Serangan Burnout pada Dokter: Yang (Mungkin) Terlupakan Selama Pandemi.

Dokter mengenakan APD (Alat Pelindung Diri) selama merawat pasien pengidap Covid-19. (Sumber: Kompas.com)

Peristiwa – Apa yang mungkin Anda ketahui tentang salah satu profesi di bidang kesehatan ini jika dikaitkan dengan pandemi Covid-19 yang sudah berjalan selama satu setengah tahun belakangan?

“Pembuat konspirasi kalau Covid mematikan,” ujar penganut konspirasi yang bertebaran di aplikasi burung biru.

“Malaikat, mereka menyelamatkan saya dari jurang kematian.” Kali ini dari mayoritas yang hidupnya nyaris di ujung tanduk akibat serangan virus.

“Ya, memang sudah tugasnya sih untuk nyembuhin orang sakit. Nothing special, toh dibayar juga sama pasien atau pemerintah.” Kalau jawaban mengesalkan ini biasanya berasal dari kumpulan manusia yang hobinya julid di sosial media mengenai sulitnya para tenaga medis selama gelombang Covid sedang tinggi-tingginya.

Apa itu Burnout?

Sebelum membahas serangan kelelahan luar biasa pada dokter, alangkah baiknya saya memberikan sedikit informasi mengenai definisi dari burnout itu sendiri. Burnout adalah suatu bentuk kelelahan yang disebabkan seseorang ketika bekerja terlalu intens sampai menganggap kebutuhan dan keinginan mereka sendiri sebagai kebutuhan yang bisa diabaikan. Akibatnya, akan timbul berbagai tekanan untuk memberi lebih banyak dari kemampuan diri sendiri. Tekanan yang muncul pun bisa dari berbagai aspek, seperti diri sendiri, klien yang menuntut, atau atasan serta pemilik dari profesi yang mereka tekuni. Adanya tekanan ini akan menimbulkan rasa bersalah yang memicu untuk memberikan energi yang lebih besar untuk berdedikasi dalam pekerjaannya. Idealisme dalam memberikan yang sempurna terhadap pekerjaan, namun tidak sejalan dengan realitas yang dialami akan membuat energi terkuras habis sehingga berujung pada frustasi serta kelelahan pada diri.

Maka jika disingkat, burnout dapat terjadi akibat ketidaksesuaian antara sebuah harapan individu dengan realitas pekerjaannya. Ketidaksesuaian bisa didapatkan dari beberapa faktor, seperti kelebihan beban kerja, kurangnya kontrol kerja, sistem imbalan yang tidak memadai, perasaan diperlakukan tidak adil, dan konflik nilai.

Beban Kerja Terlalu Tinggi vs Netizen Indonesia

Setelah penjelasan panjang mengenai burnout itu sendiri, saat ini saya akan mengajak pembaca untuk mengingat kembali masa-masa awal pandemi, yaitu pada tahun 2020 (atau jika tidak mau jauh-jauh berkelana, ingatlah saat gelombang kedua Covid-19 datang menyergap Indonesia pada Mei 2021).

Perbandingan jumlah dokter, baik umum maupun spesialis terhadap jumlah pasien Covid yang mencapai puluhan ribu setiap harinya membuat jam kerja dokter (yang menurut saya sedari awal sebelum pandemi sudah sangat menggila, dokter umum bisa mendapatkan jam kerja 40-80 jam/minggu) semakin tidak menentu. Belum lagi penggunaan APD (Alat Pelindung Diri) level 3 sekali pakai – dalam arti jika sudah dilepas, maka seluruh APD tidak akan steril lagi dan wajib diganti yang baru – membuat para dokter menahan diri untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, seperti makan, minum, hingga buang air.

Selain aspek kenyamanan, para dokter juga mengalami ancaman keamanan. Suka tidak suka, sebagai salah satu garda terdepan dalam menghadapi pandemi, keselamatan untuk tidak mengalami risiko penularan virus sangat kecil. Rasa lelah akibat kurangnya kenyamanan dan beban pikiran akan keselamatan diri mereka sendiri yang terabaikan kemudian terakumulasi menjadi suatu kelelahan luar biasa di suatu waktu. Belum lagi ocehan serta ketikan para pengguna media sosial di Indonesia yang mayoritas (ya, mari kita akui mayoritas karena kenyataannya memang seperti itu) tidak memikirkan dari banyak sisi. Selama menurut mereka benar, maka terhujamlah pendapat yang sesungguhnya seperti manusia yang tidak ada empati.

