Peringati May Day di Semarang: Demonstrasi Hingga Vaksinasi

Tindakan saling dorong antara aparat dan massa aksi di Semarang dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional. (Sumber: Semarangbisnis.com)

Warta Utama – Hari Buruh Internasional atau May Day diperingati setiap 1 Mei untuk memperingati peristiwa kerusuhan Haymarket di Chicago tahun 1886 silam. Sabtu (1/5), serikat buruh di Indonesia dari berbagai daerah pun turut memperingati Hari Buruh. Di Semarang, Hari Buruh diperingati dengan kegiatan berupa demo atau unjuk rasa, pembagian sembako, dan vaksinasi gratis untuk para buruh.

Ada dua tuntutan utama yang diserukan dalam unjuk rasa tersebut. Pertama, tuntutan  terhadap pembatalan UU Cipta Kerja (Omnibus Law). Kedua, meminta agar diberlakukannya Upah Minimum Sektoral (UMSK) 2021.

Unjuk rasa dilakukan di Jalan Pahlawan Semarang oleh perwakilan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), Serikat Pekerja Nasional (SPN), dan juga mahasiswa. Tuntutan terhadap hak-hak buruh diorasikan dan seruan untuk menolak Omnibus Law dilantangkan.

Demonstran yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM) Jawa Tengah  juga turut berunjuk rasa di Pantura, tepatnya di pertigaan Jerakah Semarang. Mereka menyerukan kebijakan-kebijakan pemerintah berupa sebelas peraturan perundang-undangan yang ditetapkan selama satu tahun pandemi yang dianggap gagal melindungi hak-hak buruh.

Unjuk rasa tersebut sempat mendapat respon berupa tindak represif dari polisi.  Berdasarkan kronologis yang terdapat dalam kiriman sosial media Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang, massa aksi yang melakukan long march dari kampus UIN Walisongo menuju Tugu mengalami tindak represif berupa penghentian mobil komando secara paksa, kekerasan fisik – menjambak, memiting, mencekek, memukul – dan mengangkut peserta aksi ke Polsek Tugu. Peserta aksi juga mendapat intimidasi dan dipaksa untuk membuka isi tasnya setelah tiba di Polsek.

Berdasarkan keterangan dari Kabag Ops Polrestabes Semarang, AKB A Recky R, kerusuhan tersebut merupakan bentuk miskomunikasi antara Koordinator Lapangan (Korlap) aksi dan aparat. Menurutnya, sejak awal perundingan aksi akan dilaksanakan di Simpang Tugu Jerakah. Tetapi, massa aksi justru menerobos Jalan Pantura sehingga menyebabkan kemacetan. Aksi kembali kondisif setelah terjadi perundingan antara aparat dan Korlap aksi.

Tindak represif terhadap massa aksi tidak hanya dialami oleh peserta aksi di Semarang. Di Jakarta, lebih dari 300 peserta aksi Hari Buruh ditangkap oleh polisi. Mayoritas mereka yang ditangkap adalah mahasiswa. Bahkan, pengangkapan terhadap pers mahasiswa kembali terulang. Kali ini, Chaerul Anwar dan Suandira Azra Badriana dari LPM Marhaen Universitas Bung Karno menjadi korban penangkapan oleh aparat.

“Polisi yang menangkapi peserta tidak menjelaskan alasan apapun. Bahkan polisi yang berada di lapangan mengatakan mahasiswa tidak boleh ikut aksi, cuma buruh yang boleh,” kata Teo Reffelsen, Tim Advokasi Untuk Demokrasi (TAUD), dilansir dari tempo.co (1/5).

Teo mengatakan, massa aksi langsung diangkut secara paksa dan dibawa ke Polda Metro Jaya. Ia menyebut beberapa massa aksi nampak mengalami luka-luka.

“Yang jelas tindakan penangkapan sewenang-wenang yang melanggar hukum seperti ini sudah terjadi berulang kali dilakukan polisi,” kata Teo.

Sisi Lain dan Nasib Pekerja Media

Menurut Serikat Pekerja Lintas Media Jawa Tengah (SPLM) dan Aliansi Jurnalis Indepeden (AJI) Kota Semarang, kondisi pekerja media di Semarang semakin lama semakin memprihatinkan. Para pekerja tersebut harusnya turut mendapat perhatian khusus, sebab masih banyak pekerja media di kota Semarang yang digaji jauh di bawah Upah Minimum Kota (UMK) Kota Semarang.

