir-akhir ini saya baru sadar sesuatu karena beberapa minggu terakhir saya lebih aktif di TikTok. Ternyata, saya justru lebih menyukai instastory dengan konsep penataan yang apik dan rapi demi sebuah penampakan visual yang eye catching. Setidaknya, hal tersebut tidak merugikan orang lain. Katakanlah, insecure adalah urusan masing-masing penonton instastory. Tentu hal ini berbeda dengan isi konten di TikTok. Wah, parah! Di sana, hampir sebagian besar video berisi drama, settingan, sindiran, buka aib, dan masih banyak lagi. Beberapa hari yang lalu, saya menonton video seseorang sedang berkumpul dengan teman-temannya. Di depan temannya, telah tersaji sebuah makanan, sedang pemilik video hanya tersedia segelas es teh. Lalu si pemilik akun TikTok ini menyertakan takarir kira-kira begini, “Saat aku salah circle. Yang lain makan enak dan hedon, sedangkan aku hanya bisa melihat”. Jujur saja saat itu saya langsung simpati karena yaa kasus seperti itu sebenarnya di dunia nyata memang ada. Tetapi saya keburu tersadar dengan komentar seseorang yang berkata, “Plot twistnya, dia sedang menunggu makanannya yang belum jadi”. Kalian tahu apa yang sedang saya rasakan? Saya seolah menjadi orang paling bodoh di semesta raya ini. Bisa-bisanya saya tertipu oleh drama macam itu.

Lanjut. Banyak gak sih konten-konten tidak bermutu yang justru masuk beranda utama TikTok? Bahkan ya, tidak jarang orang-orang yang rela joget TikTok di tempat umum dengan mengesampingkan rasa malu. Ada pula salah satu pelanggan yang rela berdiri dan menunggu seonggok manusia sedang joget-joget dan dengan sadar menghalangi barang yang hendak dibeli pelanggan tersebut. Tentu saja pelanggan tersebut sudah mengatakan “permisi” – setidaknya begitu keterangan dalam videonya, mohon maaf apabila saya tertipu lagi – tetapi onggokan manusia tadi sama sekali tidak peduli. Capek deh. Kesal juga saya jadinya. Saya sebagai penonton aja dongkol banget apalagi si “korban”.

Lagi. TikTok adalah platform utama sebagai ajang sindir-menyindir secara langsung. Apabila di Instagram biasanya masih terselip rasa takut sehingga bentrok di kolom komentar menggunakan akun palsu, maka di TikTok akan kamu temui menjatuhkan orang lain dengan memperlihatkan wajah aslinya. Contoh kasus yang tentu saja membuat saya emosi adalah sosok laki-laki yang merendahkan seorang perempuan dengan ciri-ciri: outer rajut, rok plisket, kacamata photocromic dan sepatu apa lah itu namanya – saya lupa. Katanya, “Cantik sih. tapi kalo outfitnya (ciri-ciri tersebut), gak dulu deh.” Kenapa sih? Oke, begini ya, Mas. Tidak apa-apa apabila Anda yang terhormat cukup muak dengan perempuan ber-fashion seperti itu berseliweran di mana-mana. Katakanlah seleramu perempuan dengan pakaian mahal dan bermerk, tentu saja. Tapi, saya minta tolong tidak usah menjatuhkan mental orang lain dengan cara seperti itu. Kalo gak suka ya udah diam saja, jangan cari-cari sensasi macam itu. Mangkel loh saya. Orang menurut perempuan, outfit kaya gitu bagus kok, Yang penting pemakainya nyaman dan percaya diri gitu lho.

Mirisnya lagi. Anak-anak di sekitar rumahku hampir sebagian besar nonton TikTok yang dengan bebas berseliweran konten-konten 18+. Bahkan nih, ya. Anak seusia tiga tahun sekarang nyanyinya lagu TikTok. Gak tahu lah saya. Cukup heran dengan fenomena zaman sekarang. Terus, katanya bocil-bocil tersebut sering komen dengan mengingatkan pemilik akun TikTok untuk menutup aurat, beribadah, jangan mengumbar aib, menggunakan dalil Al Qur’an. Subhanallah. Padahal pemilik akun beragama Kristen. (tepuk jidat). Makin ke sini makin menakutkan ya isu toleransi umat beragama di Indonesia.

Terakhir, katanya sekarang sedang marak ngemis online. Lihat saja di kolom komentar Sisca Kohl, banyak yang meninggalkan kalimat “Bismillah satu juta”, “Bismillah Iphone”, dan masih banyak lagi. Bahkan, ada yang sampai minta sumbangan baju bekas para artis TikTok melalui direct message Instagram. Tadinya aku mau insecure dengan orang-orang sih. Tetapi, gak dulu deh. Kata @Clarashintareal, “Sudahi insecure mu. Ada yang sedang ngemis online.”

Sekian marah-marah dari saya. Saya takut diserang warga TikTok yang katanya bersolidaritas. Mohon maaf apabila tulisan ini clueless.

 

Penulis: Aslamatur Rizqiyah

Editor: Dyah Satiti Pujitaningrum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *