Detoks Digital Paling Ampuh? Cukup Duduk Tenang dan Membaca

Apresiasi — Kapan terakhir kali kamu membaca buku? Satu pertanyaan sederhana untuk mengingatkan kembali bahwa kebiasaan itu perlahan menghilang tanpa pamit dan tergantikan oleh notifikasi serta guliran tanpa ujung yang pelan-pelan menggantikan kebiasaan membaca buku di keseharian kita. Di dunia serba digital ini, buku senantiasa hadir dan Hari Buku Nasional yang diperingati setiap tanggal 17 Mei menjadi upaya mengingatkan kembali budaya literasi bagi masyarakat Indonesia.

Ilustrasi duduk berdiam diri sembari membaca buku (Sumber: ShutterStock)

Hari ini, di tanggal 17 Mei, rasanya penting duduk sejenak dan berdiam diri untuk mengingat kembali bagaimana awal mula buku dapat membuat sebagian orang jatuh cinta dan bagaimana sebuah lembaran halaman memainkan bagian emosional. Ketika membuka lembar sampul sebuah buku lama yang halamannya telah menguning, pada akhirnya kita menyadari bahwa kita telah lama meninggalkan kumpulan kertas itu. 

“Setiap tulisan merupakan dunia tersendiri, yang terapung-apung antara dunia kenyataan dan dunia impian,” – Pramoedya Ananta Toer dalam salah satu karyanya, Rumah Kaca.

Hari ini kita kembali diingatkan untuk jujur pada diri kita sendiri kapan terakhir kali kita membaca buku. Bukan menonton video pendek, bukan membaca sepotong artikel, melainkan duduk dengan tenang dan meromantisasi setiap lembarannya membawa pergi pikiran yang terlalu lama terjebak di layar. 

Hari ini dipilih sebagai peringatan Hari Buku Nasional, hari yang sama dengan tanggal berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI). Pada saat itu, Perpusnas RI dibangun berdasarkan Keputusan Menteri Nomor 0164/0/1980 yang ditandatangani oleh Dr Daoed Joesoef, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada saat itu. Selain itu, ide terkait penetapan hari buku nasional juga dicetuskan oleh Menteri Pendidikan Nasional era Presiden Megawati Soekarnoputri, Abdul Malik Fadjar sebagai upaya meningkatkan minat literasi masyarakat Indonesia. 

Membaca buku tidak hanya dapat menambah pengetahuan, tetapi juga meningkatkan kemampuan berpikir kritis, analitis, hingga kemampuan meningkatkan fokus. Bukan tanpa alasan, hal ini terjadi karena membaca buku dapat melatih otak untuk terus fokus pada satu hal yang sama dalam jangka waktu yang lama. Jika kebiasaan ini diadaptasi ke dalam kegiatan sehari-hari, maka akan sangat berguna untuk meningkatkan fokus ketika bekerja maupun belajar. Hal ini serupa dengan penjelasan oleh Profesor Maryanne Wolf dalam artikel UCLA School of Education & Information Studies yang menjelaskan bahwa deep reading atau membaca secara mendalam membantu kita untuk mencapai empati dan pemikiran kritis, sehingga menjadi salah satu alat terbaik bagi kaum muda untuk dapat membedakan antara informasi yang benar dan yang salah. Gemar membaca dapat melindungi kita dari berbagai penyakit otak, seperti stres, demensia, bahkan pikiran-pikiran negatif pun dapat berkurang dengan membaca buku. 

Sayangnya, kegiatan membaca kian memudar seiring dengan berkembangnya teknologi yang ada. Berkembangnya teknologi mempermudah kita dalam mengakses berbagai informasi secara cepat serta mempermudah sarana prasarana yang dibutuhkan oleh manusia, seperti gawai sebagai salah satu contohnya. Kedatangan  layar kecil itu  tidak terjadi hanya dalam semalam, tidak ada fenomena khusus yang membuatnya menggantikan buku. Ia datang dengan berbagai kabar gembira, notifikasi, dan video pendek yang terlihat membuat nyaman. Ironisnya, ditemukan data yang menjelaskan bahwa di Amerika, setiap harinya terdapat penurunan mencolok mengenai minat membaca untuk bersenang-senang pada 236.270 warga Amerika, dengan penurunan sebesar 40% dan dengan laju penurunan yang konsisten 3% setiap tahunnya.  

Berbagai media sosial seperti TikTok, Instagram Reels, hingga Youtube Shorts didesain untuk membuat kita terus menggulir tampilan layar tanpa henti. Mekanismenya sederhana, video dengan durasi pendek melatih otak kita untuk terus mengharapkan kebaruan dengan waktu yang cepat, seperti efek suara, topik baru, dan pukulan dopamin. Hal ini bertolak belakang dengan apa yang terjadi ketika kita membaca artikel yang cukup panjang, di mana otak kita akan terus menunggu rangsangan berikutnya yang tidak akan pernah datang sehingga berakhir dengan perasaan gelisah dan memaksa kita untuk mengecek ponsel. 

Alangkah baiknya kita perlu melihat kembali ke sudut kamar, apakah terdapat buku-buku yang telah lama tak terjamah di rak? yang dibeli dengan niat untuk bersenang-senang tetapi belum dibuka hingga saat ini? Mungkin mereka menunggu undangan kita. 

Artikel ini tidak ditujukan untuk membuat kita meninggalkan dunia digital, melainkan sebagai pengingat. Profesor Fancourt berkata, “Reading has always been one of the more accessible ways to support well-being di mana membaca menjadi salah satu cara terbaik dan mudah sebagai sarana untuk mendukung kesejahteraan.  

Bukalah bukumu, buka halaman-halaman pertamanya, setidaknya hingga lembar kesepuluh. Dan kita, akan jatuh cinta lagi.

Hari Buku Nasional tidak harus dirayakan dengan meriah, tetapi bisa dengan cara-cara sederhana dan tetap berkesan, seperti membaca buku dengan orang terdekat, mengadakan diskusi buku, atau saling memberikan rekomendasi buku terbaik yang pernah dibaca. 

 

Penulis: Marsakila Rimu Nariya

Editor: Salsa Puspita, Andaru Surya

Referensi

Astuti, A. P., Istianingsih, S., & Widodo, A. (2022). Pentingnya membangun budaya literasi (budaya membaca) pada anak SD di era digital. Jurnal Pembelajaran, Bimbingan, Dan Pengelolaan Pendidikan, 2(12), 1184-1189. 

Kompas.com. (2024, May 13). Sejarah Hari Buku Nasional. https://nasional.kompas.com/read/2024/05/13/00170071/sejarah-hari-buku-nasional 

Kompas.com. (n.d.). 10 manfaat membaca buku yang wajib kamu tahu, apa saja? https://www.kompas.com

UCLA School of Education & Information Studies. (n.d.). Maryanne Wolf: Membaca mendalam alat untuk mencapai empati, keterampilan berpikir kritis. https://seis.ucla.edu

Ulum, M., & Nafisa, A. (2024). Literasi Buku Bacaan Guna Meningkatkan Kompetensi Peserta Didik Sekolah Dasar Negeri 6 Indralaya Sumatera Selatan. Tepis Wiring: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 3(1), 20-28. 

Detik.com. (2025). Hari Buku Nasional 2025, mengapa diperingati tanggal 17 Mei? Ini University College London. (2024). Proportion of Americans reading for pleasure dropped 40% over 20 years. https://www.ucl.ac.uk/news/2024 

Scroll to Top