Semangat Wujudkan Kebiasaan Berjalan Kaki

Theresia berpendapat saat ini Kota Semarang belum memiliki fasilitas  yang cukup bagi para pejalan kaki. Menurutnya, hanya trotoar di Jalan Pemuda, Gajahmada, dan Pandanaran yang terawat, sedangkan kondisi trotoar di jalan lain terlihat tidak layak dilewati pejalan kaki. Selain itu, banyak pedestrian yang dirampas fungsinya oleh oknum-oknum tertentu. Pedestrian tersebut beralih fungsi menjadi lapak pedagang kaki lima (PKL), lahan parkir, bahkan dilewati oleh sebagian kendaraan bermotor. Hal tesebut mengakibatkan banyak pejalan kaki yang memilih menggunakan kendaraan pribadi sehingga memperparah kemacetan dan polusi. “Jika berjalan kaki menyenangkan maka angkutan umum akan berkembang dan harganya bisa murah. Di sisi lain kota tidak macet, tidak berpolusi, karena angkutan umum penumpangnya banyak,” ungkap perempuan yang hobi melakukan aktivitas olah raga tersebut.

Selain melakukan aksi di jalan, KPKS juga beberapa kali melakukan kegiatan yang berkaitan dengan visinya yaitu kesadaran masyarakat Kota Semarang untuk menggunakan transportasi berkelanjutan yang dikelola dan mendapat perhatian khusus dari Pemkot. Kegiatan tersebut berupa lomba fotografi mengenai hak pejalan kaki dan penggunaan transportasi berkelanjutan, serta acara bedah  buku terkait revolusi transportasi.

Dalam waktu dekat ini, KPKS juga merencanakan kegiatan bersama perusahaan internasional milik federal Jerman, yaitu Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ). Kegiatan tersebut berupa diskusi publik mengenai transportasi dan gender. Theresia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut nantinya akan membahas permasalahan perempuan ketika berjalan kaki dan menggunakan angkutan umum. Hasil diskusi tersebut akan disampaikan saat beraudiensi dengan Pemkot Semarang dan Badan Layanan Usaha (BLU) Trans Semarang.

Tanggapan dari Berbagai Pihak

Sejumlah kegitan yang dilakukan KPKS bukan bertujuan untuk mendapat penghargaan dari masyarakat maupun negara. Bagi Theresia dan anggota KPKS, penghargaan yang sebenarnya adalah ketika banyak warga yang tergerak hatinya untuk menyadari kampanye KPKS dan adanya tanggapan nyata dari pemerintah.

Hingga sekarang reaksi dari masyarakat cukup bervariasi, banyak yang setuju namun tidak sedikit juga yang menganggap KPKS berlebihan dalam melakukan aksinya. Sementara itu, respons dari pemerintah diakui Theresia belum maksimal. Pasalnya, sampai saat ini belum ada tindakan konkret dari pemerintah meskipun telah menyetujui dan mendukung gerakan KPKS. “Kami belum melihat pemerintah sungguh melaksanakan yang kami minta yaitu fasilitas pejalan kaki yang ramah difabel dan pembuatan zebra cross baru. Kami menolak Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang tidak humanis, dan cenderung mengutamakan kendaraan bermotor,” tandas ibu beranak tiga itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *