Temu Puan: Ruang Refleksi dan Diskusi untuk Memupuk Semangat Kartini

Foto bersama peserta setelah rangkaian kegiatan Temu Puan dengan membawa hasil karya workshop pada Sabtu (19/4) di Pendopo Student Center Undip. (Sumber: Manunggal).

Warta Utama – Bidang Pemberdayaan Perempuan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Diponegoro (PP BEM Undip) menggelar kegiatan Temu Puan dengan tajuk “Dari Refleksi Menuju Aksi: Menguatkan Perempuan dalam Solidaritas dan Karya” untuk memperingati Hari Kartini, pada Minggu (19/4), mulai pukul 12.30 hingga 17.30 Waktu Indonesia Barat (WIB) di Pendopo Student Center (SC) Undip. Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus diskusi mengenai isu perempuan di lingkungan sekitar, dan dihadiri oleh 50 peserta dari berbagai fakultas di Undip dengan konsep workshop dan talkshow. Melalui konsep tersebut, peserta dapat mengekspresikan dirinya lewat workshop dengan kegiatan seperti scrapbook, nail art, dan merangkai bunga serta talkshow yang mengangkat isu sosial perempuan. 

Pada dasarnya, kegiatan Temu Puan dilaksanakan untuk memperingati Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April 2026. Namun, karena tanggal 21 April bertepatan pada hari Selasa yang merupakan hari efektif kerja, pelaksanaan kegiatan tersebut dimajukan menjadi 19 April agar kegiatan dapat berjalan lebih optimal. 

“Cuma karena tanggal 21 hari efektif jadi kalau open register dan kita memberitahu ke mereka (peserta) acaranya di tanggal 21, kayaknya nggak banyak yang ikut juga. Makanya di sini kita melaksanakannya di tanggal sebelumnya yaitu tanggal 19,” jelas Nafisa Auliana selaku Ketua Pelaksana Kegiatan Temu Puan 2026, saat diwawancarai oleh Awak Manunggal pada Minggu (19/4).

Workshop Temu Puan

Sesi workshop nail art dalam rangkaian Temu Puan oleh peserta pada Minggu (19/4) di Pendopo Student Center Undip. (Sumber: Manunggal)

Kegiatan Temu Puan diawali dengan workshop yang dibagi dalam 3 konsep utama, yakni scrapbook, nail art, dan merangkai bunga. Ketiganya memiliki makna tersendiri dalam upaya menghadirkan keseimbangan antara ekspresi diri dengan kesadaran sosial. 

Pertama, sesi workshop scrapbook. Sesi tersebut dihadirkan agar peserta dapat lebih mengenali dan memahami dirinya sendiri, sekaligus meningkatkan kreativitas untuk menciptakan karya seni lainnya. 

“Kita ingin perempuan-perempuan ataupun orang-orang yang ada di Undip ini menyadari tentang dirinya sendiri, mampu mengenali dirinya sendiri. Lewat scrapbook-nya untuk mengenalkan dirinya itu siapa, dia mewakili atas warna dan juga kata-kata apa,” ujar Annisa Paramitha yang kerap dipanggil Tata, selaku Kepala Bidang (Kabid) PP BEM Undip 2026, saat diwawancarai oleh Awak Manunggal, pada Minggu (19/4).

Kedua, sesi workshop nail art. Tata mengungkapkan bahwa sesi nail art adalah bagian inti dari pemberdayaan. Setelah peserta telah mampu memahami dirinya sendiri, mereka diajak untuk berkembang dan berdampak pada lingkungan sekitarnya melalui hal-hal yang disukai.

“Karenanya tadi di sesi nail art itu bersama-sama konsepnya, jadi bisa saling bantu satu sama lain, bisa saling mengetahui apa yang dilakukan teman-teman kita, apa yang bisa kita bantu,” ungkap Tata.

Ketiga, sesi workshop merangkai bunga. Pada sesi tersebut peserta diajak kembali untuk mengenali diri sendiri melalui bunga-bunga yang dapat mencerminkan karakteristik masing-masing individu. Selain itu, dalam sesi terakhir ini, peserta juga diajak berdiskusi dengan beberapa aktivis guna membahas isu sosial perempuan.

“Bunga sebagai representasi diri kita, siapapun itu, aku rasa perempuan ataupun laki-laki sangat suka terhadap bunga. Dan bunga-bunga yang kita hadirkan dari berbagai macam warna juga. Sembari berdiskusi, kita merepresentasikan diri kita melalui bunga-bunga tadi,” ujar Tata.

Melalui konsep tersebut, kegiatan Temu Puan diharapkan mampu melahirkan suasana kebersamaan yang hangat, di  mana peserta dapat saling berbagi pengalaman melalui diskusi ringan.  

“Kita sendiri sama temen-temen kalo ngecat kuku itu kan kayak lagi bonding, dari situlah keluar aspirasi kita sebagai perempuan jadi kita bisa saling sharing,” ungkap Sasa, salah satu mahasiswa Program Studi (Prodi) Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), yang merupakan peserta kegiatan Temu Puan, saat diwawancarai oleh Awak Manunggal pada Minggu (19/4).

