Streaming Serotonin: Bukan Sekadar Musik, Playlist Kini Jadi Identitas

Fenomena playlist atau daftar putar sebagai soundtrack kehidupan dan sarana meromantisasi rutinitas. (Sumber: Spotify)

Gaya Hidup – Bayangkan kamu masih terjaga di jam 2 pagi, menatap langit-langit kamar sembari hanya ditemani oleh daftar lagu yang relate dan mengerti akan kerumitan isi kepala. Ketika kamu duduk di dekat jendela kereta saat hendak bepergian ke luar kota, kemudian memutar playlist andalan,  hingga serasa masuk ke dunia film bak jadi pemeran utamanya.

Seiring dengan perkembangan zaman, daftar putar (playlist) yang awalnya hanya bersifat fisik, statis, dan terbatas (seperti kaset atau compact disk/CD). Sekarang, playlist menjadi lebih dinamis, tanpa batas ruang dan sangat personal berkat algoritma di platform digital seperti Spotify atau Apple Music. Playlist kini tersisip oleh esensi yang lebih daripada itu. Kumpulan lagu dalam daftar putar bertransformasi menjadi digital diary bersuara. Mulai dari judul playlist yang terkadang nyeleneh, pemilihan kover yang estetik, bahkan hingga urutan lagu, membuat pemiliknya seolah sedang meracik identitas diri di dalamnya. Bukan sekadar untuk dinikmati pribadi, kini playlist juga sering menjadi medium untuk mengutarakan perasaan di berbagai situasi. 

Kalau dipikir-pikir mengapa kita effort menyusun playlist untuk berbagai situasi yang spesifik? Jawabannya sederhana, karena sebenarnya hidup kita sudah dipenuhi hal yang chaos. Tak hanya itu, penjelasan ilmiah juga menjelaskan mengapa kita begitu niat untuk menyusun playlist. Mengutip laporan dari Kumparan, musik dapat memodulasi emosi para pendengarnya, sehingga fenomena playlist dianggap sebagai ‘obat’ untuk berbagai kondisi emosional yang dikenal dengan istilah Streaming Serotonin. Berbagai playlist yang dikurasi sesuai dengan situasinya seperti “Go to Bed ASAP”, “Sunday Morning Chill”, atau “Good Mood Mix” bukan hanya sekadar kumpulan lagu. Mereka menjadi pengalaman emosional hingga menciptakan ilusi seolah-olah playlist tersebut berperan sebagai ‘obat’ yang meningkatkan kadar serotonin, yang merupakan hormon kebahagiaan dan penenang bagi otak.

Di tengah realitas hidup yang terkadang di luar kendali, menyusun playlist memberikan rasa kontrol penuh untuk menentukan vibe dan lingkungan yang ingin kita ciptakan. Dunia boleh saja tak terkendali, tetapi kita bisa mengatur lagu apa yang bisa menemani rasa gelisah di tengah ketidakpastian itu. Ini adalah bentuk coping mechanism yang paling murah dan dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan pun.

Bukan hanya soal regulasi emosi, fenomena ini pun sangat lekat dengan kebiasaan kita untuk ‘meromantisasi’ hidup. Hal ini bukan semata-mata lebay, melainkan cara kita membingkai ulang momen biasa agar terasa layaknya adegan film. Lewat romantisasi audio ini, setiap detik yang kita lewati justru terasa lebih berkesan dan penuh makna. Hari yang kita lewati kadang terasa membosankan dan itu-itu saja, mendadak punya soundtrack-nya sendiri ketika earphone dipasang dan playlist andalan diputar.

Selain menjadi alternatif alat romantisasi, playlist spesifik juga punya peran vital lain, yakni sebagai tempat pelarian paling aman untuk memvalidasi perasaan. Coba renungkan, mengapa saat galau atau stres berat, sering kali kita justru sengaja memutar lagu-lagu yang liriknya membuat kita makin terlarut dalam kalut? Lirik dan nada yang tepat itulah yang membuat kita merasa dipahami dan mendapat validasi dari perasaan sedih itu. Kumpulan lagu yang dikemas dalam satu playlist spesifik dapat menjadi penerjemah emosi yang paling jujur, ia mewakili apa yang kita rasakan tanpa harus menjelaskan masalahnya lewat kata-kata.