“Masih banyak perusahaan media di Kota Semarang menggaji pekerjanya jauh di bawah Upah Minumum Kota (UMK) Kota Semarang, yakni Rp 2,8 juta. Bahkan, ada media yang menggaji wartawannya Rp 1 juta, Rp 1,2 juta, Rp 1,5 juta, hingga Rp 2 juta,” ujar Abdul Mughis, Ketua SPLM lewat wawancaranya dengan serat.id, (1/5).

Ketika para buruh sudah selesai memperjuangkan Standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL) di kisaran Rp 3,5 juta (dari UMK Rp 2,8 juta), para pekerja media di Kota Semarang masih mendapat gaji jauh di bawah UMK, Tunjangan Hari Raya (THR) yang kurang layak, hingga tidak adanya jaminan asuransi BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan.

Ketidakadilan tersebut terjadi karena banyak perusahaan media yang tidak menaati UU Ketenagakerjaan. Bahkan, perusahaan media di Semarang dan Jawa Tengah yang menggaji jurnalisnya secara layak bisa dihitung dengan jari.

“Ironisnya, pelanggaran ketenagakerjaan yang dilakukan sejumlah perusahaan media tersebut tidak ada penindakan oleh Dinas Tenaga Kerja,” imbuhnya.

Menurut Aris Mulyawan, Ketua AJI Kota Semarang, masih terdapat celah dalam Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan Nomor M/6/HK.04/IV/2021 ¾tentang pelaksanaan pemberian Tunjangan Hari Raya Keagamaan bagi pekerja/buruh di perusahaan¾ yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan untuk tidak membayar THR kepada karyawannya. Dalam kondisi pandemi, perusahaan justru dapat berdalih tidak dapat membayar THR karena terdampak pandemi.

Sembako dan Vaksinasi

Dalam mengisi Hari Buruh, Polda Jawa Tengah dan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi melakukan pembagian 1.000 paket sembako dan kegiatan vaksinasi yang diwakili oleh 100 buruh dari perwakilan 10 federasi, bertempat di Balai Kota Semarang. Selain itu,  Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jawa Tengah juga mendatangi rumas susun yang dihuni oleh para buruh di Bandaharjo, Semarang, untuk membagikan sembako.

Dalam pembagian sembako tersebut, Ganjar menyatakan bahwa sejumlah persoalan buruh akan segera dituntaskan. Para buruh yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) selama pandemi diminta untuk didata dan diberi pelatihan.

“Ini saya bawa Kepala Dinas Tenaga Kerja, jadi langsung bisa ditindaklanjuti. Umpama tadi ada masukan banyak korban PHK, saya minta didata, dilatih sesuai keterampilan mereka. Kalau perlu peralatan nanti kita sumbang, sehingga kalau mereka tidak bisa bekerja di tempat formal, mereka bisa mandiri dan jadi enterpreneur sendiri,” ujar Gubernur Jawa Tengah tersebut, dilansir dari detik.com.

 

Referensi:

Adyatama, E. (2021, Mei 1). Tim Advokasi Sebut 300-an Peserta Aksi May Day Ditangkap, Mayoritas Mahasiswa. Diakses dari tempo.co: https://nasional.tempo.co/read/1458381/tim-advokasi-sebut-300-an-peserta-aksi-may-day-ditangkap-mayoritas-mahasiswa

Firhannusa, A. (2021, Mei 1). May Day, Buruh di Kota Semarang Divaksin Gratis dan Diberi Sembako. Diakses dari ayosemarang.com: https://www.ayosemarang.com/read/2021/05/01/76317/may-day-buruh-di-kota-semarang-divaksin-gratis-dan-diberi-sembako

Fitriani, E. D. (2021, Mei 2). Buruh di Semarang Terima Vaksin-Paket Sembako di Peringatan Hari Buruh. Diakses dari detik.com: https://news.detik.com/berita/d-5554374/buruh-di-semarang-terima-vaksin-paket-sembako-di-peringatan-hari-buruh

Nazzala, A. R. (2021, Mei 1). Peringatan Hari Buruh di Semarang Diwarnai Benturan. Diakses dari semarangbisnis.com: https://semarang.bisnis.com/read/20210501/535/1389003/peringatan-hari-buruh-di-semarang-diwarnai-benturan

Serat.id. (2021, Mei 1). May Day 2021, Ini Catatan Kelam Kondisi Pekerja Media di Kota Semarang. Diakses dari serat.id: https://serat.id/2021/05/01/may-day-2021-ini-catatan-kelam-kondisi-pekerja-media-di-kota-semarang/

 

Reporter: Siti Latifatu S

Penulis: Siti Latifatu S

Editor: Aslamatur Rizqiyah, Fidya Azahro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *