Tindak Tutur Menguak Citra Empati: Membaca Prabowo di Ruang Diskusi

Prabowo dalam acara “Presiden Prabowo Menjawab”  bagian 1 pada Selasa (17/3) di Hambalang. (Sumber: Most 1058)

Opini –  Belum habis satu, sudah tumbuh seribu. Itulah kiranya gambaran permasalahan yang terus bermunculan di Indonesia. Sayangnya, siklus tersebut akan dirasakan oleh masyarakat Indonesia tanpa batasan waktu yang jelas. Dalam kondisi ini, masyarakat terus menyuarakan berbagai problematika yang dihadapi. Namun, di negeri yang katanya menjunjung demokrasi ini, yang bersuara justru dibungkam. Berbagai kebijakan dinilai hanya berpihak pada sesuatu yang menghasilkan keuntungan lebih besar, layaknya dalam isu ketahanan pangan yang menjadi tameng di balik rusaknya alam. Lalu, bagaimana Prabowo Subianto sebagai Presiden Republik Indonesia (RI) periode 2024-2029  menjawab semua ini?

Melalui unggahan di kanal YouTube Najwa Shihab pada Selasa (17/3) dengan tajuk “Presiden Prabowo Menjawab” bagian 1, dapat terlihat cara Prabowo dalam menjawab dan menanggapi berbagai pertanyaan. Topik diskusi yang dibahas dalam video tersebut meliputi serangan aktivis, Board of Peace (BOP), Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga dinamika geopolitik seperti konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

 

Empati dan Kemanusiaan sebagai Citra Prabowo 

Dalam beberapa jawabannya, respons Prabowo terhadap pertanyaan-pertanyaan yang ada cenderung memperlihatkan sisi empati dan kedekatan dengan masyarakat. Melalui hal ini, dapat dikatakan bahwa citra yang ingin dibangun Prabowo di hadapan publik adalah sosok yang senantiasa menginginkan kesejahteraan bagi rakyatnya. Salah satunya terlihat ketika ia menyampaikan pernyataan bahwa guna membangun human civilization, dibutuhkan dasar berupa keamanan dari ancaman cuaca, ancaman binatang buas, dan ancaman manusia lain.

Gelondongan kayu yang turut hanyut pada peristiwa banjir Sumatra terjebak di pemukiman warga pada Selasa (2/12/2025). (Sumber: BBC News Indonesia

Prabowo berbicara terkait keamanan, di saat sumber tercapainya hal dasar tersebut luput dari perhatian. Tercatat bahwa laju deforestasi mencapai angka 10,9 juta hektar per tahun. Masyarakat kehilangan hak untuk menghirup udara sehat, tumbuhan kehilangan hak untuk hidup, dan hewan kehilangan hak untuk tinggal. Mau tidak mau, bencana seperti banjir di wilayah Sumatra yang hingga kini belum pulih sepenuhnya, serta munculnya harimau sumatra di perbatasan hutan akibat kerusakan habitat aslinya turut menjadi ancaman bagi keamanan. 

Selain itu, terdapat pula kasus anak-anak Nias yang memberikan laporan bahwa akses menuju sekolah mereka mengalami keterbatasan. Melalui hal itu, Prabowo langsung mendirikan beberapa jembatan di Nias. Tidak hanya itu, Prabowo juga sempat menjelaskan filosofi hidupnya tentang membantu sesama sesuai kemampuan. Melalui tindakan Prabowo dalam menangani kasus Nias, dapat diketahui bahwa Prabowo berusaha memperlihatkan tujuan hidup yang searah dengan filosofinya.

“Kalau Anda bisa bantu banyak orang, bantu banyak orang. Kalau tidak bisa bantu banyak orang, bantu beberapa orang. Kalau tidak bisa bantu beberapa orang, bantu satu orang. Kalau satu orang pun Anda tidak bisa bantu, jangan bikin susah orang,” ungkapnya. 

Kisah emosional dan filosofi kehidupan tersebut tentunya sangat berpotensi untuk menyinggung emosional pendengar. Namun, perlu diketahui pemecahan masalah kasus di Nias yang ditunjukkan Prabowo dapat dilihat sebagai bentuk tindakan setelah adanya kesulitan. Permasalahan yang timbul di Nias tidak sesederhana itu, terdapat akar permasalahan berupa ketimpangan infrastruktur dan pendidikan. Tidak hanya di Nias, seluruh masyarakat di pelosok nusantara kerap bersuara terkait permasalahan infrastruktur. Akan tetapi, hal ini tak kunjung mendapatkan penanganan strategis dengan pola pikir jangka panjang. 

Kemudian, apa yang terlintas ketika mendengar pernyataan Prabowo sebagaimana berikut, “Percayalah saya dipilih oleh rakyat untuk membela rakyat.” Hal tersebut disampaikan Prabowo ketika menjawab pertanyaan terkait ruang aman bersuara yang diajukan oleh Najwa Shihab. Pernyataan ini pula yang menjadi sorotan publik di berbagai platform media sosial. 

Terlepas dari dipilih atau tidaknya seseorang, pada dasarnya manusia sebagai makhluk sosial memiliki kewajiban untuk membantu sesamanya. Kata “membela rakyat” perlu dipertanyakan kebenarannya. Apabila peran presiden dalam membela rakyat benar-benar ada, maka tidak ada lagi rakyat yang menangis akibat tanahnya yang diambil paksa guna proyek ketahanan pangan layaknya masyarakat di Merauke. Jika benar-benar ada, maka kasus intervensi, peristiwa 1998, dan lainnya dapat diketahui dengan jelas siapa dalang di baliknya. Maka, bukankah menjadi tanda tanya, pembelaan yang digaungkan tersebut berlaku bagi rakyat yang mana?

 

Ada Tindak Tutur yang Harus Dipertanyakan Dibalik Citra Prabowo

Citra empati yang coba ditunjukkan Prabowo selama menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada dapat didobrak melalui kenyataan yang terlihat dalam video. Cara Prabowo berkomunikasi dengan para pakar dan jurnalis sedikit banyak menggambarkan kepribadiannya. 

Pada beberapa kesempatan, Prabowo tampak memotong pertanyaan dengan tergesa dan langsung menjawab pertanyaan yang belum sempat terselesaikan. Pemotongan pembicaraan pertama kali dilakukan pada menit ke 36:53 saat Pimpinan Redaksi SCTV dan Indosiar, Retno Pinasti, bertanya terkait tanggapan Prabowo terhadap kritikan pers dan pengamat. Pemotongan pembicaraan kembali terjadi pada topik serangan air keras pada aktivis yang diajukan oleh jurnalis Narasi, Najwa Shihab. Pada pembahasan ini, pemotongan terjadi lebih dari satu kali. 

Secara umum diketahui bahwa salah satu bentuk sopan santun dalam komunikasi dua arah adalah mendengarkan terlebih dahulu lawan bicara hingga selesai. Selain itu, pendidikan moral ini sudah selayaknya didapatkan semasa pendidikan dasar. Bahkan, apabila pemotongan pembicaraan dikatakan sebagai bentuk debat, hal tersebut juga tidak dapat dibenarkan. Seperti yang diketahui debat sendiri terdapat berbagai etika dan aturan yang harus dipenuhi, dan salah satu larangan dalam berdebat adalah memotong pembicaraan lawan bicara.

Selain itu, pada topik serangan air keras pada aktivis dan ruang aman bersuara, dapat terlihat dengan jelas bahwa Prabowo kerap terpancing emosinya. Hal itu ditandai pada menit ke 1:26:33, ketika pertanyaan Prabowo telah dijawab oleh Najwa Shihab. Namun, ia secara emosional membantah dengan kalimat, “Aduh, come on. You nggak objektif, nggak ada yang ribut gedung DPR mau dibakar.”

Pantaskah seorang negarawan terbawa emosi ketika menjawab sebuah pertanyaan terkait ruang aman bersuara dan menuding seorang jurnalis tidak objektif tanpa adanya data? 

Melalui ruang diskusi tersebut, dapat diketahui gambaran dan solusi yang dinyatakan Prabowo atas berbagai permasalahan di Indonesia. Selain itu, masyarakat tentunya dapat menilai karakteristik Prabowo melalui tindak tuturnya. Walaupun citra yang dibangun cenderung menunjukkan keberpihakan pada rakyat, akan tetapi komunikasi yang tidak efektif dan bukti nyata akan kebijakan dan perkataan Prabowo tidak menyeluruh. Hal ini layak dipertanyakan. Sebab keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya terukur melalui persentase capaian program kerja, melainkan seberapa besar masyarakat yang merasa terlayani olehnya. 

Menjadi pemimpin negara dengan populasi masyarakat terbesar ke-4 di dunia bukanlah pekerjaan main-main. Banyak kewajiban sebagai pemerintah yang harus dijalankan, juga banyak hak masyarakat yang harus ditunaikan. Pemerintah perlu terus melakukan pembenahan dan refleksi. Jika tidak tahu berbenah dari mana, maka masih banyak suara rakyat yang belum terdengar. Suara-suara tersebut tidak meminta lebih kecuali hak sebagai warga negara yang tak kunjung didapatkan. Maka, inilah waktunya suara tersebut didengarkan, bukannya diteror ataupun dibungkam.

 

Penulis: Tialova Rafita Azzahra

Editor: Salsa Puspita, Andaru Surya

Referensi:

Najwa Shihab. (2026). Presiden Prabowo Menjawab (PART 1): Serangan Aktivis, BOP, MBG, dan Dampak Perang. Diakses pada Senin (23/03) dari

https://youtu.be/9ibLmF4EQ6E?si=HA7cIVFkQlr7PBlH 

 

BBC News Indonesia. (2026). Lebih dari 165.000 korban banjir Sumatra masih bertahan di pengungsian, hunian sementara belum memadai. Diakses pada Sabtu (28/03) dari

https://www.bbc.com/indonesia/articles/c93105q2l97o 

 

Mongabay. (2025). Laporan Ungkap Tiap Tahun Hutan Hilang Nyaris 11 Juta Hektar. Diakses pada Sabtu (28/03) dari 

https://mongabay.co.id/2025/10/29/laporan-fra-hutan-hilang-nyaris-11-juta-hektar-per-tahun/ 

 

Espos.id. (2026). Cerita Satwa Masuk Permukiman Menunjukkan Berkurangnya Ruang Hidup. Diakses pada Sabtu (28/03) dari 

https://eco.espos.id/cerita-satwa-masuk-permukiman-menunjukkan-berkurangnya-ruang-hidup-2182593 

 

Hello sehat. (2023). Bisakah Melihat Kepribadian Orang Lain dari Cara Bicaranya?. Diakses pada Sabtu (28/03) dari 

https://hellosehat.com/mental/mental-lainnya/kepribadian-cara-bicara/ 

Scroll to Top