Virtual Blind Date: Upaya Jemput Jodoh yang Katanya ‘Gak Akan ke Mana’

Ilustrasi blind date. (Sumber: Canva)

Gaya Hidup – Pandemi Covid-19 yang hingga kini masih belum usai membuat intensitas pertemuan antar individu menjadi sangat terbatas. Segala bentuk kegiatan yang menimbulkan kerumunan dibatasi. Oleh sebab itu, banyak kegiatan yang dialihkan ke platform meeting online. Bukan hanya webinar, studi banding, dan kegiatan lomba, kini Blind Date pun dilaksanakan secara virtual.

Bagi sebagian orang, khususnya bagi yang statusnya sedang melajang, kabar tersebut mungkin menjadi kabar baik. Kini, upaya mencari jodoh yang katanya ‘gak akan ke mana’, bisa menjadi lebih praktis melalui acara Virtual Blind Date. Lantas, apakah itu berarti pendaftar Virtual Blind Date dibatasi hanya untuk orang-orang yang mau mencari jodoh saja?

Beberapa waktu lalu, Awak Manunggal berusaha mencari jawaban dari pertanyaan tersebut dan jawaban yang didapat adalah sebagai berikut:

“Mungkin kalau orang pertama kali melihat ini (Blind Date) tuh kaya biro jodoh atau cari jodoh, tapi sebenernya enggak. Acara ini untuk seneng-senengan aja,” ujar Lintang, salah satu staf penyelenggara Virtual Blind Date.

Bagi sebagian mahasiswa, Virtual Blind Date menjadi salah satu alternatif untuk dapat menghilangkan rasa jenuh karena adanya kemungkinan untuk dapat bertemu dengan orang baru. Virtual Blind Date sendiri merupakan suatu acara pertemuan antara mahasiswa dengan mahasiswa lain yang belum pernah ditemui sebelumnya dan berasal dari suatu Universitas berbeda yang dilakukan secara online melalui platform Zoom Cloud Meetings. Tujuan penyelenggaran Virtual Blind Date kampus tidak lain hanya sebagai ajang untuk bersenang-senang dan mengisi waktu luang. Selain itu, Virtual Blind Date kampus ini juga bertujuan untuk membantu para mahasiswa untuk mendapat kenalan baru dengan latar belakang akademik yang serupa tanpa perlu dijembatani oleh tugas-tugas kepanitiaan atau organisasi.

Mahasiswa aktif baik dari jenjang D3, D4, S1, maupun S2 dari universitas yang telah ditentukan dapat mendaftarkan diri untuk mengikuti Virtual Blind Date kampus ini. Adapun kuota untuk peserta dalam satu batch ialah 120 orang yang terdiri dari 60 laki-laki dan 60 perempuan. Sistem kuota ini diadakan untuk menjaga kelancaran acara serta meminimalisasi risiko yang berpotensi muncul.

Alur Menjemput Pasangan Date

Alur dari pelaksanaan Virtual Blind Date kampus ini ialah, peserta melakukan registrasi dan pembayaran. Kemudian, peserta akan mendapatkan pesan yang berisi konfirmasi pembayaran, guidebook, serta informasi-informasi lain yang dibutuhkan melalui WhatsApp. Selanjutnya, peserta mengikuti acara inti, yaitu Virtual Blind Date yang terdiri dari sesi pembukaan, sesi blind date, dan sesi penutupan.

Pada sesi pembukaan dilaksanakan di room utama dan peserta menggunakan nama samaran yang telah ditentukan oleh panitia serta diwajibkan untuk mematikan kamera. Kemudian, diadakan breakout room untuk sesi blind date yang hanya akan berisi dua peserta, yaitu laki-laki dan perempuan. Pada sesi Blind Date, kedua peserta dipersilahkan untuk berkenalan dan mengobrol selama 20 menit. Sesi blind date terdiri dari tiga sesi sehingga satu peserta akan bertemu dengan tiga orang di tiga breakout room yang berbeda. Kemudian, setelah sesi blind date selesai, peserta diarahkan untuk kembali ke main room.

Sebagian besar peserta memberikan feedback yang sangat positif. Tak sedikit pula dari mereka kembali melakukan pendaftaran pada batch-batch lainnya. Hal ini diungkapkan oleh Lintang. “Sejauh ini feedback-nya sangat baik. Kalaupun ada yang negatif, itu cukup membangun,” jelas Lintang.

Farras, salah satu peserta asal Universitas Padjadjaran (Unpad), mengaku cukup puas setelah mengikuti Virtual Blind Date. “Soalnya udah lumayan memuaskan, sih,” ucapnya. Ia pun menyatakan ingin kembali mengikuti Virtual Blind Date di batch berikutnya.

Faras menyatakan bahwa ia tertarik ikut Virtual Blind Date setelah melihat pamflet yang diunggah oleh instagram yang khusus berisikan informasi untuk mahasiswa Unpad. Ia berterus terang mengatakan pada awak Manunggal, bahwa harapannya setelah mengikuti Virtual Blind Date kampus, ia bisa segera mendapatkan pacar.

“Ya kira-kira ada satu lah yang dapet pacar gitu. Ada satu yang kecantol gitu,” jelasnya.

Hal yang kemudian menjadi pertanyaan besar bagi sebagian mahasiswa ialah keberlanjutan dari Virtual Blind Date, sebab Virtual Blind Date sendiri baru dilaksanakan ketika pandemi dan para mahasiswa sedang kuliah di rumah. Namun, Lintang menjelaskan bahwa ada kemungkinan Virtual Blind Date akan berlanjut meskipun tetap secara online atau virtual.

“Kalau offline, cakupan orangnya jadi lebih sedikit dan modalnya juga harus keluar lebih besar, karena harus sewa tempat, dsb. Jadi, kalaupun akan lanjut tetep virtual sih dan terlalu banyak benefit kalo virtual dibandingkan offline,” jelasnya.

 

Reporter: Diana Putri, Siti Latifatu S

Penulis: Rafika Immanuela, Siti Latifatu S

Editor: Aslamatur Rizqiyah, Fidya Azahro

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top