Nilai Tukar Rupiah Kini Makin Melemah, Presiden Prabowo: Tenang Saja!

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS per Minggu (17/5). (Sumber: Google).

Peristiwa Nilai tukar rupiah kembali mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah dengan menyentuh angka Rp17.613,5 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (15/5). Melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS menimbulkan reaksi dari berbagai pihak, mulai dari lembaga pemerintahan, akademisi, hingga masyarakat Indonesia. Peristiwa tersebut dipastikan dapat memengaruhi harga kebutuhan sehari-hari dan berdampak pada kehidupan masyarakat di Indonesia.

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI), Teuku Riefky atau dipanggil Riefky, menyatakan bahwa melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS dapat mengakibatkan kenaikan biaya produksi produk-produk domestik. Hal tersebut dikarenakan sekitar 70 persen bahan-bahan baku yang dibutuhkan oleh kebanyakan industri di Indonesia untuk proses produksi merupakan produk impor, mulai dari bahan-bahan kimia, tekstil, minyak, gas, elektronik, kendaraan, hingga obat-obatan. 

“Implikasinya terhadap masyarakat sehari-hari adalah tentu biaya hidup yang akan semakin mahal,”  tutur Riefky saat diwawancarai oleh British Broadcasting Corporation (BBC) News Indonesia.

Tren pelemahan nilai tukar rupiah terjadi bukan tanpa alasan. Ekonom Maybank, Myrdal Gunarto memaparkan salah satu alasan tren pelemahan nilai tukar rupiah adalah karena tingginya permintaan valuta asing (valas) di dalam negeri yang melebihi pasokan yang tersedia. Meningkatnya permintaan valas tersebut didorong oleh beberapa faktor utama, yaitu:

  1. Investor asing menjual aset investasi di pasar keuangan domestik yang kemudian mengonversi aset rupiahnya ke mata uang asing. Hal tersebut dilakukan karena investor asing menganggap kondisi ekonomi yang kurang cukup menguntungkan untuk berinvestasi di Indonesia, sehingga lebih tertarik untuk menukar rupiah tersebut menjadi dolar AS agar dapat diinvestasikan di luar negeri.
  2. Adanya kebutuhan valas untuk pembayaran dividen (pembagian keuntungan perusahaan kepada pemegang saham) kepada investor asing, seiring dengan periode pembagian dividen emiten (perusahaan yang sahamnya dijual di bursa saham) yang tengah berlangsung. 
  3. Kebutuhan impor yang berpotensi menekan neraca perdagangan, memungkinkan defisit apabila nilai impor terus meningkat.

“Jadi di saat permintaannya (red, valas) lebih tinggi dibandingkan dengan suplai valasnya itu yang membuat mengapa rupiah melemah,” kata Myrdal saat dihubungi Kumparan pada Rabu (22/4). 

Di sisi lain, pendiri Malaka Project sekaligus lulusan Politeknik Keuangan Negara Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (PKN STAN), Ferry Irwandi berpendapat bahwa melemahnya nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh berbagai faktor yang kompleks, yakni faktor eksternal, domestik, dan kepercayaan.

“Apa yang dimaksud faktor eksternal? Ya faktor AS, faktor konflik, faktor betapa kuatnya dolar sekarang, gitu. Jadi, sebenarnya yang sedang melemah itu bukan rupiah doang, banyak mata uang lain melemah, tapi kebetulan rupiah jadi salah satu yang paling lemah,” kata Ferry dalam konten pada akun Instagram miliknya, @irwandiferry.

Ia menambahkan bahwa banyak orang yang beranggapan bahwa berinvestasi ke AS lebih menguntungkan, sebab nilai dolar yang terus menguat. 

“Memang dolar itu lagi kuat-kuatnya, kenapa dolar itu lagi kuat-kuatnya? Karena dunia itu lagi nggak baik-baik saja dan orang butuh safe heaven, orang butuh jaminannya lebih tinggi, apalagi suku bunganya Amerika itu nggak turun-turun, masih tinggi,” tambah Ferry. 

Menanggapi melemahnya nilai tukar rupiah baru-baru ini, melansir dari Kompas.com, Anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Eric Hermawan meminta Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) untuk meredam pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

“Bank Indonesia siang malam menjaga BI Rate supaya stabil, dan saya menyarankan ke BI agar menaikkan suku bunga agar ada perimbangan dolar, sehingga (red, dolar) turun,” kata Eric melansir dari Kompas.com dalam keterangannya pada Minggu (17/5).

 

Respons Presiden Mengenai Melemahnya Nilai Rupiah terhadap Dolar AS

Sementara itu, Presiden Republik Indonesia (RI) periode 2024-2029, Prabowo Subianto menanggapi bahwa melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS bukan hal yang perlu dikhawatirkan selama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa masih tersenyum. 

“Purbaya sekarang populer banget Purbaya itu. Selama Purbaya bisa senyum, tenang saja, nggak usah kau khawatir itu,” ujar Prabowo saat acara peresmian 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih pada Sabtu (16/5) di Desa Nglawak, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. 

Selain itu, Prabowo juga mengatakan bahwa masyarakat di desa tidak menggunakan dolar, sehingga tidak perlu khawatir akan melemahnya nilai rupiah. Ia justru menganggap bahwa orang-orang yang sering bepergian ke luar negeri yang akan lebih terdampak.

“Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa nggak pakai dolar dibilang kan, yang pusing yang itu, yang suka ke luar negeri, hayo, siapa ini?” lanjut Prabowo.

Perkataan Prabowo mengenai masyarakat desa tidak menggunakan dolar tersebut lantas menjadi sorotan publik. Muncul berbagai tanggapan yang menilai ucapan Prabowo tersebut kontroversial. Eksportir Indonesia, Dewi Harlas menanggapi bahwa justru masyarakat desa yang pertama kali akan terkena dampak dari melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS. Ia mengatakan bahwa saat dolar naik, bukan hanya barang mewah yang akan menjadi lebih mahal, melainkan juga harga kebutuhan pokok, seperti beras, pupuk, bahan bakar minyak (BBM), solar, transportasi, dan sembako.

“Bukan cuman iPhone, bukan cuman mobil mewah, dan bukan cuman barang impor di mal-mal kota besar, tapi harga kebutuhan paling dasar yang ikut terdorong naik. Beras naik, pupuk naik, BBM naik, solar naik, biaya transportasi naik, harga sembako akhirnya juga pelan-pelan naik,” ujar Dewi dalam kontennya pada akun Instagram @ukm_eksporter_indonesia

Dewi pun menjelaskan berbagai pekerjaan sebagai mata pencaharian di pedesaan, seperti petani, nelayan, dan pedagang kecil di pasar yang masih sangat terpengaruh oleh nilai dolar. 

“Petani mungkin nggak pernah transaksi pakai dolar, tapi pupuk yang mereka beli terpengaruh oleh nilai dolar, nelayan mungkin juga nggak pernah punya dolar, tapi solar yang mereka beli terpengaruh oleh dolar,” jelas Dewi.

 

Dewi menambahkan bahwa melemahnya nilai tukar rupiah akan menyebabkan tekanan psikologis bagi orang-orang dengan ekonomi menengah ke bawah. 

“Yang paling cepat tertekan bukan orang kaya, tapi orang kecil karena penghasilan mereka tetap, sementara harga kebutuhan terus bergerak naik. Kenaikan dolar mungkin dimulai dari pasar global, tapi yang menanggung akibatnya justru adalah masyarakat paling bawah,” pungkas Dewi. 

 

Tanggapan Menteri Keuangan

Sebelumnya, Purbaya sempat ditanya oleh para wartawan mengenai melemahnya nilai tukar rupiah pada Senin (16/4) di Kantor Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian. Ia mengatakan bahwa dirinya selaku Menteri Keuangan tidak dapat memberikan keterangan lebih lanjut mengenai hal tersebut, karena persoalan nilai rupiah merupakan kewenangan BI selaku bank sentral.

“Saya nggak tahu kenapa itu melemah, tapi Anda harus tanyakan ke bank sentral kalau soal rupiah, Anda tanya yang betul ke bank sentral, apa yang terjadi, kenapa Anda tanya ke saya? Karena tanggung jawab bank sentral hanya satu, menjaga stabilitas nilai tukar,” ucap Purbaya. 

Purbaya juga mengatakan bahwa ia tidak ingin mengintervensi kebijakan bank sentral, sehingga menolak untuk memberikan keterangan mengenai melemahnya nilai rupiah yang saat itu masih 16.997 rupiah per 1 dolar AS.

“Kalau saya ngomong nanti kan bahaya, intervensi kebijakan bank sentral. Saya nggak ngerti itu, jadi harus tanya ke bank sentral,” jelas Purbaya.

Selain itu, Purbaya menjelaskan bahwa seharusnya fundamental ekonomi Indonesia makin baik jika pertumbuhan dan aktivitas ekonomi juga baik. Namun, nilai tukar rupiah yang melemah justru menyebabkan sebaliknya. Ia kemudian juga mengarahkan para wartawan untuk menanyakan hal tersebut kepada BI.

“Kalau ekonominya lagi lari, lagi lari kencang, makin kencang, harusnya fundamentalnya baik. Kalau normal, rupiah harusnya menguat, jadi Anda tanyakan ke bank sentral kenapa melemah,” tambah Purbaya.

Meskipun demikian, Purbaya kembali menanggapi peristiwa melemahnya kurs rupiah pada Rabu (13/5) di Gedung Kejaksaan Agung (Kejagung) RI, Jakarta. Ia mengimbau agar masyarakat tidak panik. Purbaya juga mengatakan bahwa persoalan melemahnya nilai tukar rupiah tidak akan sama atau lebih parah dari kondisi yang terjadi pada tahun 1998 dan masih dapat diatasi dengan baik.

“Kita nggak akan sejelek kayak tahun ’98 lagi, nggak akan jelek malah. Dengan pondasi ekonomi yang kuat, nggak terlalu sulit sebetulnya,” tegas Purbaya mengutip dari Kompas.com

Purbaya juga meyakini bahwa BI dapat menangani persoalan lemahnya nilai rupiah dengan Kementerian Keuangan RI yang juga akan turut membantu.

“Ya itu Anda tanya bank sentral saja, mereka yang berwenang. Tapi saya yakin mereka bisa kendalikan. Kita akan bantu sedikit-sedikit nanti,” kata Purbaya.

Berbagai pihak menyoroti melemahnya kurs rupiah terhadap dolar AS hari ini. Peristiwa tersebut menjadi perbincangan di kalangan ekonom serta masyarakat Indonesia. Selain itu, melemahnya kurs rupiah kini dinilai berpotensi menyebabkan permasalahan ekonomi, mulai dari naiknya harga bahan-bahan untuk kebutuhan sehari-hari, hingga persoalan kepercayaan investor asing untuk menanamkan saham kembali di Indonesia.

 

Penulis: Salwa Hunafa

Editor: Salsa Puspita, Andaru Surya

Referensi:

BBC.com. (2026). Rupiah cetak rekor terlemah, apa yang akan terjadi selanjutnya?. Diakses pada Minggu (17/5) melalui https://www.bbc.com/indonesia/articles/c5y9eexrq9zo 

Kumparan.com. (2026). Ekonom Jelaskan Penyebab Rupiah Melemah di Kisaran Rp 17.170 per Dolar AS. Diakses pada Minggu (17/5) melalui https://kumparan.com/kumparanbisnis/ekonom-jelaskan-penyebab-rupiah-melemah-di-kisaran-rp-17-170-per-dolar-as-27FwpZqV63t/2

Kompas.com. (2026). Rupiah Anjlok, Anggota DPR Sarankan BI Naikkan Suku Bunga. Diakses pada Minggu (17/5) melalui https://nasional.kompas.com/read/2026/05/17/15345771/rupiah-anjlok-anggota-dpr-sarankan-bi-naikkan-suku-bunga# 

Kompas.com. (2026). Purbaya Imbau Masyarakat Tak Panik Rupiah Anjlok: Tak Akan Sejelek ‘98. Diakses pada Minggu (17/5) melalui https://nasional.kompas.com/read/2026/05/13/16422461/purbaya-imbau-masyarakat-tak-panik-rupiah-anjlok-tak-akan-sejelek-98 

irwandiferry. (2026). Pendapat mengenai melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS [Instagram reel]. Instagram. https://www.instagram.com/reel/DYRczoTxJqW/?igsh=dXIwaWNqNnFkc3ln

ukm_eksporter_indonesia. (2026). Pendapat mengenai melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. [Instagram reel]. Instagram. https://www.instagram.com/reel/DYZ7D7xhAzh/?igsh=aDVsNnozMTQxMGhz 

Scroll to Top