Tiliklah beberapa kolom komentar akun media sosial yang dimiliki oleh para dokter di Indonesia ketika mengedukasikan untuk menjaga protokol kesehatan demi keselamatan umum dan tenaga kesehatan itu sendiri, maka tidak sedikit kalimat, “Nggak usah ngeluh, risiko lah jadi dokter. Udah kewajibannya sembuhin pasien” atau “Halah, itu pasien batuk sedikit aja di-Covid-kan biar dokter dan RS dapat biaya kompensasi”. Bak sudah terjatuh, tertimpa pohon beringin pula. Para medis yang terombang-ambing akibat situasi tidak terkendali.

Data Angka Kasus Burnout pada Dokter

Dilansir melalui cnnindonesia.com pada tahun 2020, Moh. Adib Khumaidi selaku Wakil Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyebutkan 85% tenaga kesehatan mengalami sindrom burnout. 15% diantaranya merupakan dokter yang sedang menempuh pendidikan spesialis. Sedangkan, dilansir melalui situs milik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (fk.ui.ac.id), sebuah tim peneliti dari Magister Kedokteran Kerja Universitas Indonesia yang terdiri dari Dr. dr. Ray W Basrowi, MKK; dr. Levina Chandra Khoe, MPH; dan dr. Marsen Isbayuputra, Sp, OK pada tahun 2020 menemukan data sebagai berikut:

  • 83% tenaga kesehatan mengalami sindrom burnout derajat sedang-berat.
  • 41% tenaga kesehatan mengalami keletihan emosi derajat sedang dan berat, 22% mengalami kehilangan empati derajat sedang dan berat, 52% mengalami kurang percaya diri derajat sedang dan berat.
  • Dokter yang menangani pasien Covid-19, baik dokter umum maupun spesialis, berisiko dua kali lebih besar mengalami kelelahan emosi dan kehilangan empati dibandingkan mereka yang tidak menangani pasien Covid-19.

Perlunya Kesadaran Bersama & Regulasi yang Berlaku

Tingginya angka kelelahan luar biasa para dokter yang bertugas dalam penanganan Covid-19 melampaui angka 50%, tentunya wajib menjadi kesadaran kita bersama. Sejenak mari berpikir bagaimana jadinya apabila sistem kesehatan Indonesia (yang saya katakan masih jauh dari kata optimal) harus mengalami colaps akibat garda terdepannya mengalami tumbang karena kelelahan yang luar biasa dan tidak bisa dikendalikan lagi?

Dari diri kita sebagai masyarakat umum tentu saja hal sederhana seperti tetap memedulikan protokol kesehatan, meskipun angka positif Covid-19 sudah mulai menurun sejak sebulan terakhir sangat membantu para dokter untuk meraih ‘waktu istirahatnya’ dengan sangat baik. Melibatkan empati satu sama lain sudah lebih dari cukup untuk menyelamatkan antar nyawa yang ada.

Sedangkan dari segi pemerintah sebagai pembuat, serta pengawas dari adanya sebuah regulasi sangat perlu dan urgent mengenai adanya sebuah kebijakan yang dapat melindungi para dokter (dan tenaga kesehatan lain tentunya) dari ancaman kesehatan secara mental. Sebab sehat mental itu berhak dimiliki oleh semua orang, termasuk para dokter yang selalu menjamin kesehatan setiap masyarakat.

 

Penulis: Malahayati Damayanti Firdaus, Mahasiswa Fakultas Kedokteran 2019

Editor: Aslamatur Rizqiyah, Dyah Satiti

 

Referensi:

83% Tenaga Kesehatan Indonesia Mengalami Burnout Syndrome Derajat Sedang dan Berat Selama Masa Pandemi Covid-19 – FKUI. Fk.ui.ac.id. (2020). Retrieved 23 October 2021, from https://fk.ui.ac.id/berita/83-tenaga-kesehatan-indonesia-mengalami-burnout-syndrome-derajat-sedang-dan-berat-selama-masa-pandemi-Covid-19.html.

Covid-19, S. (2020). IDI Sebut 85 Persen Nakes Alami Sindrom Burnout akibat Covid. gaya hidup. Retrieved 23 October 2021, from https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20201118093220-260-571193/idi-sebut-85-persen-nakes-alami-sindrom-burnout-akibat-Covid.

Nurmayanti, Lila., Margono, Hendy. 2017. Burnout Pada Dokter. Journal

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top