 

Urgensi Pekerja Rumah Tangga (PRT)

Salah satu agenda utama dalam kegiatan Temu Puan adalah sesi talkshow bersama narasumber dan Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus (OMEK), seperti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mengenai Pekerja Rumah Tangga (PRT). Topik tersebut diangkat sebagai simbolik perjuangan perempuan yang saat ini masih belum selesai sepenuhnya. Lahirnya berbagai persoalan mulai dari minimnya perlindungan hukum, pemberian upah yang tidak pasti, hingga kerentanan terhadap kekerasan dan perlakuan yang tidak adil. 

Koordinator Serikat Pekerja Rumah Tangga (SPRT) Merdeka Semarang, Nur Khasanah, mengungkapkan bahwa PRT memiliki peran strategis dalam membantu rumah tangga. Ia juga menyoroti bahwa selama 22 tahun, perjuangan untuk mendapatkan pengakuan hak melalui Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PPRT) belum menemui titik terang (hingga saat artikel ini ditulis). 

Selama 22 tahun kita memperjuangkan RUU PPRT, dirasa itu belum penting. Ini sangat penting sekali. Selama ini PRT kan masih dianggap pembantu dan tidak dilindungi hanya mereka masih mengalami kekerasan, diskriminasi, dan lain-lain,” ujar Nur Khasanah saat diwawancarai oleh Awak Manunggal pada Minggu (19/4). 

Sebelumnya, pada tahun 2025, Presiden Republik Indonesia (RI) periode 2024-2029, Prabowo Subianto, sempat menyatakan bahwa RUU PPRT akan disahkan dalam waktu tiga bulan, terhitung sejak 1 Mei 2025. Kini, setelah RUU PPRT akhirnya resmi disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI pada Selasa (21/4), pernyataan tersebut menjadi bagian dari rangkaian proses panjang menuju pengesahan UU PPRT.

Terlebih lagi, di era digital saat ini individu yang bekerja sebagai PRT sering kali disebut sebagai seorang pembantu dibandingkan dengan seorang pekerja, sehingga berpotensi melahirkan stigma di lingkungan sosial masyarakat tanpa adanya perlindungan hukum yang jelas. 

“Rancangan undang-undangnya adalah sebetulnya pekerja, sehingga hak mereka itu otomatis terlindungi. Tetapi kalau pembantu itu kan tidak terlindungi,” ungkap Nur. 

Melalui pembahasan tersebut, Nur berniat untuk berbagi pemahaman tentang PRT bahwa peran mereka sangat penting, walaupun bagi sebagian orang mereka hanya pekerja di balik tembok-tembok rumah tempat mereka bekerja. 

Oleh karena itu, isu PRT menjadi penting untuk dipahami karena keberadaannya bukanlah isu yang baru. Sejak masa kerajaan hingga masa kini, struktur sosial selalu hadir di tengah kehidupan masyarakat. Bagi sebagian orang, PRT sering kali menjadi pekerja yang keberadaannya terlewat dari perhatian. Namun, ketiadaan landasan hukum yang jelas serta minimnya pemahaman masyarakat dapat memicu ketimpangan sosial, khususnya bagi kelompok perempuan.  

 

Ajakan Untuk Memperjuangkan Hak dengan Upaya Bersama dalam Solidaritas Perempuan

Anisa Eka Safitri, selaku perwakilan dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), turut menyuarakan aspirasinya dalam kegiatan Temu Puan. Anisa menyampaikan bahwa perempuan harus saling membantu dalam memperjuangkan kepentingan bersama untuk melahirkan kehidupan yang lebih sejahtera.

“Itu kenapa perjuangan untuk orang banyak tuh lebih akan berhasil karena kita nggak berjuang sendirian, tapi berjuang sama orang lain juga,“ ucap Anisa, saat diwawancarai oleh Awak Manunggal pada Minggu (19/4).

Tujuan Anisa menyampaikan hal tersebut karena masih menjamurnya sikap apatis antar individu. Sebagian masyarakat masih belum sadar bahwa apa yang dicapai saat ini bukan semata-mata hanya dari usaha sendiri, tetapi banyak pihak yang terlibat di dalamnya. Oleh karena itu, individu tidak bisa berusaha berdampak hanya untuk diri sendiri saja, tetapi juga untuk lingkungan sekitar.

Melalui peringatan ini, Anisa mengajak seluruh perempuan untuk tidak hanya memiliki kepandaian, tetapi juga nilai sosial yang tinggi. Melalui kepekaan terhadap lingkungan sekitar, perempuan dapat memperkuat perjuangan untuk memberdayakan kelompok perempuan lain yang terpinggirkan. 

“Peringatan Hari Kartini dipandang bukan hanya untuk mengenang jasa-jasa Ibu Kartini, tapi juga sebagai penggerak para perempuan supaya mereka tergerak hati dan juga pikirannya,” ujar Agus, salah satu mahasiswa Fakultas Hukum (FH), yang merupakan peserta kegiatan Temu Puan, saat diwawancarai oleh Awak Manunggal pada Minggu (19/4).

 

Reporter: Kemi Annisa, Anindya Malka Alyfa

Penulis: Anindya Malka Alyfa, Kemi Annisa

Editor: Salsa Puspita, Andaru Surya

Scroll to Top