
Citizen Journalism – Tim pelaksana Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (BEM FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) resmi mengawali program Gerakan Kopi Berdaya di Desa Lanjan, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, sepanjang Juni 2026. PPK Ormawa merupakan program dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) yang bertujuan mendorong organisasi kemahasiswaan untuk berkontribusi nyata dalam pemberdayaan masyarakat. Selama sebulan penuh, tim tidak hanya menyusun program di atas kertas, tetapi turun langsung menemui petani, menggandeng dinas pemerintah, dan menyusuri dusun demi dusun agar program yang dilaksanakan sesuai kebutuhan warga.
Langkah awal dimulai dengan diskusi bersama 250 petani kopi Desa Lanjan, pada Selasa (2/6/2026). Dari obrolan tersebut, tim memetakan potensi sekaligus kendala yang dihadapi warga dalam mengelola komoditas kopi sembari mendapatkan pembekalan teknis dari universitas seputar penyusunan logbook, skema pendanaan, serta administrasi program.
Pada (11/6/2026) hingga (15/6/2026), tim blusukan ke sejumlah dusun, yakni Tegalroto, Jambon, Ngelo, Susukan, dan Kalibanger, untuk mengenalkan program langsung kepada warga. Pertemuan demi pertemuan digelar untuk membahas dukungan masyarakat, kondisi sarana prasarana, sampai peluang pengembangan usaha kopi berbasis komunitas. Tim bahkan menyempatkan diri hadir di kegiatan posyandu yang menjadi salah satu cara efektif dalam membangun kedekatan dengan warga di luar forum formal.
Roda kemitraan berputar kencang di pekan ketiga. Tim melakukan audiensi dengan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Semarang untuk membahas peluang pengembangan usaha sekaligus pemasaran kopi lokal serta berkoordinasi dengan Badan Perencanaan, Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) guna merumuskan strategi pengembangan komoditas kopi di Desa Lanjan. Dalam audiensi tersebut, Kabupaten Semarang menegaskan komitmennya terhadap pengembangan kopi sebagai salah satu komoditas unggulan daerah. “Program ini sesuai, searah, dan berkesinambungan dengan program Bapperida yang berfokus pada pengembangan dan kemandirian, serta selaras dengan visi misi Bupati,” ujar Antonius Aru Hadi Eka Sayoga, perwakilan Bapperida.
Ia turut menyoroti persoalan rantai pasok kopi robusta yang masih terlalu panjang, mulai dari petani hingga pengepul sehingga berdampak pada tingginya biaya distribusi. “Kalau rantai pasoknya panjang, biaya pasoknya jadi tinggi. Keberadaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebenarnya bisa membantu memangkas rantai pasok tersebut,” tambahnya.
Di pekan yang sama, tim melakukan studi banding ke rumah produksi kopi di Kecamatan Jambu, mempelajari pascapanen, dan praktik bisnis kopi yang terbukti berhasil. Selain itu, digelar Forum Group Discussion bersama petani Dusun Susukan serta diskusi dengan Kelompok Usaha Bersama (KUB) Kalibanger untuk menggali tantangan, kebutuhan, dan peluang pengembangan kopi yang dievaluasi rutin bersama dosen pendamping.
Memasuki pekan terakhir, tim kembali memperluas jaringan lewat audiensi dengan Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan (Dispertanikap) Kabupaten Semarang, membahas peluang kolaborasi dalam penyuluhan dan pendampingan kelompok tani kopi.
“Potensi Kabupaten Semarang dari komoditas kopi sebenarnya cukup besar. Kelembagaan petani perlu terus dikuatkan, kemudian didorong untuk mendaftar dan berkoordinasi melalui Dispertanikap,” ungkap Endang Purbandari, perwakilan Dispertanikap.
Selain audiensi tersebut, tim juga berkonsultasi dengan pelaku usaha kopi sukses untuk berbagi cerita seputar pengolahan, pemasaran, hingga strategi bisnis yang diterapkan.
Rangkaian kegiatan bulan Juni ditutup dengan momen berkesan, yakni tim pendampingan proses panen kopi bersama para petani, sekaligus mempererat relasi yang terbangun sejak awal program bergulir. Dari penguatan kapasitas internal, perluasan kemitraan, hingga pendampingan langsung, Juni 2026 menjadi fondasi awal bagi tim mewujudkan pemberdayaan kopi berkelanjutan di Desa Lanjan.
Penulis: Hassya Madu Reswara, Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Editor: Salsa Puspita, Andaru Surya