Fenomena ini makin terasa nyata jika kita kaitkan dengan kebiasaan generasi Z. Beberapa waktu lalu, ada tren yang viral di kanal TikTok, memperlihatkan bagaimana orang-orang memberi judul dan mendeskripsikan daftar putarnya secara hyper-specific. Menariknya lagi, mereka tidak hanya mengurasi lagu, melainkan juga memilih foto kover terbaiknya yang terkadang malah menggunakan meme absurd, bahkan sampai menulis deskripsi playlist yang sekiranya pas untuk menjelaskan ‘vibe’ atau skenario imajinatif di balik lagu-lagu tersebut. 

Kini, cara menikmati musik telah bergeser dari sekadar hiburan pribadi menjadi ajang ekspresi yang dirayakan di ruang publik. Lewat platform yang cukup digandrungi seperti Spotify, playlist bermetamorfosis menjadi social currency (mata uang sosial). Menyusun daftar putar kini ibarat memilih pakaian untuk memproyeksikan citra tertentu di media sosial, apakah itu citra anak indie, penikmat musik niche, atau seseorang yang paling paham dengan musik periode 90-an. Bahkan, validasi atas selera musik yang oke ini sekarang telah melahirkan peluang komersial baru. Lewat maraknya tren jasa kurasi playlist di TikTok, keahlian meracik lagu juga dapat menjadi sumber penghasilan tambahan. Para penyedia jasa menyediakan formulir pemesanan digital khusus agar pelanggan bisa mempersonalisasi vibe yang diinginkan, lengkap dengan katalog harga yang dipatok berdasarkan durasi playlist-nya.

Menariknya lagi, lewat fitur seperti Spotify Blend atau playlist kolaborasi, musik kini beralih fungsi menjadi alat ‘screening’ atau tes kecocokan di ranah sosial. Di kalangan generasi Z, Spotify Blend bahkan beralih fungsi menjadi alat modern saat ada di fase talking stage. Dari angka persentase kecocokan selera musik di Blend, kita bisa langsung mengukur persentase kecocokan kita dengan crush atau sirkel pertemanan baru. Kini, untuk memulai sebuah hubungan atau validasi interaksi sosial, semuanya benar-benar bisa dimulai hanya dari obrolan satu playlist.

Melihat bagaimana sebuah daftar putar bisa punya peran yang krusial, mulai dari sebagai penerjemah suasana hati hingga penentu kecocokan di fase talking stage, rasanya wajar jika kita bisa begitu niat untuk menyusunnya. Di tengah dunia yang berlalu lalang dan bergerak cepat, punya deretan lagu yang mampu mengerti isi kepala adalah sebuah kemewahan sederhana. Playlist menjadi cara untuk kita bersuara ketika lidah kelu juga usaha untuk merayakan hidup di tengah rutinitas yang monoton. Sekarang, coba buka akun Spotify kamu dan lihat deretan playlist yang ada di sana. Dari sekian banyak judul nyeleneh dan estetik yang sudah kamu buat, playlist mana yang sedang jadi soundtrack utama di hidupmu hari ini?

 

Penulis: Keyla Aleyda Nirvana Putri

Editor: Andaru Surya, Salsa Puspita

Referensi:

Adzam, A. (2024, Oktober). Musik sebagai Terapi Gen Z dan Tren Playlist Pengubah Suasana Hati. Kumparan. https://kumparan.com/aiman-adzam/musik-sebagai-terapi-gen-z-dan-tren-playlist-pengubah-suasana-hati-23eQGfUSGVU/4

Greatmind. (2018). Musik Menyelamatkan Hidup. Greatmind.id. https://greatmind.id/article/musik-menyelamatkan-hidup

Jelajah Mia. (2025, Desember). Mengapa Playlist Kita Penting. Jelajahmia.com. https://www.jelajahmia.com/2025/12/mengapa-playlist-kita-penting.html

Whiteboard Journal. (2024, Mei). Playlist Bukan Tolok Ukur Status Sosial, Apalagi Tingkat Kekerenan. Whiteboard Journal. https://whiteboardjournal.com/column/playlist-bukan-tolok-ukur-status-sosial-apalagi-tingkat-kekerenan/

Scroll to Top