Patung Diponegoro Ditutup Kain Hitam: Soroti Pudarnya Semangat Perlawanan Mahasiswa

Proses penutupan Patung Kuda Pangeran Diponegoro menggunakan kain hitam di gapura utama kawasan Undip Tembalang pada Kamis (11/6/2026). (Sumber: Manunggal)

Warta Utama — Aliansi Mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) menggelar aksi simbolik dengan menutup Patung Kuda Pangeran Diponegoro menggunakan kain hitam di gapura utama kawasan Undip Tembalang, Jalan Ngesrep Timur V, Kelurahan Sumurboto, Kecamatan Tembalang pada Kamis (11/6/2026). Aksi tersebut dilakukan sebagai  bentuk kekecewaan dan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat sekaligus ajakan untuk membangkitkan kembali semangat perlawanan mahasiswa.

Aksi simbolik tersebut berlangsung pada sore hari di salah satu ruas jalan yang ramai dilalui oleh masyarakat dan mahasiswa. Selain menutup patung dengan kain hitam, massa aksi juga membentangkan spanduk di sekitar lokasi sebagai media penyampaian pesan kepada masyarakat yang tengah melintas. Melalui aksi simbolik tersebut, mahasiswa berupaya menyampaikan keresahan mereka terhadap kondisi negara sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap berbagai persoalan yang terjadi saat ini.

Spanduk bertuliskan “Diponegoro Melawan” yang dibentangkan di dinding pinggir jalan kawasan lampu lalu lintas Patung Kuda Pangeran Diponegoro, Jalan Ngesrep Timur V, Kelurahan Sumurboto, Kecamatan Tembalang pada Kamis (11/6/2026). (Sumber: Manunggal)

Salah satu peserta aksi, Rave (nama samaran), mengatakan bahwa penutupan Patung Diponegoro merupakan simbol hilangnya semangat perlawanan yang selama ini melekat pada nama besar Universitas Diponegoro. Menurutnya, aksi tersebut lahir dari keresahan mahasiswa terhadap menurunnya kesadaran dan semangat pergerakan lingkungan kampus.

“Kita melihat bahwasanya iklim pergerakan dan kesadaran mahasiswa di Undip sudah tidak ada. Nah, arti dari kita tutup Patung Diponegoro ini biar menandakan bahwa semangat Diponegoro kita telah hilang. Dan ini juga menjadi bentuk refleksi kita bersama,” ujarnya.

Rave juga menjelaskan bahwa ditutupnya  Patung Diponegoro dengan menggunakan kain hitam merupakan cara mahasiswa untuk menunjukkan kemarahan dan kekecewaan mereka terhadap situasi Indonesia saat ini. Selain itu, keberadaan patung di kawasan Tembalang yang ramai dilalui masyarakat juga dinilai dapat menjadi pusat perhatian publik sekaligus sarana untuk menyampaikan keresahan mahasiswa kepada masyarakat luas.

“Kita menyampaikan kekecewaan dengan menutup Patung Diponegoro, patung yang terletak di tengah-tengah Tembalang. Ini bisa menjadi pusat perhatian masyarakat juga, bisa memperlihatkan bahwa kita kecewa, kita marah sama bangsa Indonesia,” kata Rave.

Proses penutupan Patung Kuda Pangeran Diponegoro menggunakan kain hitam di gapura utama kawasan Undip Tembalang pada Kamis (11/6/2026). (Sumber: Manunggal)

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Sosial Politik (Sospol) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Vokasi (SV) Undip, Khaira Adzkia, mengatakan bahwa mahasiswa ingin agar isu yang mereka angkat tidak hanya sebatas diketahui oleh civitas academica saja, tetapi juga oleh elemen masyarakat lain, seperti pekerja, pelajar, maupun pengguna jalan yang melintas di kawasan tersebut.

“Kalau melihat dari aksi simbolik sebelumnya, kita kan biasanya di Widya Puraya, di fakultas masing-masing. Nah kali ini, kita BEM se-Undip pengen masyarakat juga tahu kalau Indonesia ini sedang genting. Dan ini salah satu bagian dari propaganda media juga,” terang Khaira.

Sejalan dengan pandangan Rave, Khaira juga menjelaskan bahwa penutupan Patung Diponegoro merupakan upaya untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan yang diwariskan oleh Pangeran Diponegoro. Menurutnya, semangat Diponegoro seharusnya tidak hanya hadir sebagai simbol berupa  patung, melainkan juga tertanam dalam diri setiap mahasiswa Undip.

“Bagaimana Pangeran Diponegoro itu berjuang di masa lampau, kita pengen menghidupkan lagi. Kami mengharapkan bahwa Pangeran Diponegoro ini muncul dalam hati masing-masing mahasiswa supaya menjadi pejuang yang berani untuk melawan,” ungkap Khaira.

Sejumlah mahasiswa Undip berfoto di depan Patung Kuda Pangeran Diponegoro yang sudah ditutupi kain hitam sambil membawa spanduk bertuliskan “Diponegoro Melawan” pada Kamis (11/6/2026). (Sumber: Manunggal)

Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan keprihatinan terhadap kondisi bangsa yang dinilai semakin jauh dari prinsip keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Mereka menyoroti berbagai persoalan nasional yang dianggap berdampak langsung terhadap kehidupan publik, mulai dari memburuknya kondisi ekonomi yang ditandai dengan kenaikan harga kebutuhan sehari-hari hingga berbagai kebijakan dan regulasi yang dinilai berpotensi memengaruhi ruang sipil serta memperluas kewenangan aparat negara. Berbagai isu tersebut menjadi bagian dari keresahan yang mendorong pelaksanaan aksi simbolik di kawasan Patung Diponegoro.

Mahasiswa juga menegaskan bahwa sosok Pangeran Diponegoro tidak seharusnya hanya dipandang sebagai simbol yang diwujudkan melalui nama kampus atau patung semata. Penutupan Patung Diponegoro dengan kain hitam disebut sebagai simbol bahwa nilai-nilai perjuangan Diponegoro harus hidup dalam diri mahasiswa dan diwujudkan melalui keterlibatan dalam berbagai gerakan yang memperjuangkan kepentingan masyarakat. Di akhir aksi, mahasiswa mengajak sivitas akademika Universitas Diponegoro untuk lebih aktif mengambil peran dalam menyikapi berbagai persoalan sosial dan politik yang terjadi. Mereka berharap semangat perjuangan dan perlawanan yang diwariskan Pangeran Diponegoro dapat terus dilanjutkan melalui sikap kritis, keberanian untuk bersikap, serta keterlibatan mahasiswa dalam mengawal berbagai kebijakan yang berdampak pada kehidupan masyarakat.

“Kami mengharapkan bahwa mahasiswa tidak hanya diam, karena menurut kami pun diam tidak akan melindungi kita. Kita harus tetap bergerak,” tegas Khaira.

 

Reporter: Salwa Hunafa, Alya Nabilah

Penulis: Alya Nabilah

Editor: Salsa Puspita, Andaru Surya

Scroll to Top