Alat pendukung serta hasil paving block ramah lingkungan dari plastik. (Sumber: Dok. Pribadi)
Citizen Journalism – Sampah plastik menjadi masalah yang krusial akhir-akhir ini. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Indonesia menyebutkan pada 2020 total produksi sampah nasional mencapai 67,8 juta ton. Berdasar pada masalah tersebut, mahasiswa Universitas Diponegoro yang terbentuk dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) mengembangkan ide pemanfaatan sampah plastik menjadi paving block ramah lingkungan.
Paving block merupakan produk yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan jalan. Kegiatan yang berdasar pada pengabdian masyarakat ini mendapat dukungan penuh oleh mitra yaitu masyarakat Desa Sendang Sikucing, Kabupaten Kendal. Kegiatan ini berawal dari keresahan masyarakat terhadap permasalahan kondisi pesisir yang dicemari oleh sampah.
Kegiatan diawali dengan susur pantai atau bersih-bersih pantai yang kemudian dilanjutkan dengan pemilahan sampah plastik dengan non plastik. Sampah plastik yang dapat dimanfaatkan menjadi paving block adalah sampah dengan jenis LDPE ( Low Density Polyethylene) karena memiliki daya lumat tinggi. Kegiatan dilanjutkan dengan pembakaran sampah plastik jenis LDPE menggunakan alat khusus yang sudah dirakit tanpa menimbulkan asap. Setelah proses pembakaran, sampah plastik akan berubah wujud menjadi cair dan kemudian dipindahkan kedalam cetakan paving block.
Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan di tengah pandemi Covid-19 menuntut pihak mitra dan mahasiswa dalam pelaksanaan program memperhatikan protokol kesehatan dan peraturan yang berlaku. Contohnya seperti pembagian tim daring dan tim luring, serta pembatasan personil dalam kegiatan luring.
Adanya kegiatan ini diharapkan menghasilkan luaran seperti kondisi pesisir sekitar mitra menjadi kembali bersih dan masyarakat setempat dapat melanjutkan kegiatan pemanfaatan agar permasalahan serupa tidak berulang. Produk paving block dapat dimanfaatkan menjadi bahan baku pembuatan perbaikan jalan atau nantinya dikomersilkan.
Penulis: Zilda Nailah Fajriyanti, mahasiswa Akuakultur 2020
Editor: Aslamatur Rizqiyah, Fidya Azahro




