Sejarah Hari Bank Indonesia, dari De Javasche Bank Hingga Bank Nasional Indonesia

Potret gedung Bank Indonesia, bank sentral di NKRI peninggalan Belanda. (Sumber: Kompas.com)

Peristiwa – Terdapat sedikit fakta menarik mengenai peringatan Hari Bank Indonseia, yakni peringatan yang sebenarnya merujuk pada hari lahirnya Bank Nasional Indonesia (BNI), yaitu pada 5 Juli 1946. Bank Nasional Indonesia merupakan bank pertama yang didirikan dan dimiliki oleh pemerintah Indonesia. Tanggal pembentukan tersebut kemudian ditetapkan dan diperingati sebagai Hari Bank Indonesia. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi?

Bank Indonesia sendiri baru disahkan menjadi bank sentral oleh pemerintah RI melalui undang-undang pada 1 Juli 1953 seiring dengan nasionalisasi De Javasche Bank (DJB) setelah penyerahan kedaulatan RI dari Belanda. De Javasche Bank sendiri adalah bank sentral pertama di Hindia Belanda ¾nama sebelum Indonesia merdeka¾ yang dibentuk pada dekade kedua abad 19 semasa pendudukan Belanda. Dikutip dari arsip Museum Bank Indonesia, kondisi perekonomian Hindia Belanda kala itu tidak teratur karena belum adanya regulasi pembayaran yang tertib melalui lembaga bank. Selain itu, banyak kalangan pengusaha di Batavia yang mendesak kepada pemerintah kolonial agar segera didirikan lembaga bank sirkulasi yang bersifat sentral untuk memenuhi serta memudahkan kepentingan bisnis mereka. Berbagai alasan dan desakan tersebut disampaikan kepada Kerajaan Belanda. Akhirnya, pada 9 Desember 1826, Raja Belanda, Willem I (1815-1840), menerbitkan surat kuasa kepada pemerintah kolonial di Batavia untuk membentuk suatu bank berdasarkan wewenang khusus berjangka waktu atau yang lazim disebut oktroi.

Seiring kemenangan Jepang atas Belanda dalam Perang Dunia Kedua pada 1942, riwayat panjang DJB pun berakhir. Dai Nippon mengambil alih wilayah Indonesia. Di Indonesia, pasukan Jepang melucuti seluruh aset yang sebelumnya dimiliki Belanda, termasuk di sektor perbankan. Dai Nippon juga mendirikan bank sentral bernama Nanpo Kaihatsu Ginko yang salah satu tugasnya mengedarkan mata uang yang dicetak di Jepang. Menurut Jan M. Pluiver dalam South-East Asia from Colonialism to Independence (1974), Nanpo Kaihatsu Ginko juga menjadi bank sirkulasi untuk wilayah koloni Jepang di kawasan Asia Tenggara.

Pada 1945, Jepang kalah dari Sekutu dalam Perang Asia Timur Raya. Bangsa Indonesia pun menyatakan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Namun, tak lama berselang, pasukan Belanda datang dengan membonceng tentara Sekutu. Belanda rupanya ingin berkuasa kembali di Indonesia. Selama era perang mempertahankan kemerdekaan, Belanda merebut bank-bank yang dibuka di masa Jepang, termasuk Nanpo Kaihatsu Ginko yang dikembalikan menjadi De Javasche Bank. Setelah Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947, DJB berhasil membuka kembali kantor-kantor cabangnya di berbagai daerah. Di sisi lain, pemerintah RI mengeluarkan undang-undang darurat mengenai pendirian Bank Nasional Indonesia (BNI) pada 5 Juli 1946. Menurut Marwah M. Diah dalam buku Restrukturisasi BUMN di Indonesia: Privatisasi atau Korporatisasi?, berdirinya BNI didahului dengan pembentukan suatu yayasan pada 1945 atau tidak lama setelah kemerdekaan. Yayasan yang dimaksud adalah Yayasan Pusat Bank Indonesia. Pendirian BNI pada 5 Juli 1946 dilanjutkan dengan peleburan yayasan tersebut. Momentum inilah yang menjadi patokan sebagai Hari Bank Indonesia dan selanjutnya diperingati setiap tanggal 5 Juli.

Namun, maksud pemerintah RI yang ingin menjadikan BNI sebagai bank sirkulasi atau bank sentral terhambat karena situasi darurat perang yang terjadi kala itu, ditambah masih sulitnya memperoleh pengakuan dari negara-negara lain. Agresi Militer Belanda II pada 18 Desember 1948 memicu Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta yang waktu itu menjadi ibu kota RI. Serangan massal ini membuka mata dunia bahwa Indonesia masih eksis meskipun beberapa pemimpin pemerintahan RI ditawan oleh Belanda. Desakan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan dunia internasional membuat Belanda terpaksa bersedia menggelar Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag. Rangkaian panjang KMB akhirnya disepakati pada 2 November 1949.

Selain menghasilkan pengakuan kedaulatan oleh Belanda kepada Indonesia, KMB juga menetapkan bahwa De Javasche Bank akan menjadi bank sentral bagi negara Indonesia. Adapun BNI ¾tulis Rachmadi Usman dalam Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia¾ dialihkan fungsinya sebagai bank pembangunan. Pada 10 April 1953, parlemen menyetujui usulan nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia (BI). Presiden Soekarno kemudian menerbitkan surat keputusan mengenai peresmian BI sebagai bank sirkulasi atau bank sentral Indonesia pada 10 April 1953 dan mulai berlaku sejak 1 Juli 1953.

 

Referensi:

Rahayu, R., & Iswara N. Raditya (2019, Juli 5). Sejarah Hari Bank di Indonesia & Alasan Diperingati Setiap 5 Juli. Diakses dari tirto.id: https://tirto.id/sejarah-hari-bank-di-indonesia-alasan-diperingati-setiap-5-juli-edCS

 

Penulis: Ilham Aji F, mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis 2020

Editor: Aslamatur Rizqiyah, Fidya Azahro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *