
Gaya Hidup – Feminine intuition, istilah ini semakin ramai dibicarakan setelah Olivia Rodrigo, seorang penyanyi dan penyanyi asal Amerika Serikat, merilis lagu drop dead yang menjadi lagu pembuka untuk album ketiganya, you seem pretty sad for a girl so in love. Dalam lagu tersebut, Olivia menyebut istilah “feminine intuition” melalui lirik:
“One night I was bored in bed
And stalked you on the internet
It’s feminine intuition
‘Cause I always had a vision of us standing like this”
Sepenggal lirik tersebut menggambarkan satu perasaan yang diam-diam sangat relate bagi banyak orang. Perasaan aneh yang muncul begitu saja terhadap seseorang, tempat, atau situasi tertentu, seolah hati bisa merasakan sesuatu bahkan sebelum logika mampu menjelaskannya.
Tapi sebenarnya, apa sih feminine intuition?
Feminine intuition atau yang sering kita sebut sebagai insting atau feeling adalah perasaan yang membuat seseorang lebih peka terhadap sesuatu. Bukan hanya dalam hal percintaan seperti lagu Olivia, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Saat merasa ada yang tidak beres dalam sebuah hubungan pertemanan, merasa tidak nyaman, menyadari perubahan energi dalam situasi tertentu, atau bahkan tiba-tiba merasa harus mengambil keputusan tertentu tanpa tahu pasti alasannya.
Dan menariknya, hal seperti ini ternyata tidak sepenuhnya sekadar feeling.
Dalam sains dan psikologi, intuisi sering dikaitkan dengan pattern recognition, yaitu kemampuan otak mengenali pola secara cepat melalui sinyal-sinyal kecil yang diproses tanpa sadar. Setiap hari, manusia terus menangkap petunjuk kecil tanpa disadari, mulai dari ekspresi wajah, cara berkomunikasi, tone emosional, gestur, hingga ritme seseorang saat membalas chat atau bereaksi terhadap situasi tertentu.
Otak mengumpulkan detail-detail kecil dan menerjemahkannya menjadi sesuatu yang sering kita sebut sebagai insting atau feeling.
Lalu, mengapa perempuan sering dianggap memiliki intuisi yang lebih kuat dibanding laki-laki?
Ternyata hal ini bukan tanpa alasan, ada beberapa penelitian ilmiah yang menjelaskan hal tersebut.
Pertama, penelitian neurobiologi menunjukkan bahwa terdapat perbedaan cara kerja otak antara perempuan dan laki-laki, terutama pada bagian yang berkaitan dengan emosi, empati, dan respons sosial. Amigdala, bagian otak yang berperan dalam membaca emosi dan mendeteksi suasana hati orang lain, disebut memiliki koneksi fungsional yang lebih kuat pada perempuan. Hal inilah yang menjadikan perempuan cenderung lebih peka dan cepat dalam menangkap perubahan emosional di sekitarnya.
Kedua, perempuan memiliki hormon estrogen sebagai hormon utama yang diyakini membantu meningkatkan sensitivitas terhadap emosi, komunikasi interpersonal, dan persepsi sosial. Meskipun laki-laki juga memiliki hormon estrogen, tetapi jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding perempuan. Inilah yang membuat banyak perempuan cenderung lebih sadar dan peka terhadap suasana perubahan energi, atau ketegangan emosional yang mungkin tidak langsung disadari orang lain.
Ketiga, pengalaman hidup dan proses sosial yang juga memainkan peran besar. Sejak lama, perempuan lebih sering dibentuk untuk memperhatikan hubungan interpersonal, memahami emosi, dan membaca kebutuhan orang lain. Kebiasaan ini tanpa sadar melatih kemampuan observasi emosional dan komunikasi non-verbal mereka menjadi lebih tajam.
Hal tersebut juga diperkuat oleh riset University of Cambridge yang dipublikasikan dalam jurnal Molecular Psychiatry pada tahun 2018 melalui tes “Reading the Mind in the Eyes” terhadap lebih dari 89 ribu partisipan. Penelitian ini menemukan bahwa perempuan cenderung lebih akurat dalam menebak emosi seseorang hanya melalui ekspresi mata. Studi tersebut juga menunjukkan bahwa perempuan rata-rata memiliki kemampuan empati kognitif dan komunikasi non-verbal yang lebih tinggi dibanding laki-laki.
Namun, meski intuisi sering terasa benar, intuisi tetap bukan sesuatu yang selalu akurat. Apa yang kadang-kadang kita anggap sebagai intuition sebenarnya adalah proyeksi, ketakutan, kesepian, trauma, atau bahkan sekadar keinginan untuk merasa dimengerti oleh seseorang atau keadaan.
Tidak semua feeling lahir dari insting yang tepat, manusia terkadang juga menafsirkan hal-hal yang sebenarnya belum tentu nyata.
Karena itu, feminine intuition mungkin bukan sepenuhnya delusi. Mungkin, intuition hanyalah cara pikiran manusia mencoba mengenali rasa familiar melalui potongan emosi, pola, pengalaman, dan sinyal-sinyal kecil yang dikumpulkan secara tidak sadar dan sebelum logika dapat memberikan penjelasan.
Penulis: Yovita Restu Susanti
Editor: Salsa Puspita, Andaru Surya
Referensi:
Julmi, C. (2019, Maret 07). When rational decision-making becomes irrational: a critical assessment and re-conceptualization of intuition effectiveness. Business Research Springer Nature Link, 12, 291–314. https://doi.org/10.1007/s40685-019-0096-4
Umar, M. A. (2024, Oktober 15). Mengapa Wanita Seringkali Memiliki Intuisi yang Kuat. Warung Sains Teknologi. Retrieved May 9, 2026, from https://warstek.com/wanita-intuisi-kuat/
Warrier, V, dkk. 2018. Genome-wide Meta-Analysis of Cognitive Empathy: Heritability, and Correlates with Sex, Neuropsychiatric Conditions and Cognition. Molecular Psychiatry. 23(6): p. 1402-1409.



