Sejujurnya, Kita Adalah Sumber Masalah Untuk Diri Sendiri

Peta konsep mengenai minset manusia terhadap sebuah permasalahan. (Sumber: Pinterest)

 

Opini – Beberapa waktu belakangan ini, selain permasalahan Corona – yang bukannya semakin meredup namanya namun semakin bersinar bak penyanyi dangdut pendatang baru – permasalahan mengenai overthinking dan insecure semakin menguasai lini kehidupan masyarakat, khususnya para remaja dan dewasa muda (termasuk saya). Ingin bukti? Cobalah bertanya kepada teman Anda atau bahkan diri Anda sendiri, apa hal yang paling memuakkan namun tidak bisa dienyahkan dalam diri? Jika jawabannya adalah dua kata yang saya beri font italic tadi, maka saya tidak perlu memberikan bukti-bukti lainnya.

Meminjam makna dari sebuah situs yang sering saya gunakan untuk menjawab kuis perkuliahan, overthinking adalah istilah untuk perilaku memikirkan segala sesuatu secara berlebihan. Hal tersebut bisa dipicu oleh adanya kekhawatiran akan suatu hal, mulai dari masalah sepele seperti, kehidupan sehari-hari hingga masalah rumit seperti trauma di masa lalu yang membuat seseorang sulit untuk berhenti1. Sedangkan rekan baiknya, yaitu insecure adalah perasaan cemas, tidak mampu, dan kurang percaya diri yang membuat seseorang merasa tidak nyaman2.

Sejujurnya, baik overthinking maupun insecure adalah hal yang sangat lumrah terjadi pada diri manusia. Sayangnya, jika terlalu sering terjadi, hal tersebut sangat memuakkan. Setidaknya bagi saya, overthinking dan insecure bak anak ayam yang selalu mengikuti induknya – yah sebut saja saya sebagai induknya. Saya selalu merasa tidak yakin dengan segala sesuatu yang telah saya lakukan, merasa sulit untuk memercayai orang lain hingga membatasi ruang gerak kehidupan sehari-hari. Sebab ketika saya sudah overthinking saya menghindari semua orang dan ketika insecure ikut menyapa, saya memilih untuk menghilang – bahkan sampai bersembunyi dari tanggung jawab yang seharusnya saya lakukan.

Hingga pada suatu hari yang cerah dan isi kepala saya sedang menyenangkan, saya iseng membuat sebuah peta pemikiran. Tujuannya ingin tahu sebenarnya apa sih yang membuat diri ini selalu merasa rendah diri dan berpikiran yang berlebihan. Setelah corat-coret tidak jelas selama satu jam, saya berhasil membuat kesimpulan yang cukup apik namun menyakitkan.

Ternyata penyebab ‘dua anak ayam’ itu mengikuti saya, ya diri sendiri.

Penjelasannya begini, saya merasa overthinking dengan segala sesuatu yang saya lakukan – entah itu membuat sebuah karya, menjalankan kewajiban, atau bahkan sesederhana membalas chat dan berbicara dengan orang lain – karena saya selalu memikirkan apa yang orang lain pikirkan mengenai saya. Saya selalu berpikir “Apakah saya terlalu antusias? Apakah saya terlalu agresif? Apakah saya terlalu sok tahu?’ dan sebagainya. Padahal orang lain belum tentu peduli atau bahkan mengingat apa yang saya lakukan sebelumnya.

Kalau insecure sih sudah jelas. Terlalu banyak melihat sosial media yang fana adalah kunci utama. Melihat teman yang aktif di segala kegiatan, berprestasi di banyak bidang, memiliki relasi luas, langsung membuat saya merasa diri ini tidak ada gunanya. Padahal kalau mindset otak ini agak diperbaiki, sebenarnya saya bisa tapi ya itu, karena terlalu banyak memikirkan hal-hal yang nggak akan terjadi saya jadi mengurungkan niat untuk melakukannnya.

See? Sudah mutlak memang yang membuat rumit memang diri sendiri.

Walaupun tidak bisa dipungkiri memang untuk menyingkirkan mereka bukanlah usaha yang mudah, terutama jika memiliki beberapa luka lama yang menimbulkan trauma. Tidak mudah untuk menganggapnya hilang begitu saja seakan tidak pernah terjadi. Tapi, ada satu kutipan dari buku yang sedang saya baca dengan judul Berani Tidak Disukai (The Courage to be Dislike) karya Ichiro Kishimi & Fumitake Koga yang saat ini menjadi landasan saya ingin bangkit dan memperbaiki hidup saya yang terlalu banyak “keterbatasan akibat isi kepala dan masa lalu”, yaitu “Kita manusia bukanlah makhluk yang begitu ringkih sampai harus tunduk di bawah belas kasihan trauma” dan “… kita memilih kehidupan dan gaya hidup kita sendiri. Kita punya kekuatan untuk melakukannya.”

Jadi, bagi Anda yang mungkin saja mengalami hal serupa seperti saya, mungkin bisa mencoba teknik iseng yang saya gunakan tadi. Ambil sehelai kertas kosong dan sebuah pulpen kesayangan Anda, dan selamat menorehkan seluruh isi kepala Anda di dalam sana.

Berubah menjadi tidak terlalu peduli terhadap segala sesuatu dan lebih percaya diri memang sulit, tidak semudah merebus mi instan, namun setidaknya saya dan Anda – mari diperpendek menjadi kita – pasti bisa melakukannya. Jika merasa kesulitan menanganinya sendiri, jangan ragu untuk terbuka meminta saran kepada teman terdekat, pacar, atau mungkin gebetan. Atau akan sangat baik jika meminta bantuan kepada profesional seperti psikolog.

Ingat, emosi dan isi kepala kita itu valid.

 

Referensi:

[1] Nareza, M. (2020, Juni 16). Hati-Hati, Dampak Overthinking Bisa berakibat Fatal. Diakses dari alodokter.com: https://www.alodokter.com/hati-hati-dampak-overthinking-bisa-berakibat-fatal

[2] Tamin, R. (2020, Desember 14). Insecure. Diakses dari alodokter.com: https://www.alodokter.com/insecure

 

Penulis: Malahayati Damayanti

Editor: Aslamatur Rizqiyah, Dyah Satiti

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top