
Warta Utama – Aksi Kamisan Semarang kembali digelar di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah (Jateng) pada Kamis (11/6/2026), sekitar pukul 16.30 Waktu Indonesia Barat (WIB). Aksi Kamisan yang dihadiri beberapa masyarakat Kota Semarang tersebut mengusung tajuk “Jateng Bersatu! Wayaheee!” yang sekaligus merupakan seruan kepada masyarakat untuk berpartisipasi. Peserta menunjukkan beberapa spanduk dengan berbagai tulisan, antara lain: “AKSI KAMISAN, JANGAN DIAM, JANGAN DIAM, LAWAN”, “JAWA TENGAH WES MUMET”, “KLAKSON JIKA MUAK DENGAN PEMERINTAH”, dan lainnya.
Salah seorang peserta dari Aksi Kamisan Semarang, Amin Muktafa menjelaskan bahwa Aksi Kamisan tersebut dilaksanakan sebagai bentuk akumulasi dari berbagai permasalahan yang terjadi di Indonesia kini. Beberapa hal yang disoroti yakni menyoal Makan Bergizi Gratis (MBG), turunnya nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), Undang-undang (UU) Kepolisian Republik Indonesia (Polri), dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) Pertamax.
“Tapi ruang lingkupnya kita lebih fokus pada soal isu-isu pelanggaran yang dilakukan oleh negara gitu ya terutama soal kebijakan-kebijakan tersebut gitu ya,” kata Amin saat diwawancarai oleh Awak Manunggal pada Kamis (11/6/2026).
Selain itu, Amin menyampaikan bahwa perubahan UU Polri dapat mengancam kebebasan berpendapat ketika menyampaikan kritik terhadap pemerintah.
“Kita perlu mewaspadai bagaimana sistem demokrasi hari ini ya semakin melemah dengan adanya UU Polri tersebut gitu ya, terutama adalah soal kebebasan masyarakat sipil untuk menyampaikan haknya,” jelas Amin.
Amin turut menjelaskan bahwa UU Polri dapat memunculkan abuse of power atau kekuasaan Polri untuk melakukan kesewenang-wenangan terhadap masyarakat sipil yang mengkritik pemerintah.
“Nah, itu kan yang menjadi persoalan gitu ya kapan pun di mana pun kawan-kawan kalau menyampaikan suara pun ya bisa untuk dikriminalisasi gitu, bisa untuk ditahan,” lanjut Amin.
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Mahasiswa (KM) Universitas Negeri Semarang (Unnes) sekaligus peserta Aksi Kamisan Semarang, Septia Linasari turut menanggapi persoalan kenaikan BBM Pertamax sebagai salah satu tuntutan yang dibawakan pada Aksi Kamisan kali ini.
“Apalagi BBM mulai naik hari ini, hari ini Pertamax menjadi 16 ribu, tidak menutup kemungkinan nanti Pertalite ketika memang persediaannya sudah mulai menipis, juga akan terus naik juga,” ucap Septia saat diwawancarai oleh Awak Manunggal pada Kamis (11/6/2026).
Septia pun menambahkan bahwa akan banyak pihak yang terdampak akibat kenaikan harga BBM Pertamax nantinya, sehingga hal tersebut perlu disuarakan.
“Nanti teman-teman ojek online (ojol) pasti juga akan merasakan, istilahnya dampaknya. Kurir, teman-teman mahasiswa, teman-teman masyarakat, berbagai elemen pasti nanti akan merasakan dampaknya,” tambah Septia.
Selama aksi berlangsung, salah satu hal unik yang dilakukan adalah peserta aksi membawa spanduk bertuliskan “KLAKSON JIKA MUAK DENGAN PEMERINTAH”. Spanduk tersebut diperlihatkan ke arah jalanan untuk mengundang pengendara agar membunyikan klakson guna menunjukkan bentuk kekecewaan terhadap pemerintah Indonesia. Aksi tersebut pun berhasil membuat banyak pengendara antusias membunyikan klakson dan memperlihatkan dukungan terhadap aksi yang tengah dilakukan.
“Ya ini menjadi salah satu agitasi teman-teman ya untuk bagaimana ya respons ini, gerakan kecil ini, lewat klakson-klakson yang dibunyikan oleh warga, ya itu adalah salah satu simbol tanda bahaya gitu,” ujar Amin.
Amin berharap Aksi Kamisan kali ini dapat memunculkan gerakan-gerakan lainnya, seperti aksi dan diskusi untuk merawat Aksi Kamisan itu sendiri sebagai tanggapan mengenai persoalan ekonomi, sosial, dan politik di Indonesia per hari ini.
“Untuk merawat gerakan ini memang melihat satu situasi yang kemudian kita pantik dalam diskusi, kita pantik dengan satu aksi-aksi kecil ini gitu ya, membuat satu gerakan atau merawat gerakan ini,” tutur Amin.
Reporter: Alya Nabilah, Salwa Hunafa
Penulis: Salwa Hunafa
Editor: Salsa Puspita, Andaru Surya