Torehkan Prestasi, Nur Sitha Afrillia Dinobatkan Menjadi Duta Bahasa Jawa Tengah

Potret Nur Sitha Afrilia, Mahasiswa Magister Susastra Undip yang menjadi Duta Bahasa Jawa Tengah 2019. (Sumber: unggahan akun Instagram @dutabahasa_jateng)

Gaya Hidup – Mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) kembali menyabet prestasi. Kali ini, Nur Sitha Afrilia, mahasiswa Magister Ilmu Susastra FIB Undip yang telah dinobatkan menjadi Duta Bahasa Jawa Tengah pada tahun 2019 lalu, kini ditetapkan sebagai pemenang ke-3 kategori Putri. Perempuan yang kerap disapa Sitha ini telah turut berpartisipasi dan menjadi finalis pemilihan Duta Bahasa Jawa Tengah sejak tahun 2018. Namun, pada tahun 2018 Sitha berakhir di babak grand final, hingga pada akhirnya Sitha menguatkan tekad untuk kembali mengikuti seleksi pada tahun 2019.

Kisah ini berawal dari keresahan yang ia rasakan ketika orang-orang yang terpilih menjadi duta bahasa sebagian besar merupakan orang-orang dari luar rumpun bahasa. Sebagai mahasiswa sastra, Sitha memiliki ambisi bahwa mahasiswa sastra seharusnya lebih peka terhadap isu-isu mengenai bahasa, terutama Bahasa Indonesia dan juga bahasa daerah. Hal tersebut menjadi pondasi bagi Sitha dalam menguatkan tekadnya untuk mendaftarkan diri sampai akhirnya dinobatkan menjadi Duta Bahasa Jawa Tengah. Perempuan asal Pati ini menuturkan bahwa ia juga merasa ingin terjun dan berkecimpung langsung untuk memberikan edukasi kepada masyarakat dan ingin tervalidasi sebagai pihak yang nantinya bermanfaat di bidang bahasa dan sastra.

Berdasarkan keterangannya, kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh duta bahasa adalah berkolaborasi dengan Balai Bahasa untuk mengedukasi masyarakat tentang bahasa; membantu dalam penelitian, yakni turut serta mengumpulkan kosa-kata bahasa daerah; juga peka terhadap isu-isu mengenai bahasa; dan masih banyak lainnya. Ketika adanya pandemi, kegiatan-kegiatan tersebut tentunya tetap dilakukan meskipun secara daring, yaitu dengan mengoptimalkan media sosial seperti YouTube dan zoom. Meski demikian, masih terdapat beberapa kegiatan yang dilakukan secara luring dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Uniknya, pada awalnya Sitha merasa salah jursan karena ia bukan merupakan seseorang yang menyukai hal-hal yang berkaitan dengan bahasa. Namun, ia mengakui bahwa banyak hal yang telah ia dapatkan dengan menjadi duta bahasa. Bukan hanya berkesempatan untuk bertemu Mendikbud dan tokoh-tokoh nasional, ia juga sempat ditugaskan oleh Balai Bahasa untuk menjadi moderator dari kegiatan yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan dan Satgas Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dari Kementrian. Kegiatan yang Sitha lalui itu merupakan salah satu yang paling berkesan baginya. Meski demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa ia pun tak jarang mengalami pengalaman pribadi yang buruk, seperti adanya orang-orang yang meragukan dirinya dengan bertanya apakah ia benar-benar layak menjadi duta bahasa. Hal tersebut memang terdengar menyakitkan, namun tentunya tidak membuat Sitha jatuh begitu saja.

“Menjadi  seorang  Duta bukanlah perkara selempang, bukan pula tentang  menjadi seseorang yang akan dikenal banyak orang. Namun menjadi seorang Duta adalah sebuah tanggung jawab. Karena dengan menjadi seorang Duta, bukan perihal akan selalu menjadi sorotan, namun Duta merupakan ujung tombak yang mewakili suatu lembaga untuk  menunjukkan bahwa ia layak menjadi seseorang yang kompeten, berkapasitas dan berkapabilitas,” terang Sitha di akhir percakapan, Minggu (4/5).

 

Reporter: Rafika Immanuel
Penulis: Rafika Immanuel
Editor: Aslamatur Rizqiyah, Dyah Satiti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *