Warta Utama – Suasana penuh khidmat dan religius menyelimuti Stadion Universitas Diponegoro (Undip) Tembalang pada Senin malam, (14/10). Acara “Undip Bersholawat” yang digelar sebagai rangkaian Dies Natalis ke-67 berhasil menyatukan ribuan jemaah dari berbagai kalangan, baik dari civitas academica Undip maupun masyarakat umum.
Acara ini bertujuan memperkuat dimensi religiusitas kampus, dengan tajuk “Penguatan Religiusitas Civitas Academica dengan Bersholawat menuju Undip Bermartabat dan Bermanfaat.” Acara ini berlangsung mulai pukul 19.00 hingga 22.00 WIB, dipimpin langsung oleh ulama kharismatik, Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf, mengajak ribuan peserta untuk melantunkan selawat.
Pemandangan Stadion Undip malam itu dipenuhi oleh jemaah, mulai dari mahasiswa hingga masyarakat sekitar yang ikut merasakan suasana spiritual yang mendalam. Suara lantunan selawat yang menggema di seluruh stadion menciptakan aura ketenangan, memancarkan nilai-nilai spiritual yang kental di tengah kesibukan akademis civitas Undip.
Rektor Undip, Prof. Suharnomo, S.E., M.Si., dalam sambutannya menegaskan pentingnya peran religiusitas dalam kehidupan kampus, khususnya dalam mengelola institusi besar seperti Undip. Ia menjelaskan bahwa Undip saat ini memiliki 63 ribu mahasiswa, menjadikannya salah satu universitas dengan jumlah mahasiswa terbanyak di Indonesia.
“Habib dan Bapak-Ibu semua yang saya hormati, tentu tidak gampang mengelola 4 ribu dosen dan karyawan serta 63 ribu mahasiswa. Oleh karena itu, kami memohon keberkahan doa dari Habib dan Bapak-Ibu yang hadir pada malam ini,” ungkap Prof. Nomo.
Lebih lanjut, Prof. Nomo menyampaikan harapannya agar seluruh civitas academica Undip, terutama mahasiswa, diberikan kesehatan, kekuatan, dan terhindar dari segala fitnah. Selain itu, ia menekankan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan akademik dan akhlak yang baik bagi para mahasiswa.
“Mudah-mudahan anak-anak kami pintar, secara akademik dan saleh dalam akhlaknya, serta memiliki lulusan-lulusan yang nanti sekali lagi mudah mencari pekerjaan, dapat jodoh, dan berusaha sendiri dengan sebaik-baiknya,” pungkas Prof. Nomo.
Mahasiswa yang hadir turut memberikan tanggapan positif terhadap acara ini, salah satunya Muhammad Rifky Afriansyah, mahasiswa Program Studi (Prodi) Sastra Indonesia 2023. Menurut Rifky, acara Undip Bersholawat membawa suasana yang jarang ditemui di lingkungan kampus.
“Biasanya kita ‘kan hanya sibuk dengan urusan akademik di kampus, tapi lewat acara ini, kita seakan diingatkan bahwa spiritualitas juga sangat penting. Saya pribadi merasa lebih tenang setelah ikut berselawat bersama Habib Syekh dan ribuan orang,” ungkap Rifky.
Senada dengan Rifky, M. Danial Irfani, mahasiswa Prodi Teknik Komputer 2023 pun menambahkan kesannya selama mengikuti acara tersebut. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara intelektual dan spiritual.
“Jujur terkesan banget sih sama acara ini. Apalagi di tengah hiruk-pikuk tugas dan aktivitas kampus, acara seperti Undip Bersholawat memberikan kita momen untuk berhenti sejenak untuk ketenangan batin,” terang Danial.
Ia juga membubuhkan harapannya, bahwa acara serupa bisa diadakan rutin di Undip untuk menjadi refleksi mahasiswa terkait kepentingan antara dunia dan akhirat.
“Harapan saya, acara seperti ini bisa rutin diadakan, tidak hanya pada saat Dies Natalis, tetapi juga di momen-momen lain, karena ini bisa menjadi kesempatan bagi kita, mahasiswa, untuk menyeimbangkan antara dunia akademik dan nilai-nilai keagamaan,” imbuh Danial.
Acara yang berlangsung dengan khidmat ini ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Habib Syekh, memohon keselamatan, kesehatan, dan kemudahan bagi seluruh peserta, khususnya bagi Undip dalam menjalankan amanah sebagai institusi pendidikan yang bermartabat dan bermanfaat.
Dengan suksesnya acara ini, Dies Natalis ke-67 Undip semakin mengukuhkan komitmen universitas dalam mengintegrasikan aspek intelektual dan spiritual, sehingga menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul di dunia akademis, tetapi juga memiliki nilai-nilai moral yang kuat dalam kehidupannya.
Reporter: M. Irham Maolana
Penulis: M. Irham Maolana
Editor: Hesti Dwi Arini, Ayu Nisa’Usholihah