Panggung Hitam: Kenang Aktivis Lewat Seni

Dokumentasi Panggung Hitam untuk Mengenang Duka yang Menyelimuti Bulan September

 di Indonesia (Sumber: Manunggal)

 

Warta Utama – Bidang Sosial Politik (Sospol) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Diponegoro (Undip) menggelar acara bertajuk “Panggung Hitam” dengan membalut duka September Hitam dalam berbagai pagelaran seni di pelataran Jogging Track Undip, Jumat (29/9).

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan, dituduh subversif dan mengganggu keamanan. Maka hanya ada satu kata: LAWAN! – Wiji Thukul.

Acara tahunan ini ditujukan guna mengenang para korban penyintas HAM yang masih belum mendapat keadilan hingga saat ini.

Jogging Track disulap menjadi tempat berduka dengan memasang selebaran kertas mengenai aktivis yang dihilangkan pada tiap pohon. Sepanjang jalan setapak ditaburi bebungaan makam untuk simbolisasi doa bagi korban yang dibunuh. Mulai dari Munir yang diracun di udara, kisah pilu Marsinah, pembunuhan Salim Kancil, dan masih banyak lagi. 

Acara ini membalut kesedihan bulan September dengan seni. Hal tersebut dapat dilihat dari lukisan-lukisan yang terpampang di tiap sudut Jogging Track serta rangkaian penampilan yang juga mengindikasikan kekecewaan terhadap pemerintah mengenai masih hablurnya kejelasan untuk korban penyintas HAM di Indonesia. 

Panggung Hitam disemarakkan oleh penampilan dari Deadnamics Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB), Wadah Musik Sastra Fakultas Ilmu Budaya (FIB), dan Home Band Fakultas Teknik Pembangunan Wilayah dan Kota (PWK). 

Lagu-lagu yang dibawakan musisi berbakat Undip ini menyuarakan tentang pergerakan yang masih harus disuarakan dan dibawa ke jalan untuk mencapai kemerdekaan. Misalnya Di Udara – Efek Rumah Kaca, Sebelah Mata – Efek Rumah Kaca, dan Guru Oemar Bakri – Iwan Fals.

Pertunjukkan dari Teater Themis Fakultas Hukum (FH) juga membakar semangat penonton. Pementasan tersebut menceritakan tentang buruh yang menderita dan tuan yang kejam, dimana para buruh memiliki keinginan untuk merdeka. Teater musikal yang dibawakan oleh Studio8 Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) juga meneriakkan senandung puisi tentang kekejaman pemberantasan HAM.

Tidak lupa dihadirkan penampilan monolog dan puisi yang membahas hilangnya keadilan di Indonesia, mengingat masih banyak kasus pembunuhan yang belum menemui titik terang. Kacamata masyarakat diangkat jelas mengenai kekecewaan yang dibalut rangkaian kata kepada penguasa di negeri ini.

“Kami menginisiasi panggung hitam sebagai wadah aksi berupa pertunjukkan seni yang tujuannya adalah meningkatkan awareness kepada mahasiswa Undip untuk merevitalisasi pergerakan di Undip,” terang Nabilla Zifni Syafira selaku Ketua Pelaksana Panggung Hitam (Jumat, 29/9).

Panitia juga menyediakan Wall of Sheet yang bebas diisi oleh pengunjung. Kata-kata yang disalurkan melalui dinding putih itu adalah harapan seluruh rakyat Indonesia untuk keadilan. Acara yang berlangsung selama empat jam itu ditutup oleh doa bersama untuk mendiang pahlawan yang telah gugur atas nama mencari kebenaran. 

Panggung Hitam, sekali lagi, dibuat untuk mengenang para aktivis yang haknya dirampas oleh kejamnya pemerintahan kala itu. Untuk menyuarakan hak yang dibunuh sedemikian rupa. September Hitam berhasil disemarakkan lagi oleh Panggung Hitam. 

 

Reporter: Adira Khania

Penulis: Adira Khania

Editor: Fahrina Alya, Arbenaya Chandra

Scroll to Top